TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin undang-undang dasar (UUD) di negaranya dihapus atau tak lagi diberlakukan.
Hal itu disampaikan Trump dalam upayanya untuk mengubah hasil Pilpres 2020. Hingga kini Trump masih enggan mengaku kalah. Dia bahkan menyebarkan teori konspirasi seputar pilpres.
"Apa kalian membuang hasil Pilpres 2020 dan mengumumkan sang pemenang yang sah, atau apa kalian ingin PILPRES BARU? Kecurangan besar dengan ukuran dan jenis ini memungkinkan penghentian berlakunya semua aturan, undang-undang, pasal, dan yang ditemukan di dalam Konstitusi," tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social, dikutip dari CNN International, (5/12/2022).
Dia juga menuding "Perusahaan Besar" bekerja sama dengan Partai Demokrat. "Pendiri negara kita yang agung tidak ingin, dan tidak memaafkan pilpres yang palsu dan tipu-tipu!"
Baca: Trump Kembali Digugat oleh Penulis yang Diduga Diperkosanya
Juru bicara Gedung Putih, Andrew Bates, pada hari Sabtu mengecam Trump. Menurutnya, ucapan Trump itu adalah "kutukan bagi jiwa bangsa".
"Kalian tak bisa mencintai Amerika hanya jika kalian menang," kata Bates dalam pernyataannya.
"Konstitusi Amerika adalah dokumen sakral yang selama lebih dari 200 tahun telah menjamin kemerdekaan dan supremasi hukum di negara kita yang besar. Konstitusi itu menyatukan rakyat Amerika, terlepas dari golongannya, dan pemimpin terpilih bersumpah akan mematuhinya. Itu adalah monumen tertinggi bagi seluruh rakyat Amerika yang memberikan hidup mereka untuk mengalahkan tiran yang mementingkan diri sendiri dan menyalahgunakan kekuasaan mereka menginjak hak asasi."
Baca: Akun Twitternya Dipulihkan, Trump Dapat 25 Juta Follower dalam Semalam
Liz Cheney, anggota DPR dari Partai Republik dan mewakili daerah Wyoming, turut mengecam ucapan Trump.
"Tak ada orang jujur yang membantah bahwa Trump adalah musuh konstitusi," kata dia melalui Twitter.
Cheney berusaha menjauhkan Partai Republik dari pengaruh Trump. Dia juga menjadi anggota komite yang menyelidiki kasus penyerbuan pendukung Trump ke Gedung DPR AS tanggal 6 Januari 2021 silam.
Trump sudah mengumumkan akan maju kembali pada Pilpres 2024. Sebagian besar orang juga masih menganggap Trump sebagai pemimpin Partai Republik. Namun, anggota partai berharap Trump berhenti menyangkal kekalahannya pada Pilpres 2020.
Dalam wawancara bulan September lalu, Trump mengaku memberikan bantuan keuangan kepada beberapa terdakwa kasus penyerbuan Gedung DPR. Kata Trump, jika dia kembali terpilih, pemerintah AS akan mengampuni tindakan mereka.
Baca: Maju Lagi Jadi Capres, Trump Ganti Slogan Kampanyenya Jadi MAGAGA
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Donald Trump di sini.