Di dalam kartu itu ada grafik yang menjadi tolok ukur apakah anak itu masuk dalam kategori stunting atau tidak.
Para kader kesehatan di Posyandu tersebut diajari bagaimana cara mengukur dan membaca grafiknya.
Baca: Video Viral Anggota TNI Pecahkan Kaca Mobil untuk Selamatkan Balita, Ternyata Putrinya Sendiri
Baca: Pakar AS Sarankan Balita Berumur 6 Bulan atau Lebih Divaksin Covid-19
Menurut Irdawati, pendeteksian stunting itu tidak bisa dilakukan hanya sekali saja.
Pengukuran tinggi badan anak (balita) harus dilakukan secara rutin setiap bulannya.
"Sehingga nantinya akan diketahui tinggi badan udah sesuai atau belum".
"Jika belum sesuai maka bisa diberikan stimulus atau rangsangan kepada anak, sekaligus edukasi kepada orang tua," ujarnya.
Selanjutnya, kata Irdawati, Orang tua diberikan edukasi agar memberikan gizi yang sesuai kebutuhan sehingga kejadian stunting bisa dihindari.
Dia menambahkan, setelah selesai pelatihan, mereka para kader kesehatan tidak dibiarkan begitu saja.
"Kami dari FIK UMS tetap memberikan peninjauan ke lokasi untuk melihat perkembangan para kader kesehatan dalam bertugas," sambungnya.
"Peninjauan itu akan dilaksanakan pada pertengahan Juli 2022," tandasnya.
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)
Baca informasi lain seputar stunting di sini