Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman adalah panglima besar Tentara Nasional Indonesia sekaligus seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.


zoom-inlihat foto
Letnan-Komarudin-1.jpg
ArsipIndonesia.com
Jenderal Soedirman sedang menasihati Letnan Komaruddin.

Jenderal Soedirman adalah panglima besar Tentara Nasional Indonesia sekaligus seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Jenderal Soedirman adalah panglima besar Tentara Nasional Indonesia sekaligus seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang dihormati di Indonesia berkat jasanya yang telah menggugurkan para penjajah.

Ia dilantik pada tanggal 18 Desember 1945 dan selama tiga tahun melawan tentara kolonial Belanda, ia akhirnya berhasil mengalahkan mereka melalui sebuah perjanjian yang disusun olehnya yang dikenal sebagai perjanjian Lingharjati dan Renville.

Setelah melalui berbagai macam perjuangan, Soedirman divonis mengidap penyakit tuberkulosis pada tahun 1948.

Penyakit ini menyebabkan paru-paru kanannya harus dikempeskan pada November 1948.

Jenderal Soedirman meninggal kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. (1)  (2) 

Baca: Marco Kartodikromo

Sejak kecil Raden Soedirman (selanjutnya Sudirman) lebih banyak tinggal bersama pamannya ketimbang bersama orangtuanya. Masalah ekonomi menjadi alasan utama Sudirman tinggal bersama pamannya, Raden Cokrosunaryo yang saat itu adalah seorang camat.
Sejak kecil Raden Soedirman (selanjutnya Sudirman) lebih banyak tinggal bersama pamannya ketimbang bersama orangtuanya. Masalah ekonomi menjadi alasan utama Sudirman tinggal bersama pamannya, Raden Cokrosunaryo yang saat itu adalah seorang camat. (Intisari/Moh Habib Ashyad)

  • Kehidupan Pribadi


Soedirman merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem.

Ia lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916.

Sejak kecil, Soedirman diasuh oleh pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo, karena ia memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih baik dibandingkan keluarganya.

Soedirman pun diadobsi oleh pamannya yang seorang priyayi dan ia diberi gelar kebangsawanan suku Jawa, menjadi Raden Soedirman.

Soedirman tumbuh besar menjadi seorang siswa rajin dan aktif dalam kegiatan sekolah serta mengikuti organisasi Islam.

Selain itu, ia juga diajarkan etika dan tata krama priyayai serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa. (1) (2)

Baca: Ahmad Yani

  • Pendidikan


Soedirman merupakan siswa yang rajin dan aktif di sekolahnya.

Namun tahun ketujuhnya bersekolah, ia harus dipindah dari sekolah milik pemerintah ke sekolah menengah milik Taman Siswa.

Pada tahun kedelapan, ia kembali dipindah sebab sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonasi Sekolah Liar, sistem yang didirikan pemerintah Hindia Belanda, karena sekolah tersebut diketahui tidak terdaftar.

Di sekolah ia banyak dikenal oleh guru-guru dan teman-temannya sebagai seorang murid serta teman yang tekun dan pintar.

Berkat ketekunannya tersebut ia tetap diizinkan untuk melanjutkan sekolah meskipun ia tidak mampu membayar setelah kematian sang paman yang membuatnya jatuh miskin.

Sepeninggalan ayah tirinya, ia tetap melanjutkan dedikasinya dalam dunia pendidikan.

Ia menjadi guru praktik di Wirotomo dan menjadi anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik.

Bahkan Soedirman juga turut membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milih Muhammadiyah.

Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman melanjutkan pendidikannya selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dioperasikan Muhammadiyah di Surakarta, namun berhenti karena masalah biaya.
Pada 1936, Soedirman kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah, setelah sebelumnya dilatih oleh guru-gurunya di Wirotomo.

Di tahun yang sama, Soedirman menikah dengan seorang perempuan bernama Alfiah dan dikarunai tiga orang putra dan empat orang putri Mereka adalah Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Efendi, serta keempat putrinya adalah Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum.

Selama Soedirman mengajar di sekolah dasar Muhammadiyah tersebut, ia masih giat sebagai anggota Kelompok Pemuda Muhammadiyah.

Ia berperan menjadi negosiator dan mediator yang lugas dan mampu memecahkan setiap masalah yang terjadi di dalam organisasi tersebut.

Soedirman juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan sekolah ataupun untuk kepentingan pembangunan lainnya. (1)

Baca: Kolonel Abdul Latief

  • Sebelum Meninggal


Sebelum meninggal, Sordirman sempat meminta sebatang kretek untuk dihisap.

Namun, permintaanya tak dikabulkan oleh istrinya karena larangan oleh dokter yang merawatnya.

Akhirnya rasa cinta yang begitu dalam pada suaminya, istri Soedirman menghisap sebatang kretek, lalu menyemburkan asapnya pada suaminya.

Soedirman tak hanya sebagai Bapa Angkatan Perang, Bapa Gerilya, akan tetapi juga Bapa Keluarga.

Soedirman mempunyai keluarga yang cukup besar dan dikaruniai tiga orang putera dan empat orang puteri.

 Saat meninggal, Soedirman meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. (3) 

Baca: Kolonel Pnb Putu Sucahyadi

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



Info Pribadi
Lahir 24 Januari 1916, Purbalinga
Meninggal 29 Januari 1950 (umur 34) Magelang, Indonesia
Komando Batalion PETA, Banyumas Divisi Ke-5 TKR, Banyumas Panglima Besar dari TKR dan kemudian TNI
   


Sumber :


1. www.kompas.com
2. id.wikipedia.org
3. palembang.tribunnews.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved