Kerusuhan Sambas

Kerusuhan Sambas merupakan sebuah peristiwa kerusuhan antaretnis di wilayah Kabupaten Sambas dan sekitarnya.


zoom-inlihat foto
Ilustrasi-Kerusuhan-Sambas.jpg
kompas.com
Ilustrasi Kerusuhan Sambas

Kerusuhan Sambas merupakan sebuah peristiwa kerusuhan antaretnis di wilayah Kabupaten Sambas dan sekitarnya.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kerusuhan Sambas merupakan sebuah peristiwa kerusuhan yang terjadi antaretnis di wilayah Kabupaten Sambas dan sekitarnya.

Kerusuhan ini sendiri telah berlangsung sekitar tujuh kali sejak tahun 1970, tetapi puncak terbesar dari insiden ini terjadi tepatnya pada tahun 1999.

Hal tersebut dipicu oleh kejengkelan Melayu dan suku Dayak terhadap ulah sejumlah pendatang dari Madura.

Akibatnya, penduduk keturunan Madura yang telah bermukim di Sambas sejak awal tahun 1900-an turut terkena dampak dari ulah para perusuh.

Kerusuhan Sambas menelan korban tewas hingga 1.189 orang, 168 orang luka berat, 34 orang luka ringan, dan 29.823 warga Madura mengungsi.

Sementara itu, kerugian fasilitas dan sarana yang rusak ialah 3.833 rumah terbakar dan rusak, 12 mobil dan 9 motor dibakar/dirusak, 8 masjid/madrasah dirusak/dibakar, 2 sekolah dirusak, dan 1 gudang dirusak. (1)

Muhammad (55), warga Pasiran, Singkawang Barat menunjukkan sertifikat tanah milik ayahnya, yang diduga dicaplok seseorang berinisial ST. Warga eks pengungsi kerusuhan tahun 1999 ini mendesak pemerintah dan pihak berwenang, mengusut dugaan penyerobotan tanah warisan orangtuanya.
Muhammad (55), warga Pasiran, Singkawang Barat menunjukkan sertifikat tanah milik ayahnya, yang diduga dicaplok seseorang berinisial ST. Warga eks pengungsi kerusuhan tahun 1999 ini mendesak pemerintah dan pihak berwenang, mengusut dugaan penyerobotan tanah warisan orangtuanya. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ TITO RAMADHANI)

Baca: Peristiwa Tanjung Priok

Baca: Pemberontakan Andi Azis

  • Latar Belakang #


Awal mula terjadinya insiden tersebut adalah adanya kasus pencurian ayam oleh seorang warga suku Madura yang ditangkap dan dianiaya oleh warga masyarakat suku Dayak.

Konflik mulai berkembang dengan bergabungnya ratusan warga suku Madura yang menyerang beberapa warga suku Melayu yang menyebabkan 3 orang suku Melayu tewas dan 2 orang luka-luka.

Tak sampai di situ, terjadi juga kasus perkelahian antara kenek angkot warga suku Melayu dengan penumpang angkot warga suku Madura yang enggan untuk membayar ongkos transportasi.

Karena beberapa kejadian tersebut, terjadilah aksi saling balas membalas antara warga lokal, yakni suku Melayu dan suku Dayak dengan warga suku Madura berupa perkelahian, penganiayaan serta pengrusakan.

Peristiwa semakin berkembang dengan terjadinya kerusuhan, pembakaran, pengrusakan, perkelahian, penganiayaan hingga pembunuhan, yang meluas hingga ke daerah sekitarnya.

Akibatnya, warga suku Madura melakukan pengungsian secara besar-besaran, yang kemudian isu ini dieksploitir oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingannya.

Konflik seperti ini sendiri merupakan kejadian yang kesepuluh kalinya sejak tahun 1970 dan juga pernah dialami oleh etnis yang lain. (1)

  • Kronologi #


Persitiwa yang terjadi di Sambas ini mulai pecah dan mencapai puncaknya pada tahun 1999.

Pada 17 Januari 1999, seorang pria bernama Hasan mencoba mencuri sepeda motor milik salah seorang warga Melayu.

Setelah tertangkap, ia lantas dipukuli oleh warga sebelum akhirnya diserahkan kepada Polsek Jawai.

Kemudian, tiga orang warga Madura dari Desa Sari Makmur mendatangi Polsek Jawai, lalu Hasan diperbolehkan untuk pulang oleh polisi.

Namun, Hasan rupanya kembali ke rumah dengan kondisi sudah babak belur sehingga membuat keluarga Hasan merasa sangat marah.

Pada 19 Agustus 1999, kurang lebih sebanyak 300 warga Madura dari Desa Sari Makmur menyerang warga Melayu di Desa Parit Setia, mengakibatkan tiga orang tewas, yakni dua orang Melayu dan satu orang Dayak.

Mengetahui insiden tersebut, Camat Tebas berusaha mendamaikan keduanya. Namun, warga Melayu tidak mengindahkannya.

Masih pada bulan Agustus, terjadi aksi pembakaran dan penyerangan di kampung orang Madura di Selakau, Kalimantan Barat.

Sebanyak kisaran 1.000 orang mendatangi kampung Madura itu dan membakar rumah-rumah di sana.

Pada sore harinya, aksi pembunuhan terjadi terhadap orang Madura yang baru saja datang setelah empat hari pergi memancing ikan.

Setelah itu, pembakaran massal pun dilakukan oleh warga Melayu di Desa Mentibar yang menyebabkan warga Madura segera mengungsi secara besar-besaran. (2)

Baca: Konflik Sampit

  • Penyelesaian #


Untuk menyelesaikan konflik di antara kedua suku tersebut, pemerintah Kabupaten Sambas mengeluarkan keputusan, yakni memindahkan warga Madura dari Sambas ke Kotamadya Pontianak.

Akibat Kerusuhan Sambas, setidaknya 1.189 orang tewas dan sebanyak 58.544 warga Madura mengungsi dari Kabupaten Sambas ke Pontianak.

Selain itu, sebanyak 168 orang mengalami luka berat, 34 luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, serta 12 mobil dan 9 motor dibakar atau dirusak. 

Sementara itu, pelaku yang berhasil ditangkap sejumlah 208 orang, dan dalam proses peradilan sebanyak 59 orang, yang terdiri atas suku Madura 13 orang, suku Melayu 42 orang dan suku Dayak 4 orang.

Barang bukti yang disita sebanyak 607 pucuk senjata api rakitan, 2.336 senjata tajam, 76 bom molotov, 86 katapel, 969 anak panah, 8 botol dan 8 toples obat mesiu, 443 butir peluru timah, 79 peluru pipa besi, 349 butir peluru setandard ABRI dan 441 butir peluru gotri. (1) (2)

Baca: Peristiwa Merah Putih

Baca: Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Kerusuhan Sambas
Peristiwa 1999
Kategori Konflik antar etnis
Pihak Masyarakt suku Melayu, Dayak dan Madura
Lokasi Kabupaten Sambas


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved