Guru Besar UGM Sigit Riyanto Sebut Sikap Kapolri Secara Tak Langsung Akui TWK KPK Kurang Relevan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ingin merekrut 56 pegawai KPK yang tak lolos TWK untuk bergabung ke Bareskrim


zoom-inlihat foto
kapolri-Jenderal-Polisi-Listyo-Sigit-Prabowo-2912021.jpg
Tribunnews/Jeprima
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ingin merekrut 56 pegawai KPK yang tak lolos seleksi TWK untuk bergabung ke Bareskrim Polri


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sikap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang ingin merekrut 56 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) membuat sejumlah tokoh turut angkat bicara.

Menurut Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), langkah yang diambil Kapolri itu secara tak langsung mengakui seleksi TWK di lembaga KPK itu tidak relevan.

“Artinya Kapolri mengakui TWK yang dilakukan oleh KPK tidak relevan dan tidak layak dijadikan pertimbangan atau syarat untuk alih status,” kata Sigit, dikutip dari Tribunnews.

Sigit juga pernah mengungkapkan bahwa seleksi TWK di KPK kurang adil dan tidak kredibel, serta terdapat kejanggalan dalam pelaksanaannya.

Segala kejanggalan itu telah ia konfirmasi ke Ombudsman RI dan Komnas HAM.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat menggelar konferensi pers seudai melakukan pertemuan di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/1/2021). Dalam kunjungannya Kapolri kali ini merupakan bentuk silaturahmi antara Polri dengan ormas-ormas islam yang ada dan mampu bersinergi untuk sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat menggelar konferensi pers seudai melakukan pertemuan di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/1/2021). Dalam kunjungannya Kapolri kali ini merupakan bentuk silaturahmi antara Polri dengan ormas-ormas islam yang ada dan mampu bersinergi untuk sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. (Tribunnews/Jeprima)

Baca: Listyo Sigit Prabowo

Baca: Giri Suprapdiono Tanggapi Keinginan Kapolri Rekrut 56 Pegawai KPK yang Tak Lolos Seleksi TWK

“Dan telah dikonfirmasi oleh Lembaga Negara yakni Komnas HAM dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI),” jelasnya.

Di sisi lain, Ray Rangkuti selaku pengamat politik dan Direktur Lingkar Madani Indonesia mengaku terkejut atas langkah yang diambil Listyo Sigit.

Apalagi keinginan Kapolri itu mendapat lampu hijau dari Presiden Joko Widodo.

Ray Rangkuti menilai sikap Listyo kali ini semakin memperkuat temuan Komnas HAM, Ombudsman RI, dan protes masyarakat yang menganggap seleksi TWK di KPK bersifat subjektif.

"Alih-alih objektif, pelaksanaan itu seperti dipaksakan, dan dibuat dengan dasar aturan yang lemah," jelas Ray Rangkuti, dilansir oleh Tribunnews, Rabu (29/9/2021).

Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti (kedua kiri) didampingi Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto (kiri), Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jerry Sumampouw (kedua kanan), dan Manager Advokasi dan Investigasi FITRA Apung Widadi (kanan) memberi keterangan kepada media mengenai kritik rencana Perpu calon tunggal Pilkada serentak di Jakarta, Senin (3/8/2015). Dalam konpers tersebut berbicara fenomena calon tunggal dalam pilkada serentak 2015 ini merupakan kesengajaan dan langkah tersebut dilakukan sebagai strategi untuk melemahkan calon yang kuat, jika pilkada mengalami pemunduran. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti (kedua kiri) didampingi Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto (kiri), Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jerry Sumampouw (kedua kanan), dan Manager Advokasi dan Investigasi FITRA Apung Widadi (kanan) memberi keterangan kepada media mengenai kritik rencana Perpu calon tunggal Pilkada serentak di Jakarta, Senin (3/8/2015). Dalam konpers tersebut berbicara fenomena calon tunggal dalam pilkada serentak 2015 ini merupakan kesengajaan dan langkah tersebut dilakukan sebagai strategi untuk melemahkan calon yang kuat, jika pilkada mengalami pemunduran. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Baca: KPK Bantah Tawari Pegawai TMS yang Gagal Asesmen TWK untuk Kerja di BUMN

Baca: KPK Diminta Fokus Bekerja Atasi Korupsi dan Abaikan Kasus Pegawai yang Tak Lulus TWK

"Inilah pokok sebab dari banyak protes masyarakat itu, bagaimana KPK memberlakukan staf yang sudah membuktikan darmanya bagi negeri ini malah berujung dinilai tidak memiliki wawasan kebangsaan," sambungnya.

Ia menilai perekrutan 56 pegawai yang tak lolos TWK di KPK untuk bergabung ke Bareskrim merupakan langkah yang sangat telat.

Lantaran, pegawai nonaktif tersebut berintegritas dan ahli dalam menangani kasus korupsi.

"Tidak mudah menciptakan aparatur negara dengan integritas moral tinggi seperti mereka justru berkubang di pusaran permainan uang dan kuasa."

"Maka keberadaan mereka di lingkaran penegakan hukum bagi koruptor adalah tepat," imbuh Ray.

"Keahlian dan integritas mereka yang tinggi akan jauh lebih optimal jika ditempatkan di KPK sehingga tujuan kita mencegah korupsi dan memburu koruptor akan lebih berdaya," pungkasnya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUAN)

Baca lengkap soal KPK di sini

 





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Pokun Roxy (2013)

    Pokun Roxy adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved