Jahja Daniel Dharma (John Lie)

John Lie adalah pahlawan nasional sekaligus perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa.


zoom-inlihat foto
Jahja-Daniel-Dharma-John-Lie.jpg
Wikipedia
Laksamana Muda (Purn) Jahja Daniel Dharma atau juga dikenal dengan nama John Lie merupakan seorang Pahlawan Nasional sekaligus perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa.

John Lie adalah pahlawan nasional sekaligus perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Laksamana Muda (Purnawirawan) Jahja Daniel Dharma atau juga dikenal dengan nama John Lie merupakan seorang pahlawan nasional sekaligus perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa.

John Lie dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 9 Maret 1911. Namun, terdapat versi lain yang menyebut tanggal lahirnya pada 11 Maret 1911.

Pada tahun 1942, secara tidak langsung John Lie terlibat perang meski tidak dalam status militer.

Hal itu terjadi lantaran ketika Perang Dunia II terjadi, kapal Tosari, tempat John bekerja dijadikan kapal logistik dalam jajaran Royal Navy (Angkatan Laut Inggris).

Ia juga dijuluki sebagai "Hantu Selat Malaka" karena ahli dalam menyelundupkan senjata di laut untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan.

John Lie meninggal dunia di Jakarta, pada 27 Agustus 1988, ketika berusia 77 tahun karena penyakit stroke yang ia derita.

Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia dan Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, pada 9 November 2009. (1) (2)

PAHLAWAN NASIONAL John Lie
PAHLAWAN NASIONAL John Lie (Grid.id/Yoyok Prima Maulana)

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 1 September 1939 Serangan Jerman ke Polandia Mengawali Perang Dunia II

Baca: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL)

  • Masa Muda


John Lie merupakan putra dari pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio.

Ayahnya, Lie Kae Tae merupakan pemilik perusahaan pengangkutan Vetol, yakni Veem en Transportonderneming Lie Kay Thai.

Rita Tuwasey Lie, keponakan John Lie, menceritakan ketika berusia 17 tahun, John Lie kabur ke Batavia karena ingin menjadi pelaut.

Di Batavia, sembari menjadi buruh pelabuhan, ia mengikuti kursus navigasi, yang setelahnya menjadi klerk mualim III pada kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda.

Pada tahun 1942, John Lie ditugaskan di Khorramshahr, Iran, dan mendapatkan pendidikan militer di sana.

Pada saat berakhirnya Perang Dunia II dan setelah kemerdekaan Indonesia, dia memutuskan bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya masuk di Angkatan Laut RI.

Mulanya, ia ditugaskan di pelabuhan di Cilacap, Jawa Tengah, dengan menyandang pangkat Kapten.

Selama beberapa bulan masa tugas, ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu.

Berkat jasanya etrsebut, ia dinaikkan pangkat menjadi Mayor, disusul dengan kepemimpinannya dalam misi menembus blokade Belanda guna menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya.

Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi. (1)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Marsekal Muda TNI (Anumerta) R Iswahyudi

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Kapten CZI (Anumerta) Pierre Andries Tendean

  • Karier


Pada era awal kemerdekaan, John Lie ditugaskan untuk mengangkat komoditas ekspor Indonesia ke Singapura.

Ekspor sangat penting kala itu mengingat semakin menipisnya kas negara.

Pada tahun 1947, John Lie bertugas sebagai mengawal kapal yang membawa 800 ton karet yang nantinya akan diberikan kepada perwakilan Indonesia di Singapura, yakni Oetojo Ramelan.

Perjalanan yang harus dilewati bukanlah hal mudah karena ia harus menembus barisan blokade Belanda yang rutin ia lakukan.

Hasil bumi yang ia bawa ke Singapura kemudian ditukarkan dengan sebuah senjata yang nantinya diserahkan kepada pejabat yang berada di Sumatera untuk melawan Belanda.

Kesulitan lain yang ia lalui yakni ketika dia menggunakan kapal yang terlalu kecil bernama The Outlaw, untuk mengarungi gelombang samudera.

Ketika tengah membawa 18 drum, John Lie sempat tertangkap perwira Inggris sehingga membuatnya diadili di Singapura, kemudian berhasil dibebaskan karena terbukti tidak bersalah.

Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan Abusamah, John Lie mendapat surat dari Syahbandar yang berisi informasi bahwa The Outlaw merupakan kapal Indonesia sehingga kapal tersebut lalu diberi nama resmi PPB 58 LB.

Seminggu setelahnya, John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya dan turut mendirikan pangkalan Angkatan Laut yang menyuplai bahan bakar, makanan, serta senjata untuk kebutuhan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1950, KASAL Laksamana TNI R Soebijakto memanggil John Lie dan memerintahkan agar menjadi Komandan Kapal Perang Rajawali.

Tak hanya itu, John Lie juga berperan aktif dalam penumpasan Republik Maluku Selatan dan PRRI/Permesta. (2)

Baca: RMS (Republik Maluku Selatan)

Baca: Pertempuran Laut Aru

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Jahja Daniel Dharma (John Lie)
Nama Lahir Lie Tjeng Tjoan
Lahir Manado, 9 Maret 1911
Wafat 27 Agustus 1988,
Pangkat Laksamana Muda
Dinas TNI Angkatan Laut
Penghargaan Pahlawan nasional Indonesia








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Polri Sita Uang Rp 20

    Bareskrim Polri menyita uang sebanyak Rp20 miliar dari
  • Kapolsek Parigi Moutung yang Diduga

    Kapolsek Parigi Moutong Iptu IDGN, yang diduga menjadi
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved