Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Marsda TNI (Anumerta) R Iswahyudi merupakan seorang pahlawan nasional yang memiliki andil besar terhadap pembentukan TNI AU.
Iswahyudi bersepakat untuk mendirikan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) bersama beberapa rekannya yang lain seperti Abdurachman Saleh dan Adisucipto.
Iswahyudi bisa dikatakan sebagai penerbang kebanggaan AURI.
Sayangnya ia meninggal dalam usia yang masih terbilang muda yakni 29 tahun.
Iswahyudi meninggal pada 14 Desember 1947 di Perak, Malaysia ketika pesawat terbangnya mengalami masalah karena cuaca buruk.
Pesawat tersebut kemudian jatuh dan merenggut nyawa Iswahyudi. (1)
Kehidupan Pribadi #
Tidak banyak informasi yang dapat ditemukan soal kehidupan pribadi Iswahyudi.
Namun pada 27 Maret 1944, Iswahyudi diketahui menikah dengan seorang putri Asisten Wedana di Slawi, Tegal, yaitu Soewarti.
Hingga kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa Iswahyudi pada 1947, keduanya belum dikaruniai anak. (2)
Namun sumber lain menampilkan foto Isawhyudi dan Soewarti bersama seorang anak kecil yang pada keterangan foto itu terdapat keterangan bahwa anak tersebut merupakan anak semata wayang Iswahyudi dan Soewarti.
Foto tersebut terdapat Buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003, halaman 34 sampai 37. (3)
Saat menjalankan tugas pada 14 Desember 1947, pesawat yang ditumpangi Iswahyudi mengalami masalah karena cuaca buruk.
Pesawatnya kemudian jatuh di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia, setelah gagal melakukan pendaratan darurat.
Keesokan harinya, upaya pencarian dilakukan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.
Jenazahnya berhasil ditemukan dan kemudian dimakamkan di Lumut, Malaysia.
Namun pada 1975, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Utama Kalibata, Jakarta Selatan.
Atas jasa-jasanya, Iswahyudi kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No 63/TK/Tahun 1975 pada 9 Agustus 1975. (4)
Riwayat Pendidikan #
Iswahyudi memulai pendidikan formal pertamanya di sebuah sekolah dasar milik pemerintah Belanda, Hollandsch Inlandsche School (HIS) di tanah kelahirannya, Surabaya.
Tamat dari HIS, Iswahyudi kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surabaya juga.
Iswahyudi kemudian melanjutkan ke Algemene Middelbare School (AMS), sebuah sekolah menengah di Malang.
Lulus dari AMS, Iswahyudi sempat menuntut ilmu di Nederlands Indische Artsen School (NIAS), sebuah sekolah dokter terkenal di Surabaya pada masa itu.
Namun belum tamat, Iswahyudi kemudian keluar dan memilih pindah untuk bersekolah di sebuah sekolah penerbangan belanda bernama Militaire Luchtvaart Opleiding School di Kalijati, Jawa Barat.
Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah penerbangan pada 1941 dengan predikat Klein Militaire Brevet. (5)
Riwayat Karier #
Setahun pascakelulusannya, gejolak antara Belanda dan Jepang membuat Iswahyudi dan beberapa rekannya dilarikan ke Australia oleh pemerintah Hindia Belanda.
Di Australia, Iswahyudi kemudian diberikan pelatihan menerbangkan pesawat.
Pelatihan itu awalnya diberikan untuk perisapan mengikuti operasi-operasi udara sekutu, namun Iswahyudi enggan terlibat dalam operasi tersebut.
Iswahyudi kemudian melarikan diri dan kembali ke Indonesia pada 1943 menggunakan perahu karet. (6)
Risiko yang dihadapi dalam perjalanan menuju Indonesia cukup besar, selain karena bahaya di laut Iswahyudi dan rekan-rekannya juga dibayang-bayangi kemungkinan tertangkap oleh tentara Jepang yang saat itu sudah menguasai lautan sekitar Australia dan Indonesia.
Sebagian anggota rombongan bahkan ada yang tertangkap dan dibunuh oleh tentara Jepang.
Beruntung Iswahyudi berhasil selamat dan dapat mendarat di pantai Lodoyo, daerah militer di Kediri Selatan.
Namun kedatangan Iswahyudi diketahui oleh mata-mata Jepang.
Karena tercatat sebagai anggota angkatan udara Belanda, Iswahyudi kemudian ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan Karangmenjangan di Surabaya.
Beberapa waktu kemudian status tahanannya diubah menjadi tahanan kota.
Selain itu Iswahyudi juga berhasil memperoleh pekerjaan sebagai pegawai Kotapraja Surabaya dengan tugas mengawasi tempat-tempat rekreasi.
Status sebagai tahanan kota ini tidak pernah dicabut sampai saat kemerdekaan Indonesia, walaupun pelaksanaannya tidak terlalu ketat.
Malahan untuk melakukan pernikahan dengan Suwarti, 27 Maret 1944, Iswahyudi diizinkan pergi ke Probolinggo.
Pascaproklamasi kemerdekaan, Iswahyudi tetap berada di Surabaya.
Bersama pemuda-pemuda lain, ia turut serta dalam pengambilalihan kantor-kantor pemerintah dari tangan Jepang.
Iswahyudi memimpin sekelompok pemuda untuk menyerbu kantor Jawatan Kereta Api, menurunkan bendera Jepang di kantor tersebut, dan menaikkan bendera Merah Putih.
Sebagai pemuda yang pernah mendapat pendidikan penerbangan, Iswandi juga ikut mengamankan pesawat terbang dan peralatannya yang berhasil direbut dari tangan Jepang di Tanjung Perak.
Situasi dalam Kota Surabaya semakin hari semakin panas.
Bentrokan bersenjata dengan tentara Jepang terus terjadi hampir setip hari.
Karena itu Iswahyudi memindahkan keluarganya ke Madiun, sedangkan ia sendiri tetap tinggal di dalam kota.
Suatu kali terjadi salah paham antara kelompok-kelompok pemuda.
Iswahyudi ditangkap, bersama beberapa orang temannya ia ditahan oleh kelompok pemuda lain.
Setelah terbukti bahwa Iswahyudi tidak bersalah, barulah ia dibebaskan kembali.
Iswahyudi kemudian menggabungkan diri ke dalam satuan Polisi Kota Surabaya.
Perebutan-perebutan kekuasan dari tangan Jepang di kota Surabaya berakhir pada awal Oktober 1945.
Tetapi sejak minggu terakhir bulan itu, para pemuda Surabaya menghadapi musuh baru, yakni pasukan Inggris yang datang ke Indonesia mewakili sekutu.
Tugas mereka sebenarnya hanyalah melucuti pasukan Jepang, memulangkan orang-orang Jepang ke tanah airnya, dan membebaskan orang-orang sekutu yang ditawan Jepang.
Dalam kenyataanya Inggris berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.
Insiden bersenjata antara pihak Inggris dengan pemuda Surabaya mulai terjadi dua hari setelah mereka mendarat.
Dalam satu insiden tanggal 30 Oktober 1945, panglima pasukan Inggris di Surabaya, Brigadir Jenderal Mallaby, mati terbunuh.
Pada 10 November 1945, Inggris dengan kekuatan satu divisi melancarkan serangan besar-besaran dari laut dan udara terhadap kota Surabaya.
Pertempuran berlangsung selama tiga minggu.
Barulah pada akhir November 1945 pejuang-pejuang Surabaya meninggalkan kota untuk membangun pertahanan baru di luar kota.
Sementara itu, di Yogyakarta sedang berlangsung kesibukan dalam rangka menyusun kekuatan udara.
Pada 5 Oktober 1945, Pemerintah RI membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Dalam Organisasi TKR terdapat satu bagian yang disebut TKR Jawatan Penerbangan.
Bagian inilah yang diserahi tanggung jawab untuk menyusun kekuatan udara.
Masalah yang dihadapi TKR Jawatan Penerbangan cukup berat.
Jumlah penerbang sangat sedikit dan umumnya belum banyak berpengalaman.
Pesawat terbang yang ada hanya beberapa buah, merupakan warisan dari tentara Jepang, itupun dalam keadaan rusak.
Dengan segala kemampuan yang ada dan fasilitas yang seadanya, pimpinan TKR Jawatan penerbangan berusaha membangun kekuatan udara RI.
Salah satu usaha yang dilakukan ialah mendidik calon-calon penerbang.
Pada Desember 1945, TKR Jawatan Penerbang membuka Sekolah Penerbang di Yogyakarta.
Sekolah itu dipimpin oleh Adisucipto yang mendapat pendidikan tebang pada zaman Belanda.
Sebagai seorang yang juga pernah mendapat pendidikan penerbangan, Iswahyudi kemudian berangkat ke Yogyakarta dan menggabungkan diri dengan pimpinan TKR Jawatan penerbangan.
Berkat pimpinan Adisucipto, dalam waktu tiga minggu ia sudah mempu menerbangkan pesawat setelah kurang lebih tiga tahun lamanya tidak pernah menyentuhnya.
Berkat keterampilannya, Iswayhudi kemudian diangkat menjadi instruktur Sekolah Penerbang dengan pangkat Opsir Udara II Sekaligus diangkat menjadi pembantu utama Adisutjipto.
Mendidik calon penerbang pada masa itu bukanlah pekerjaan yang ringan.
Mereka harus melakukan percobaan terbang, sedangkan pesawat yang ada umumnya dalam keadaan rusak.
Karena itu, diperlukan terlebih dahulu perbaikan pesawat.
Namun berkat ketekunan Adisucipto dan Iswahyudi di percobaan-percobaan terbang berhasil dilaksanakan yang sekaligus dikaitkan dengan tugas-tugas lain.
Pada 23 April 1946, tiga buah pesawat cukiu tingal landas dari lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta menuju lapangan terbang Kemayoran, Jakarata.
Penerbangan berbentuk formasi ini membawa rombongan delegasi RI yang terdiri dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) S Suryadarma dan Mayor Jenderal Sudibyo yang akan mengadakan perundingan dengan delegasi sekutu mengenai penyelesaian tawanan perang dan orang-orang interniran.
Iswahyudi ikut dalam penerbangan ini bersama Adisucipto, Imam Suwongso Wirjosaputro, dan Abdul Halim Perdanakusuma.
Bulan berikutnya dilakukan latihan terbang formasi.
Satu formasi menuju Serang, Banten, sedangkan formasi lainya menuju Malang dan Madura.
Dalam latihan ini digunakan pesawat Cureng dan Cukiu.
Pesawat Cureng berada di bawah pengawasan Iswahyudi dan IS Wiryosaputro, sedangkan pesawat Cukiu di bawah pengawasan Adisucipto.
Latihan terbang ini berhasil dengan baik.
Dalam usaha untuk meningkatkan minat kedirgantaran, pada 10 Juli 1946 diadakan demontrasi terbang di Pangkalan Udara Cibeureum, Tasikmalaya.
Dari Yogyakarta didatangkan lima buah pesawat Cureng untuk memeriahkan demontrasi ini.
Iswahyudi dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian masyarakat berkat ketangkasan yang diperlihatkannya dalam menerbangkan pesawat.
Pembina-pembina AURI selalu berusaha memperbaiki pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang.
Sebuah pesawat itu diberi nama ”Diponegoro I”.
Untuk mengadakan uji coba, pada 10 Agustus 1946 Adisucipto, Iswahjudi, dan Husein Sastranegara beserta juru teknik Kaswan dan Rasyidi, menerbangkannya dari Maguwo ke Maospati, Madiun.
Percobaan-percobaan terbang yang berhasil baik itu menambah keyakinan pembina-pembina AURI bahwa mereka akan berhasil membangun kekuatan udara yang sangat diperlukan oleh sebuah negara yang baru saja merdeka dan sedang menghadapi ancaman musuh.
Pembangunan itu termasuk pula pembinaan wilayah, dalam hal ini AURI melakukan inspeksi ke pangkalan-pangkalan yang tersebar di Jawa dan Sumatra.
Tanggal 27 Agustus 1946 enam buah pesawat jenis Nishikoren, Cukiu, dan Cureng lepas landas dari lapangan Maguwo menuju Sumatra bagian Selatan.
Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, pesawat yang dikemudikan Iswahyudi mengalami kerusakan mesin.
