Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang atau yang juga dikenal sebagai Raden Ayu Serang merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Serang pada tahun 1752.


zoom-inlihat foto
Nyi-Ageng-Serang-Raden-Ayu-Serang.jpg
Balai TekKomDik Daerah Istimewa Yogyakarta/ Kompas.com
Nyi Ageng Serang atau yang juga dikenal sebagai Raden Ayu Serang merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Serang pada tahun 1752.

Nyi Ageng Serang atau yang juga dikenal sebagai Raden Ayu Serang merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Serang pada tahun 1752.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Nyi Ageng Serang atau yang juga dikenal sebagai Raden Ayu Serang merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Serang pada tahun 1752.

Pemilik nama kecil Raden Ajeng Retno Kursiah Edi ini, juga mempunyai seorang keturunan berdarah pejuang, yaitu Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara.

Setelah menikah, nama Nyi Ageng Serang berubah menjadi Bendoro Raden Ayu Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. (1)

Pada awal Perang Diponegoro tahun 1825, Nyi Ageng Serang yang ketika itu sudah berusia 73 tahun, memimpin pasukan dengan tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Selain ikut berperang, ia juga menjadi penasehat perang.

Nyi Ageng Serang pernah berjuang di beberapa daerah, seperti Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, dan Rembang.

Strategi perang yang paling terkenal darinya ialah penggunaan lumbu (daun talas hijau) untuk penyamaran. (2)

Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang (majalahcsr.id/pahlawancenter.com)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Meutia

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Dien

  • Kehidupan


Nyi Ageng Serang dilahirkan di Desa Serang sekitar 40 km sebelah utara Surakarta dekat Purwodadi, Jawa Tengah.

Nyi Ageng Serang merupakan keturunan Sunan Kalijaga, di mana ayahnya adalah Pangeran Ronggo Seda Jajar yang dijuluki Panembahan Senopati Notoprojo.

Pangeran Ronggo menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram yaitu di wilayah Serang yang kini berada di wilayah perbatasan Grobogan-Sragen.

Setelah ayahnya meninggal, Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya.

Ia menikah dua kali, yaitu dengan Hamengku Buwono II dan Pangeran Serang I yang bernama asli Pangeran Mutia Kusumowijoyo.

Nyi Ageng Serang melahirkan seorang putra bernama Pangeran Kusumowijoyo atau Sumowijoyo (1794-1852), yang disebut sebagai Pangeran Serang II.

Ia juga memiliki seorang putri yang nantinya akan menikah dengan anak Sultan Hamengku Buwono II, Pangeran Mangkudiningrat I (1775-1824), yang diasingkan ke Pulau Pinang (1812-1815) dan Ambon (1816-1824) setelah Inggris menyerang Kesultanan Yogyakarta.

Pasangan yang terakhir ini punya seorang putra, Raden Tumenggung Mangkudirjo yang kelak akan bergelar Pangeran Adipati Notoprojo atau Raden Mas Papak (1803-1855). 

Sang Nyai menghembuskan nafas terakhirnya di Yogyakarta pada 1828 dan dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo.

Atas perjuangannya semasa hidup, untuk mengenang sosoknya, warga Kulon Progo mendirikan monumen di tengah kota Wates.

Monumen itu berupa patung Nyi Ageng Serang yang dengan gagah berani sedang menaiki kuda dan membawa tombak. (1)

  • Perjuangan


Antara tahun 1755 hingga 1830, di saat masyarakat belum mengenal arti emansipasi, Nyi Ageng Serang sudah berani berjuang melawan Belanda dalam Perang Diponegoro pada 1825 - 1830.

Peperangan pertama yang ia ikuti ialah bersama dengan ayahnya, Pangeran Notoprojo, dimana Belanda kala itu tiba-tiba menyerbu kubu pertahanan Pangeran Notoprojo.

Dikarenakan usia sang ayah sudah lanjut, pemimpin pertahanan Serang diserahkan kepada sang Nyai.

Dalam peristiwa perlawanan tersebut, saudara laki-lakinya harus gugur.

Nyi Ageng Serang kemudian memegang langsung kepemimpinan dan berjuang melawan Belanda dengan gagah berani.

Namun, karena jumlah pasukan musuh lebih banyak, sedangkan rekannya, Pangeran Mangkubumi tidak lagi membantu, pasukan Serang menjadi terdesak.

Pangeran Mangkubumi kemudian mengadakan perdamaian dengan Belanda berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Awalnya, Nyi Ageng Serang tidak ingin menyerahkan diri, setelah akhirnya ia berhasil ditangkap dan menjadi tawanan Belanda.

Dari pertempuran di Serang inilah, nama Kustiah kemudian menjadi Nyi Ageng Serang.

Usai dibebaskan, Nyi Ageng Serang dikirim ke Yogyakarta, dimana ia memperkuat spiritualnya.

Sampai akhirnya Perang Diponegoro pecah akibat menguatnya pengaruh Belanda di dalam Keraton sehingga menimbulkan kekacauan.

Sejak itu, semangat patriotisme sang Nyai kembali bangkit. Ia bersama dengan suaminya, Kusumawijaya, memihak Pangeran Diponegoro untuk kemudian melancarkan perlawanan terhadap Belanda.

Suaminya pun gugur dalam pertempuran ini, sehingga membuat Nyi Ageng Serang merasa tertekan.

Ia pun berusaha melatih cucu laki-lakinya dalam keterampilan serta siasat dan taktik keprajuritan.

Kemudian, ia bersama cucunya kembali bergabung dalam pertempuran dengan pasukan Pangeran Diponegoro.

Karena usia Nyi Ageng Serang yang kala itu sudah menginjak 73 tahun, Pangeran Diponegoro memilihnya sebagai penasehat.

Tetapi, karena semangat juangnya yang masih membara, ia selalu berada di tengah para prajurit di garis depan.

Berkat petunjuk serta nasehat dari Nyi Ageng Serang, Belanda berhasil dilumpuhkan. (2)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Pangeran Diponegoro

  • Akhir Hidup


Ketika menginjak usia 76 tahun, konsidi kesehatan Nyi Ageng Serang semakin menurun yang membuatnya jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia pada 1828.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di Dusun Beku, Kulonprogo.

Atas jasa-jasanya, Nyi Ageng Serang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Surat Keppres No. 084/TK/1974 pada 13 Desember 1974.

Namanya juga dipakai untuk gedung Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di Jakarta Selatan. (2)

Baca: Dewi Sartika

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Raden Ajeng Kartini

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Asli Raden Ajeng Retno Kursiah Edi
Julukan Nyi Ageng Serang
Lahir Serang, 1752
Wafat Yogyakarta, 1828
Ayah Pangerang Ronggo (Panembahan Senopati Notoprojo)
Suami Hamengku Buwono II, Pangeran Serang I








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Kecelakaan di Tol Cipularang, Truk

    Insiden kecelakaan terjadi di KM 91 Tol Cipularang,
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved