Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Bernard Wilhelm Lapian merupakan seorang pejuang nasionalis asal Minahasa, Sulawesi Utara yang lahir di Kawangkoan, pada 30 Juni 1892.
Perjuangan yang ia torehkan mencakup dalam berbagai bidang sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga zaman kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 30 Mei 1928, Lapian menikah dengan Maria Adriana Pangkey di Tomohon dan kemudian dikaruniai enam orang anak.
Dua diantaranya yakni, Adrian Bernard Lapian, yang merupakan seorang ahli dalam sejarah maritim Indonesia, serta Louisa Magdalena Lapian, seorang ahli hukum.
Benjamin Julian 'Bert' Lapian, yang merupakan saudara laki-laki Lapian, juga pernah menjabat sebagai wali kota Manado sejak 1 Maret 1952 hingga 1 September 1953.
Bernard Wilhelm Lapian menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada tanggal 5 April 1977, ketika menginjak usia 84 tahun.
Jasadnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. (1)
Baca: Abdoel Moeis Hassan
Baca: Arie Frederik Lasut
Perjalanan Hidup #
Bernard Wilhelm Lapian menempuh pendidikannya di ELS Amurang dan kursus-kursus setingkat MULO atau sekolah menengah.
Setelah mengenyam pendidikan, ia kemudian bekerja di Batavia dengan menulis untuk surat kabar Pangkal Kemadjoean.
Dalam pekerjaannya tersebut, Lapian dapat menunjukkan sikap nasionalisnya untuk membebaskan warga Indonesia dari kolonialisme.
Pada 1924 sampai 1928, Lapian kemudian mendirikan surat kabar sendiri yang diberi nama Fadjar Kemadjoean, dimana berisi mengenai kesejahteraan rakyat.
Kemudian, Lapian kembali mendirikan surat kabar bernama Semangat Hidoep pada tahun 1940.
Isi dari surat kabar itu tentang mengobarkan perlawanan terhadap propaganda kolonial yang mengajak warga Minahasa untuk setia kepada Belanda. (2)
Baca: STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen)
Baca: 17 AGUSTUS - Budi Utomo
Perjuangan #
Pasca Perang Dunia II, Indonesia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya. Meski begitu, Belanda tetap bersikukuh untuk kembali ke Indonesia.
Bahkan, upaya ini juga didukung oleh pasukan Sekutu yang masuk ke Indonesia usai Jepang mengakui kekalahannya.
Pada 14 Februari 1946, pasukan KNIL atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda di Manado dibantu oleh pemuda setempat menangkap para perwira KNIL berkebangsaan Belanda.
Pada 16 Februari 1946, Lapian yang merupakan Residen Manado ditunjuk untuk menjadi kepala pemerintahan Republik Indonesia di Sulawesi Utara.
Namun, kepemimpinannya tak berlangsng lama, setelah ia berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Manado pada Maret 1946.
Ia kemudian dipindahkan ke Cipinang, Jakarta pada tahun 1947 dan dibebaskan pada 20 Desember 1949, setelah Konferensi Meja Bundar.
Setelah itu, pada 17 Agustus 1950, ia diangkat menjadi pejabat Gubernur Sulawesi, dengan masa jabatan hingga 1 Juli 1951.
Selama menjabat sebagai gubernur, Lapian membuka dan mengembangkan daerah di sekitar Dumoga sebagai tempat pemukiman dan pertanian.
Lapian juga membangun jalan untuk menghubungkan Kotamobagu dan wilayah Molibago. (2)
Penghargaan #
Bernard Wilhelm Lapian dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya pada tahun 1958.
Kemudian, di tahun 1976, ia mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Pratama.
Lapian juga dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara pada tanggal 5 November 2015.
Selain itu, sebuah monumen pun didirikan di Kawangkoan untuk memperingati keterlibatan B.W. Lapian dan Ch. Ch. Taulu dalam peristiwa Merah Putih di Manado pada 14 Februari 1946. (1)
Baca: Robert Wolter Mongisidi
Baca: Maskoen Soemadiredja
(TribunnewsWiki.com/Septiarani)
| Nama | Bernard Wilhelm Lapian |
|---|
| Lahir | Kawangkoan, pada 30 Juni 1892 |
|---|
| Wafat | Jakarta, 5 April 1977 |
|---|
| Pendidikan | ELS Amurang |
|---|
| Jabatan | Gubernur Sulawesi |
|---|
Sumber :
1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com