Tak ada pilihan lain selain melakukan pendaratan darurat.
Berkat keterampilan Iswahyudi, pesawat berhasil mendarat di pantai Pameunpeuk, Garut Selatan, Jawa Barat tanpa mengalami kerusakan berat.
Dalam pesawat itu ikut juga KSAU, Komodor Udara S. Suryadarma.
Sebagai seorang militer, Iswahyudi pun mengalami perpindahan tugas.
Pada mulanya ia diserahi tugas sebagai instruktur Sekolah Penerbang di Yogyakarta.
Sesudah itu ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Maospati, Madiun, menggantikan Abdurachman Saleh yang diangkat menjadi Komandan Pangkalan Bugis, Malang.
Jabatan sebagai Komandan Pangkalan Maospati dipangku Iswahyudi selama satu tahun.
Beberapa waktu lamanya, ia ditempatkan di Yogyakarta dan setelah itu, diserahi jabatan sebagai komandan Pangkalan Udara Gadut, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat.
Di samping itu, bersama Abdul Halim Perdanakusuma, ia bertugas pula membentuk dan menyusun organisasi AURI di Sumatera.
Bahkan ia mendapat tugas khusus untuk menyelenggarakan hubungan udara dengan luar negeri.
Tugas menyelenggarakan hubungan dengan luar negeri merupakan tugas yang cukup berat dan berbahaya.
Pada waktu itu, Belanda melakukan blokade yang ketat terhadap wilayah RI, baik di darat, di luar, maupun di udara.
Di darat, Belanda selalu berusaha memojokkan RI ke daerah-daerah yang miskin.
Blokade laut dan udara dimaksudkan Belanda untuk melumpuhkan perdagangan RI dengan luar negeri dan juga untuk mencegah masuknya senjata dari luar ke Indonesia.
Namun dengan keberanian yang luar biasa, blockade tersebut berhasil ditembus oleh pihak RI.
AURI beberapa kali berhasil menerbangkan diplomat RI ke luar negeri, antara lain Misi Haji Agus Salim, Misi Sutan Sjahrir, dan Misi Wakil Presiden Mohammad Hatta dalam kunjungan tidak resmi ke India.
Misi Agus Salim berhasil menarik simpati beberapa negara Arab sehingga mereka mengakui RI.
Dalam membawa misi Wakil Presiden, Iswahyudi bertindak sebagai kopilot.
Untuk melakukan tugasnya, AURI memerlukan pesawat yang cukup baik.
Masyarakat diajak berpatisipasi dalam hal pembelian pesawat terbang.
Sewaktu bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut, Bukittinggi, Iswahyudi mengimbau masyarakat setempat untuk mengumpulkan uang guna membeli sebuah pesawat terbang.
Himbauan itu berhasil baik, secara bergotong royong masyarakat Bukittinggi mengumpulkan uang dan harta benda mereka, walaupun keadaan ekonomi pada masa itu cukup sulit.
Dana yang terkumpul ditukar dengan emas seberat 12 kilogram kemudian dibelikan sebuah pesawat terbang jenis Avro Anson dari seorang pedagang Amerika bernama Keegan.
Pesawat itu kemudian diberi registrasi RI-003.
Sesuai dengan perjanjian, Keegan akan mengantarkan pesawat ke Bukittinggi dan kemudian ia akan diantarkan ke Bangkok.
Sesudah pesawat tiba di Bukittinggi, Iswahyudi mengadakan percobaan terbang dan berhasil dengan baik.
Sesudah itu, bersama dengan Halim Perdanakusuma ia berangkat ke Bangkok untuk mengantarkan Keegan.
Selain mengantarkan Keegan, meraka mendapat tugas pula untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa ke tanah air lewat Singapura.
Tanggal 14 Desember 1947, pesawat terbang di Perak, Malaysia.
Tiba-tiba cuaca berubah memburuk, hujan lebat turun disertai badai yang cukup kuat.
Iswahyudi berusaha melakukan pendaratan darurat.
Namun karena jarak penglihatan sangat pendek, pesawat membentur pohon kayu dan akhirnya jatuh di laut di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia.
Sore hari, 14 Desember 1947, Polisi Lumut, Malaysia menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan pesawat terbang.
Pada waktu itu mereka belum mengetahui bahwa pesawat yang jatuh itu adalah pesawat RI-003.
Seorang anggota Polisi berangkat ke tempat kecelakaan, tetapi karena air sedang pasang, ia hanya dapat melihat ekor pesawat.
Keesokan harinya beberapa orang nelayan menemukan sesosok mayat terapung di laut beberapa ratus meter dari pantai.
Pencarian terus diadakan, akhirnya ditemukan barang-barang lain dan kepingan-kepingan pesawat.
Salah satu barang yang ditemukan ialah kartu nama Halim Perdanakusuma.
Ditemukan pula sebuah dompet berisi lembar uang kertas Siam, kartu-kartu bertuliskan Iswahyudi dan sarung pisau dengan tulisan di atasnya Keegan.
Dari bukti-bukti yang ditemukan itu diambil kesimpulan bahwa pesawat terbang yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia.
Disimpulkan pula bahwa kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi karena cuaca yang sangat buruk.
Berita mengenai kecelakaan pesawat segera tersebar luas.
Tokoh-tokoh masyarakat Malaysia yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap peristiwa tersebut.
Di Lumut dibentuk panitia pemakaman untuk menguburkan Halim Perdanakusuma. (7)
Jenazahnya berhasil ditemukan dan kemudian dimakamkan di Lumut, Malaysia. Pada tahun 1975, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. (8)
Kecelakaan pesawat RI-003 merupakan pukulan yang berat bagi AURI khususnya dan perjuangan Indonesia umumnya.
AURI kehilangan dua orang perwira yang sangat diandalkan dan tenaganya masih sangat diperlukan.
Beberapa bulan sebelumnya AURI telah kehilangan juga perwira-perwiranya, antara lain Abdurachman Saleh dan Adisucipto ketika pesawat Dakota CT-CLA ditembak Belanda di udara Yogyakarta.
Berita duka itu diterima isteri Iswahyudi dan segenap anggota keluarga dengan rasa pedih dan pilu.
Wakil Preisiden Hatta yang sedang berada di Bukittinggi secara khusus mengirim surat belasungkawa kepada isteri Iswahyudi.
Dalam surat itu Wakil Presiden mengatakan bahwa Iswahyudi gugur sebagai pahlawan bangsa.
Pemerintah menghargai jasa dan perjuangan Iswahyudi untuk kepentingan bangsa dan negara.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 06/TK/Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975, Isawahyudi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bertepatan dengan Hari Pahlawan tanggal 10 November 1975, makam Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi dipindahkan dari Lumut ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. (9)
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official
| Info Pribadi |
|---|
| Nama | Marsekal Muda TNI (Anumerta) R Iswahyudi |
|---|
| Nama Lain | Iswahjoedi (Ejaan lama) |
|---|
| Lahir | Surabaya, Jawa Timur, 15 Juli 1918 |
|---|
| Meninggal | Perak, Malaysia, 14 Desember 1947 |
|---|
| Makam | Taman Makam Pahlawan (TMP) Utama Kalibata, Jakarta Selatan |
|---|
| Riwayat Pendidikan | Hollandsch Inlandsche School (HIS), Surabaya |
|---|
| Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Surabaya |
| Algemene Middelbare School (AMS), Malang |
| Nederlands Indische Artsen School (NIAS), Surabaya |
| Militaire Luchtvaart Opleiding School (Sekolah Penerbangan), Kalijati, Jawa Barat, 1941 |
| Riwayat Karier | Instruktur Sekolah Penerbangan pesawat dengan pangkat Opsir Udara II |
|---|
| Pembantu utama Adisucipto |
| Komandan Lanud Maospati Madiun, 1947 |
| Komandan Lanud Gadut Bukittingi, 1947 |
| Wakil AURI pada Komandemen Tentara Sumatera |
| Keluarga |
|---|
| Pasangan | Suwarti |
|---|
Sumber :
1. tokoh.id
2. id.wikipedia.org
3. id.wikipedia.org
4. tokoh.id
5. www.biografipahlawan.com
6. tokoh.id
7. pahlawancenter.com
8. tokoh.id
9. pahlawancenter.com