Protes Antimobilisasi di Rusia Berlanjut, Ratusan Orang Ditangkap

Dilaporkan ada ratusan orang di puluhan kota di Rusia yang ditangkap gara-gara aksi unjuk rasa antimobilisasi.


zoom-inlihat foto
kebijakan-mobilisasi.jpg
OLGA MALTSEVA / AFP
Polisi menahan para pengunjuk rasa yang memprotes kebijakan mobilisasi, Saint Petersburg, Rusia, (21/9/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Aksi unjuk rasa menentang kebijakan mobilisasi di Rusia masih berlanjut.

Terbaru, dilaporkan ada ratusan orang di puluhan kota di Rusia yang ditangkap gara-gara aksi ini.

Salah satunya adalah seorang remaja perempuan berusia 14 tahun yang ditangkap ketika berunjuk rasa di St. Petersburg. Di sana polisi turut membawa stun gun atau senjata kejut.

Sementara itu, di Moskwa suara jeritan terdengar setelah seorang wanita ditangkap dan dimasukkan ke dalam kendaraan pengangkut narapidana.

Menurut organisasi HAM bernama OVD Info, ada lebih dari 700 orang yang ditahan pada hari Sabtu lalu, (24/9/2022). Beberapa hari sebelumnya polisi juga sudah menahahn ratusan pengunjuk rasa.

Sejumlah warga Rusia memutuskan kabur dari negaranya demi menghindari mobilisasi. Di perbatasan selatan, terjadi kemacetan hingga 6 mil.

Yang lainnya berusaha melarikan diri dengan menggunakan pesawat. Gara-gara hal ini, tiket pesawat ludes terjual dan harganya melambung. Negara-negara seperti Turki, Armenia, Azerbaijan, dan Serbia jadi negara tujuan warga Rusia karena mereka tidak memerlukan visa di sana.

Baca: Di Bar Ini, Warga Rusia yang Lari dari Mobilisasi Harus Tanda Tangani Formulir Anti-Putin

Seorang pebisnis Rusia mengaku lari ke Istanbul, Turki. "Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan santai, dia (Putin) adalah penjahat perang," kata pebisnis itu di Bandara Internasional Istanbul kepada Associated Press, dikutip dari News Sky.

Baca: Hindari Mobilisasi, Beberapa Warga Rusia Pilih Kabur ke Luar Negeri

Banyak pula yang pindah ke luar negeri dengan visa wisata, tetapi mengaku tidak ingin kembali ke Rusia.

Di antara mereka ada Slava (29) dan Evgeny (35), sepasang suami istri yang pergi karena khawatir mereka bakal dikirim ke Ukraina.

"Pada saat ini kami tidak diminta [bertempur], tetapi kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok," kata Slava.

"Kami tidak mendukung apa yang terjadi saat ini. Kami tidak ingin menjadi bagian dari hal itu."

Unjuk rasa dan aksi kabur itu muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kebijakan mobilisasi sebagian. Dengan kebijakan ini, Rusia bisa mengerahkan 300.000 tentara cadangan.

Baca: Lebih dari 1.200 Warga Rusia Ditangkap karena Memprotes Mobilisasi

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) melihat kapal-kapal armada Rusia di Laut Hitam ketika berkunjung ke Sevastopol di Krimea, (9/5/2014)
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) melihat kapal-kapal armada Rusia di Laut Hitam ketika berkunjung ke Sevastopol di Krimea, (9/5/2014) (ALEXEY DRUZHININ / RIA-NOVOSTI / AFP)

Pemerintah mengancam akan menahan orang-orang yang mengikuti unjuk rasa antipemerintah. Namun, hal itu tak mencegah warga Rusia menggelar protes antimobilisasi.

Aksi protes itu di antaranya terjadi di Moskow, St. Petersburg, Tomsk, Tver, Khabarovsk, Chita, Omsk, Ulan-Ude, Barnaul, Tekaterinburg, Irkutsk, Novosibirsk, Perm, Saratov, dan Pskov.

Di Omsk, Siberia, foto yang dirilis oleh kantor berita Reuters memperlihatkan beberapa orang yang dikenai wajib militer.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Rusia di sini

 

 







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved