Lebih dari 1.200 Warga Rusia Ditangkap karena Memprotes Mobilisasi

Banyak warga Rusia menolak kebijakan mobilisasi untuk kepentingan perang di Ukraina.


zoom-inlihat foto
kebijakan-mobilisasi.jpg
OLGA MALTSEVA / AFP
Polisi menahan para pengunjuk rasa yang memprotes kebijakan mobilisasi, Saint Petersburg, Rusia, (21/9/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Lebih dari 1.200 warga Rusia ditahan karena memprotes kebijakan mobilisasi yang dikeluarkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, (21/9/2022).

Hal ini disampaikan oleh OVD-Info, sebuah organisasi hak asasi manusia (HAM) yang memantau aktivitas kepolisian.

Di Moskwa para pengunjuk rasa berkumpul di jalanan dan meminta Putin "dikirim ke parit pertahanan".

Sementara itu, di Kota Tomsk, polisi membawa seorang wanita yang melancarkan aksi protes sambil membawa papan bertuliskan "Peluk saya jika Anda juga takut".

Adapun di Kota Novosibirsk, seorang pria ditahan polisi setelah berkata, "Saya tidak ingin mati demi Putin dan Anda," kepada polisi.

Warga Rusia nekat menggelar protes meski ada peringatan dari pemerintah bahwa protes yang tidak berizin merupakan tindakan kriminal. Para pengunjuk rasa bisa dipenjara hingga 15 tahun jika dianggap menyebarkan informasi bohong tentang militer Rusia.

Baca: Putin Akhirnya Perintahkan Mobilisasi, Pertama sejak Perang Dunia II

Dikutip dari The New York Times, Aleksei A. Navalny yang menjadi tokoh oposisi juga menyerukan adanya protes menentang mobilisasi.

Dia sempat menerbitkan hasil jajak pendapat yang dilakukan untuk mengetahui apakah warga Rusia menyetujui mobilisasi. Hasilnya, hampir setengah responden menolak mobilisasi.

Baca: TV Rusia Sebut Pemakaman Ratu Jadi Waktu yang Tepat untuk Menuklir Inggris

Dengan kebijakan "mobilisasi sebagian", Rusia bisa mengumpulkan sekitar 300.000 tentara cadangan yang bisa dikirim ke Ukraina.

Di Rusia, hampir semua pria dengan usia militer dianggap sebagai tentara cadangan. Wajib militer juga diharuskan bagi mereka yang berumur 18 hingga 27 tahun.

Kendati demikian, Menteri Pertahanan Rusia Sergei K. Shoidu mengatakan hanya mereka punya pengalaman militerlah yang bisa dikerahkan.

Kendaraan lapis baja milik tentara Rusia terbakar Kota Izium, Kharkiv, Ukraina timur, (14/19/2022).
Kendaraan lapis baja milik tentara Rusia terbakar Kota Izium, Kharkiv, Ukraina timur, (14/19/2022). (JUAN BARRETO / AFP)

Sebuah petisi untuk menentang "mobilisasi penuh dan sebagain" telah ditandatangani oleh lebih dari 300.000 warga Rusia pada hari Rabu sore.

"Saya pikir orang-orang terkejut, mereka tidak percaya bahwa akan ada pengumuman mobilisasi," kata Anastasia, 36, salah satu warga Rusia yang menggelar petisi itu.

"Bahkan, kemarin kami berpikir bahwa mobilisasi tidak akan terjadi," kata dia. "Namun, pada hari ini sepertinya orang-orang masih terkejut karena itu terjadi. Ini juga membuat saya khawatir."

Baca: Kalah di Ukraina Timur, Pasukan Rusia Dilaporkan Merekrut 10.000 Narapidana

Mobilisasi juga dianggap meningkatkan risiko dalam politik-dalam-negeri Rusia.

"Mobilisasi meningkatkan risiko, tidak hanya dalam perang, dan tidak hanya dalam hubungan internasional, mobilisasi meningkatkan risiko dalam politik-dalam-negeri," kata Ivan Kurilla, profesor bidang sejarah dan hubungan internasional di Universitas Eropa, St. Petersburg.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Rusia di sini

 











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved