Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Kapten CZI (Anumerta) Pierre Andries Tendean atau lebih dikenal Pierre Tendean merupakan seorang pahlawan revolusi yang berlatar belakang militer.
Pierre Tendean juga merupakan seorang perwira yang menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September (G30S).
Tekadnya untuk menjadi seorang tentara sangat besar sejak kecil, meski keluarganya lebih menginginkan ia menjadi seorang dokter atau insinyur. (1)
Karier Pierre Tendean di dunia militer terbilang cemerlang, ia tergolong sebagai ajudan termuda pada saat ia menjadi ajudan menteri.
Pierre Tendean juga dikenal sebagai seorang perwira berparas tampan, hal itu membuatnya kerap menjadi perhatian kaum hawa.
Sayangngya Pierre Tendean harus meninggal di usia muda, yakni ketika ia masih berusia 26 tahun.
Seperti yang disinggung di atas, Pierre Tendean menjadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. (2)
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Nuku Muhammad Amiruddin
Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution
Kehidupan Pribadi #
Pierre Tendean lahir di Batavia (saat ini Jakarta) pada 21 Februari 1939.
Pierre Tendean merupakan anak dari pasangan Aurelius Lammert Tendean, seorang pria berdarah Minahasa dan Maria Elizabet Cornet, perempuan berdarah Prancis Kaukasian.
Meski lahir sebagai blasteran Minahasa-Prancis, namun Pierre Tendean tumbuh sebagai seorang Jawa medok, sebab pada 1950 keluarganya pindah ke Semarang.
Di Semarang, ayah Pierre Tendean yang merupakan dokter spesialis jiwa diangkat menjadi pimpinan Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang.
Sepanjang hidupnya, Pierre Tendean belum pernah menikah.
Ketika bertugas di Medan, Pierre Tendean sebenarnya sempat bertemu dengan tambatan hatinya, Rukmini Chamim, sekorang gadis Medan keturunan Jawa.
Meski hanya sebentar bertugas di Medan, namun kisah cinta kedua pemuda itu terus berlanjut.
Sayangnya belum sampai ke jenjang pernikahan, maut lebih dulu menjemput Pierre Tendean.
Pierre Tendean menjadi korban dalam peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 (G30S).
Pierre Tendean meninggal pada 1 Oktober 1965 ketika ia bertugas sebagai ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Oleh pasukan Tjakrabirawa, Pierre Tendean disangka sebagai AH Nasution, incaran mereka.
Pierre Tendean pun ditangkap dan dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur dan dieksekusi di sana. (3)
Mayatnya ditemukan di sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya bersama mayat enam perwira lainnya.
Ketujuh perwira Angkatan Darat itu kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Utama Kalibata, Jakarta Selatan.
Pierre Tendean kemudian dianugerahi gelar pahlawan revolusi berdasarkan SK Presiden RI No 111/KOTI/Tahun 1965 pada 5 Oktober 1965. (4)
Riwayat Pendidikan #
Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, Pierre Tendean dan keluarganya mengungsi di kawasan Gunung Merapi, Jawa Tengah.
Pierre Tendean kemudian masuk ke Sekolah Dasar di Magelang, Jawa Tengah.
Tamat dari SD, Pierre Tendean melanjutkan ke SMP di Semarang.
Lulus dari SMP, Pierre Tendean kemudian melanjutkan ke SMA bagian B di Semarang juga hingga tamat.
Setamat dari SMA, orangtua Pierre Tendean sebenarnya menginginkan anaknya untuk menjadi seorang dokter seperti ayahnya atau menjadi insinyur.
Keluarganya pun menyarankan Pierre Tendean untuk kuliah di sekolah kedokteran.
Namun Pierre Tendean ternyata justru bertekad untuk menjadi seorang tentara.
Pierre Tendean lebih memilih untuk melanjutkan ke Akademi Militer Nasional (AMN) di Bandung yang sekarang bernama Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).
Namun karena tidak ingin mengecewakan orangtuanya, selain mengikuti tes di ATEKAD, Pierre Tendean juga mengikuti tes untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
Namun karena memang sejak awal lebih berminat ke dunia militer, tes untuk masuk ke Undip tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Pierre Tendean kemudian diterima di ATEKAD pada November 1958.
Pierre Tendean dapat menyelesaikan pendidikannya di ATEKAD dengan predikat sangat memuaskan pada 1961.
Pada waktu itu pula ia dilantik sebagai letnan dua.
Selama mengikuti pendidikan di akademi militer Pierre Tendean memperlihatkan sikap yang baik, sehingga disenangi oleh temen-temannya.
Pierre Tendean bahkan terpilih menjadi Wakil Ketua Senad Korps Taruna. (5)
Pada medio 1963, Pierre Tendean sekolah lagi di Bogor.
Bersama beberapa rekannya, Pierre Tendean mengikuti pelatihan Intelijen di Pusat Pendidikan Intelijen (Pusdikintel).
Pierre Tendean dipersiapkan untuk sebuah operasi khusus, di antaranya mengawal Menteri Oei Tjoe Tat ke Malaysia.
Ketika menjadi taruna, Pierre Tendean ternyata kerap mendapat ledekan Karena paras indonya.
Pelecehan itu sering secara verbal berupa pertanyaan sindiran, “Indo ya?”.
Dengan nada marah, Pierre Tendean kerap menjawab pertanyaan itu dengan jawaban “Barangkali rasa nasionalismemu lebih rendah daripada nasionalisme saya”. (6)
Riwayat Karier #
Karier militer Pierre Tendean sudah dimulai sejak ia masih menjadi seroang taruna di ATEKAD.
Sebagai Kopral Taruna, Pierre Tendean diikutkan dalam operasi militer dalam penumpasan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera.
Sebagai seorang taruna, Pierre Tendean ditempatkan dalam kesatuan Zeni Tempur Operasi Saptamarga.
Pascakelulusannya dari ATEKAD, Pierre Tendean dipercaya untuk memangku jabatan sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2/Daerah militer II Bukit Barisan yang berada di Medan.
Setahun kemudian, Pierre Tendean dipanggil untuk mengikuti pendidikan intelijen di Pusat Pendidikan Intelijen ketika Indonesia tengah melakukan politik konfrontasi dengan Malaysia yang kemudian dikenal sebagai Operasi Dwikora ganyang Malaysia.
Pierre Tendean ditugaskan untuk menyusup ke daerah Malaysia di bawah Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat.
Pierre Tendean bertugas di garis depan selama kurang lebih dua tahun dan telah melakukan penyusupan sebanyak tiga kali ke wilayah Malaysia.
Pertama kali, ia memasuki daerah Malaysia dengan menyamar sebagai wisatawan.
Dalam penyusupan ketiga, di tengah laut Pierre Tendean dikejar oleh kapal perusak (destroyer) Inggris.
Dengan cepat ia membelokkan speedboatnya dan secara diam-diam ia menyelam ke dalam laut.
Sesudah itu ia berenang menuju sebuah perahu nelayan.
Agar tidak diketahui oleh pengemudi perahu, dengan sangat hati-hati ia bergantung di bagian belakang perahu sementara seluruh badannya dibenamkan ke air.
Speeadboat-nya kemudian diperiksa oleh pasukan patroli Inggris.
Namun mereka hanya menemukan seorang pengemudi yang tidak menimbulkan kecurigaan apa-apa.
Speadboat itupun dibiarkan berlayar dan Pierre Tendean lepas dari penangkapan mereka. (7)
Setelah misi dalam Operasi Dwikora, Pierre Tendean kemudian mendapat tugas baru sekaligus tugas terakhir dalam hidupnya.
Pada April 1965, Pierre Tendean dipercaya menjadi ajudan Menteri pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Pangkatnya kemudian naik menjadi letnan satu dan tergolong sebagai ajudan termuda.
Dari garis ibunya, Pierre Tendean ternyata juga masih berkerabat dengan Johana Sunarti Gondokusumo, istri AH Nasution.
Dalam pekerjaan sehari-hari mengawal Nasution, Pierre kerap jadi pusat perhatian karena ketampanannya.
Apabila AH Nasution diundang sebagai pembicara dalam seminar atau konferensi, sosok Pierre Tendean ikut jadi sorotan terutama dari kaum hawa.
Dari sinilah kemudian terkenal istilah, “Telinga kami untuk Pak Nas, tetapi mata kami untuk ajudannya.”
Petaka hadir pada malam 1 Oktober 1965.
Pierre Tedean menjadi korban ketika pasukan Tjakrabirawa hendak meringkus AH Nasution.
Saat itu, Pierre Tendean tengah keluar dari paviliunnya untuk mengatasi kegaduhan dari pasukan-pasukan yang menyatroni kediaman Nasution.
Nahas, Pierre Tendean justru dikira sebagai Nasution oleh pasukan Tjakrabirawa.
Akibatnya ia ditangkap dan dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Dirinya menjadi salah satu korban pembunuhan Gerakan 30 September 1965 bersama enam perwira tinggi AD.
Mereka yang gugur dalam peristiwa itu kelak disebut Pahlawan Revolusi.
Perre Tendean sebenarnya bisa saja dilepaskan jika ia mengaku bahwa dirinya bukanlah Nasution.
Namun karena kesetiaan dan loyalitasnya, Pierre Tendean tidak melakukan itu. (8)
Sebelum menjadikorban G30S, Pierre Tendean merencanakan akan berangkat ke Semarang pada 1 Oktober 1965 untuk merayakan hari ulang tahun ibunya yang jatuh pada 30 September.
Pemerintah menghargai pengabdian Pierre Tendean kepada bangsa dan tanah air.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. III/KOTI/tahun l965 tanggal 5 Oktober 1965 Pierre Andries Tendean ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.
Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi kapten.
Selain itu ia juga menerima penghargaan berupa Satya Lencana Saptamarga. (9)
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official
| Info Pribadi |
|---|
| Nama | Kapten CZI (Anumerta) Pierre Andries Tendean |
|---|
| Nama Panggilan | Pierre Tendean |
|---|
| Lahir | Jakarta, 21 Februari 1939 |
|---|
| Meninggal | Jakarta, 1 Oktober 1965 |
|---|
| Makam | Taman Makam Pahlawan (TMP) Utama Kalibata, Jakarta Selatan |
|---|
| Riwayat Pendidikan | Sekolah Dasar di Magelang |
|---|
| Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Semarang |
| Sekolah Menengah Atas bagian B di Semarang |
| Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), Bandung, 1961 |
| Pusat Pendidikan Intelijen (Pusdikintel), Bogor, 1963 |
| Riwayat Karier | Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisa, Medan |
|---|
| Intelijen Operasi Dwikora |
| Ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution |
| Keluarga |
|---|
| Ayah | Aurelius Lammert Tendean |
|---|
| Ibu | Maria Elizabet Cornet |
|---|
Sumber :
1. m.merdeka.com
2. historia.id
3. historia.id
4. m.merdeka.com
5. pahlawancenter.com
6. historia.id
7. pahlawancenter.com
8. historia.id
9. pahlawancenter.com