Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Letnan Kolonel Untung merupakan komandan Batalyon I pasukan Cakrabirawa yang memimpin operasi G30S/PKI.
Untung merupakan pemuda asal Jawa Tengah.
Ia lahir di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen pada 3 Juli 1926.
Dirinya merupakan putra dari Abdullah.
Abdullah ini bekerja di toko peralatan batik di Pasar Kliwon, Solo.
Namun, sejak kecil Untung sudah diangkat anak oleh pamannya, Syamsuri.
Sehingga ia dikenal juga dengan Untung Syamsuri. (1)
Baca: Musso
Pendidikan #
Pendidikan dasarnya, Untung tempuh di Sekolah Rakyat (SR) di Seruni di Desa Bojongsari Kecamatan Alian, di Kebumen Jawa Tengah.
Ia belajar di kelas hanya sampai tiga.
Ketika usianya mencapai 18 tahun, Untung bergabung dengan Heiho (salah satu organisasi militer untuk memperkuat pertahanan Indonesia).
Setelah itu ia pun melanjutkan untuk masuk ke Akmil (Akademi Militer) di Semarang.
Di sini lah nama Kusman berubah menjadi Untung.
Di Akmil Untung dikenal sebagai orang yang cerdas, ia bahkan mendapatkan predikat lulusan terbaik Akmil.
Selain itu, Untung juga pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI, Alimin. (2)
Baca: Njoto
Karier #
Setelah lulus dari Akmil, Untung menjadi Komandan Batalyon 454/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang.
Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II.
Di sana ia pernah bertugas dalam misi operasi perebutan Irian Barat.
Pada saat itu ia dipercaya sebagai Panglima Mandala.
Untung di Irian Barat hanya satu bulan saja karena Soeharto memerintahkan gencatan senjata pada tahun 1962.
Seiring berjalannya waktu, karier Untung semakin baik, ia pun kemudian ditarik dalam pasukan pengaman presiden yang bernama Pasukan Cakrabirawa.
Dalam kesatuan itu jabatan Untung cukup tinggi yakni komandan Batalyon I. (1)
Baca: Mayjen R Suprapto
Peristiwa G30S/PKI #
Meletusnya peristiwa 30 September 1965 atau yang dikenal dengan G30S/PKI kala itu, Letnan Kolonel Untung memiliki peran yang strategis dalam melakukan pemberontakan.
Untung melakukan propaganda kepada anggotanya dengan isu tentang Dewan Jenderal.
Saat itu, Dewan Jenderal menjadi bola panas menjelang peristiwa G30S/PKI dengan dalih bahwa, sekelompok Perwira Tinggi Angkatan Darat akan mengambil alih kekuasaan kala Presiden Soekarno sakit.
Pada malam 30 September 1965, Letkol Untung berangkat ke Lubang Buaya untuk mengondisikan pasukannya.
Setelah itu para pasukan di bawah Letkol Untung ini mulai melancarkan aksinya untuk menculik para jenderal angkatan bersenjata.
Para jenderal itu kemudian dieksekusi di Lubang Buaya. (2)
Baca: Jenderal Soedirman
Akhir Hidup #
Setelah G30S/PKI meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya.
Saat itu tepatnya pada 11 Oktober 1965, Untung akan melarikan diri ke Semarang dengan naik bus.
Namun, ketika Untung berada di bus, dirinya dikenali oleh dua tentara Armed yang juga menumpang bus tersebut.
Untung yang terkejut pun memilih melompat keluar dari bus.
Ia pun menjadi dikejar dan akhirnya ditangkap di Asem Tiga Kraton, Tegal Jawa Tengah.
Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung.
Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G30S/PKI.
Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung.
Setelah melalui sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1966. (1)
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)
| Nama | Letnan Kolonel Untung |
|---|
| Pendidikan | Akmil (Akademi Militer) di Semarang |
|---|
| Riwayat Karir | Komandan Batalyon I pasukan Cakrabirawa |
|---|
| Lahir | Kebumen, 3 Juli 1926 |
|---|
| Meninggal | 1966 |
|---|
Sumber :
1. surabaya.tribunnews.com
2. amanat.id