Sri Mulyani Sebut Ada 3 Pilihan Soal Kebijakan Harga BBM Subsidi, Menkeu: Tiga-tiganya Enggak Enak

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebut ada tiga pilihan yang tidak enak soal kebijakan harga BBM subsidi


zoom-inlihat foto
Menteri-Keuangan-subsidi-KOMPAScomYOHANA-ARTHA-ULY.jpg
KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ungkap pemerintah punya tiga pilihan terkait persoalan BBM subsidi.


Hingga saat ini, lanjut Sri Mulyani, masih dalam penghitungan dan belum mencapai keputusan akhir.

"Jadi apapun keputusan, nanti pasti akan disampaikan di dalam rapat. Para menteri sekarang semuanya saling berkoordinasi," tuturnya.

Luhut Ungkap Rencana Kenaikan Harga Pertalite dan Solar Subsidi

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan mengenai rencana kenaikan harga Pertalite dan Solar subsidi.

Luhut mengatakan, pemerintah menyusun skema penyesuaian harga untuk mengurangi beban subsidi dan kompensasi energi.

“Pemerintah masih menghitung beberapa skenario penyesuaian subsidi dan kompensasi energi dengan memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat,” ujarnnya dalam keterangan resmi, Minggu (21/8/2022), dikutip dari Kompas.com.
Ada beberapa pertimbangan yang membuat pemerintah merencanakan kenaikan harga BBM subsidi, Pertalite dan Solar subsidi.

Tingginya harga minyak mentah dunia mendorong meningkatnya gap harga keekonomian dan harga jual pertalite atau solar, kemudian berdampak pada kenaikan subsidi serta kompensasi energi.

Hingga kini, APBN menanggung subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp 502 triliun.

Tanpa ada penyesuaian kebijakan, angka ini bisa meningkat hingga lebih dari Rp 550 triliun pada akhir tahun.

Namun, Luhut tak menyebut berapa besaran kenaikan harga Pertalite yang akan ditetapkan.

“Tapi untuk diketahui, harga BBM di Indonesia relatif lebih murah dibanding mayoritas negara di dunia. Langkah yang disimulasikan termasuk skenario pembatasan volume,” jelas Luhut.

Petugas melayani pembeli Pertalite di SPBU Abdul Muis, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2015). PT Pertamina (Persero) mulai menjual Pertalite dengan oktan 90 kepada konsumen dengan harga Rp.8400 perliter.
Petugas melayani pembeli Pertalite di SPBU Abdul Muis, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2015). PT Pertamina (Persero) mulai menjual Pertalite dengan oktan 90 kepada konsumen dengan harga Rp.8400 perliter. (KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO)

“Pemerintah akan terus mendorong penggunaan aplikasi MyPertamina untuk mendapatkan data yang akurat sebelum pembatasan diterapkan," sambungnya.

Yang jelas, perubahan kebijakan subsidi dan kompensasi energi nantinya perlu mempertimbangkan beberapa faktor seperti tingkat inflasi, kondisi fiskal, dan juga pemulihan ekonomi.

Pemerintah akan memperhitungkan rencana ini dengan sangat berhati-hati demi menjaga stabilitas negara di tengah ketidakpastian global.

“Anggaran subsidi dan kompensasi energi nantinya dapat dialihkan untuk sektor lain yang lebih membutuhkan dan masyarakat yang kurang mampu mendapat program kompensasi,” lanjut Luhut.

Pemerintah juga akan melakukan langkah-langkah lain seperti percepatan B40 dan adopsi kendaraan listrik.

“Yang perlu diingat, keputusan akhir tetap di tangan Presiden. Namun langkah awal yang perlu dilakukan adalah memastikan pasokan Pertamina untuk Pertalite dan Solar tetap lancar distribusinya," pungkasnya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Putradi Pamungkas/Ka)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved