17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Pangeran Diponegoro

Karena kegigihan Pangeran Diponegoro, perlawanan terhadap Belanda yang semula hanya terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya, mampu meluas hingga ke berbagai area di pulau Jawa.


zoom-inlihat foto
dipo.jpg
Tribunnews.com
Pangeran Diponegoro

Karena kegigihan Pangeran Diponegoro, perlawanan terhadap Belanda yang semula hanya terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya, mampu meluas hingga ke berbagai area di pulau Jawa.




  • Kehidupan Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pangeran Diponegoro atau bernama Bendara Raden Mas Antowirya, adalah seorang tokoh pahlawan nasional yang berasal dari Yogyakarta, Indonesia.

Pangeran Diponegoro lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta.

Pangeran Diponegroro wafat di Kampung Melayu, Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan pada 8 Januari 1855.

Beliau adalah putra pertama dari Hamengkubuwana III yang pada saat itu menjabat sebagai Raja ke tiga di Kesultanan Yogyakarya. (1)

Ibunya bernama R.A.Mangkarawati, seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan.

Pangeran Diponegoro memiliki sikap yang bersahaja dan sederhana.

Daripada tinggal di Keraton yang berisikan kemewahan, masa kecil dan remaja Pangeran Diponegoro justru dihabiskan dengan kehidupan merakyat sehingga ia tinggal di Tegalrejo yang merupakan tempat tinggal dari eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, yakni Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo.

Diponegoro mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Namun, dari beberapa sumber menyatakan Pangeran Diponegoro pernah menikah sembilan kali dan dikaruniai 12 anak laki-laki dan 10 anak perempuan.

Ilustrasi Perang Diponegoro. (foto: salamadian.com)
Ilustrasi Perang Diponegoro. (foto: salamadian.com) (salamadian.com)

  • Penentang Kolonialisme Belanda #


Selain hidup sederhana, Pangeran Diponegoro juga berjiwa kesatria.

Masa kecilnya dihabiskan di seputaran Yogyakarta, hingga sebelum akhirnya memulai ikut perjuangan melawan penjajah.

Kemuliaan dan ketinggian akhlak Pangeran Diponegoro, membuat ayahnya yang merupakan raja di Kesultanan Yogyakarta pun kagum dan berniat menyerahkan takhtanya padanya.

Namun Pangeran Diponegoro menolak karena ia menyadari bahwa keputusan raja kala itu tidak tepat, karena dia hanya merupakan anak seorang selir, bukan dari ratu.

Seandainya Pangeran Diponegoro naik tahkta menjadi raja untuk Kesultanan Yogyakarta, tentu akan menciptakan konstelasi politik yang panas di lingkungan keraton, terlebih di antara anak-anak dan keturunan keluarga besar. (2)

Terlebih, kala itu terjadi polarisasi di antara orang-orang Kesultanan Yogyakarta yang pro dengan Belanda dan anti-Belanda.

Ketidak setujuan Pangeran Diponegoro pada cara dan mekanisme kepemimpinan Kesultanan Yogyakarta bermula pada masa kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822), dimana beliau menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun.

Sedangkan pemerintahan kesultanan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda, dan Pangeran Diponegoro tak pernah diajak berdiskusi tentang hal itu.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Cut Nyak Dien

Cara perwalian dan tata kelola Kesultanan Yogyakarta yang selalu diintervensi oleh Belanda demikian lah seperti yang menimbulkan resistensi Pangeran Diponegoro terhadap penjajahan Belanda.

Belum lagi Belanda yang semena-mena membuat aturan yang menguntungkan pengusaha Belanda dan merugikan masyrakat pribumi, hal itu makin membakar semangat anti-kolonialisme dalam diri sang Pangeran Diponegoro.

  • Perang Diponegoro #


Karena sikap anti-Belanda itu lah dicari berbagai cara untuk melenyapkan Pangeran Diponegoro, atau untuk memburuk-burukkan nama-nya.

Pada waktu Sultan Jarot meninggal dunia, Belanda menuduh bahwa ia diracun oleh Pangeran Diponegoro.

Residen Belanda di Yogyakarta, Smissaert, merencanakan pula untuk menangkap pangeran ini dengan cara mengundangnya menghadiri pesta yang diadakan di benteng Vredeburg.

Pangeran Diponegoro datang dengan pengawalnya, dan menantang Smissaert untuk berkelahi. Tetapi Residen ini tidak berani menjawab tantangan tersebut.

Pertentangan terbuka akhirnya terjadi juga.

Residen Smissaert merencanakan untuk membuat jalan yang melewati tanah milik Pangeran Diponegoro.

Pancang-pancang sudah ditanam, sedangkan pemilik tanah tidak diberi tahu. Pangeran Diponegoro menyuruh para pembantunya mencabuti pancang-pancang.

Patih Danurejo IV yang merupakan pion dari Belanda memerintahkan pancang-pancang ditanam kembali. Peristiwa menanam dan mencabut pancang terjadi beberapa kali.

Sementara itu tersiar desas-desus bahwa Belanda akan menyerang Tegalrejo, kediaman Pangeran Diponegoro.

Penduduk Tegalrejo yang memang sangat bersimpati terhadap sikap dan perjuangan Pangeran Diponegoro pun mulai bersiap-siap menghadapi kemungkinan serangan itu.

Tanggal 20 Juni 1825 seorang utusan Belanda mengantarkan surat ke Tegalrejo untuk menanyakan maksud Diponegoro.

Pada waktu itu Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro, dan Dewan Perwakilan Kerajaan Yogyakarta sedang ada di Tegalrejo. Pangeran Diponegoro meminta Mangkubumi menyusun kalimat untuk membalas surat tersebut dan Diponegoro menuliskannya.

Baru beberapa baris ia menulis, dari jauh sudah terdengar bunyi senapan dan meriam.

Pasukan Belanda sudah menyerang Tegalrejo.

Penduduk Tegalrejo memberikan perlawanan, tetapi karena persenjataannya tidak seimbang, mereka terpaksa mengundurkan diri. Hari itu juga Tegalrejo diduduki Belanda.

Tempat tinggal Diponegoro, mesjid dan bangunan-bangunan lainnya mereka bakar.

Diponegoro memerintahkan rakyat untuk menyingkir ke Selarong.

Ia bersama Pangeran Mangkubumi menuju Kali Saka. Di luar Tegalrejo ia menyaksikan tempat itu sedang terbakar.

Di Selarong pimpinan perang segera disusun. Pangeran Diponegoro diangkat sebagai pimpinan tertinggi.

Mangkubumi diangkat sebagai penasehat, sedangkan Pangeran Angabei sebagai penasehat khusus bidang siasat perang.

Pimpinan ini kemudian dilengkapi dengan munculnya Sentot Prawirodirjo yang berusia 16 tahun dan Kyai Mojo yang memberikan corak Islam kepada perjuangan.

Rakyat dilatih menggunakan berbagai jenis senjata, tombak, pedang, parang, panah, bandil (umban pelempar batu) dan sebagainya.

Pasukan dibagi atas tujuh kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 150 orang prajurit pilihan dan dipimpin oleh seorang pangeran.

Maklumat perang disebar ke berbagai tempat, diantar oleh para kurir.

Mula-mula di daerah Jawa Tengah, tetapi kemudian juga ke Jawa Barat (Banten) dan Jawa Timur seperti Palembang, Tuban, Bojonegoro, Madiun dan Pacitan. Seruan perang itu mendapat sambutan spontan dari rakyat yang memang sudah lama merasa tertindas akibat penjajahan Belanda.

Untuk menghadapi perlawanan Diponegoro, pasukan Belanda didatangkan dari Jakarta melalui Semarang.

Bahkan kemudian sebagian pasukan Belanda yang sedang menghadapi Perang Paderi di Sumatera Barat ditarik ke Jawa Tengah.

Sepasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Kumsius berangkat dari Semarang membawa empat pucuk meriam, uang dan pakaian serta perbekalan lainnya. Di dekat Pisang, Tempel, sebelah barat laut Yogyakarta pasukan ini disergap oleh pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulyosentiko.

Sebanyak 27 orang tentara Belanda terbunuh. Senjata, pakaian seragam dan uang sebanyak 50.000 gulden jatuh ke tangan pasukan Diponegoro.

Sergapan yang berhasil itu menimbulkan suasana panik di keraton Yogya.

Sultan Menol yang masih bayi diungsikan ke dalam benteng Belanda.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Tuanku Imam Bonjol

Orang-orang Belanda banyak pula yang mengungsi ke sana sehingga benteng itu penuh sesak.

Sementara itu pasukan Diponegoro mengepung kota dari berbagai penjuru. Bahan makanan diblokir, tidak boleh masuk ke dalam kota.

Kolonel Van Jett segera mengirim pasukannya untuk menyerang Selarong. Tiga kali serangan dilancarkan, namun pasukan Belanda selalu menemui Selarong dalam keadaan kosong, sebab rakyat sudah mengetahui bahwa Belanda akan menyerang.

Diponegoro pun tidak ada disana, sebab ia berada di gua Secang yang indah, tak jauh dari Selarong.

Tiga bulan kemudian Diponegoro memindahkan markas besarnya ke Dekso agar lebih mudah berhubungan dengan sektor-sektor lain.

Di tempat ini ia dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Ngabdulkamid Herucokro Amirul Mukminin Panatogomo Jowo.

Dalam bulan-bulan pertama pasukan Belanda terpukul mundur di berbagai medan tempur.

Karena itu Belanda mencoba taktik lain. Hamengku Buwono dikembalikan dari pembuangannya di Ambon dan diangkat menjadi Sultan.

wdrfwrf
Ilustrasi Perang Diponegoro. (foto: titiktemu.id)

Maksudnya ialah agar sultan ini membujuk cucunya, Pangeran Diponegoro agar segera menyerah. Tetapi usaha ini gagal.

Meski beberapa rekan perjuangan dan penasihat perangnya gugur, semangat Pangeran Diponegoro untuk melawan dan mengobarkan api peperangan terhadap Belanda tak pernah padam.

Bagi Belanda perang yang berlama-lama itu terasa berat, terutama dari segi biaya.

Perang terbuka dengan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa dengan membuat Belanda yang sebenarnya memiliki keunggulan militer, lebih terorganisir dan memiliki kecanggihan teknologi sampai-sampai kelimpungan.

Maka, selain pelawanan fisik, Belanda selalu berupaya menjinakkan Pangeran Diponegoro dengan berbagai macam cara termasuk yang diplomatif seperti perundingan.

Bahkan, Belanda pernah menyelenggarakan sayembara berhadiah 50ribu gulden bagi siapapun yang mampu menangkap Pangeran Diponegoro. (3)

Setelah tak pernah mau menerima utusan perundingan dari Belanda sejak awal mula peperangan, barulah pada tanggal 16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro bersedia menerima utusan Belanda, yakni Kolonel Cleerens.

Perundingan diadakan di Romo Kendal, daerah Bagelen.

Namun akhirnya, pada tanggal 28 Maret 1830 Pangeran Diponegoro menemui Jenderal De Kock di kantor Residen Magelang. Sepanjang jalan rakyat berkerumun memberikan penghormatan kepadanya.

Belanda melarang rakyat membawa senjata, tetapi Belanda sendiri sudah menempatkan pasukannya untuk melakukan penjagaan ketat di sekeliling kota.

Dalam perundingan dengan Jenderal De Kock ini Diponegoro di dampingi oleh Basah Martonagoro, Kyai Badaruddin, dan puteranya, Diponegoro Anom. Namun Jenderal De Kock berkhianat.

Pangeran Diponegoro ditangkap. la dibawa ke utara Magelang dengan joli dan kemudian dipindahkan ke kereta dengan pengawasan kuat.

Diponegoro meminta agar ia dapat bertemu dengan Gubernur Jenderal, tetapi permintaan itu di tolak.

Dari Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang, sesudah itu ke Jakarta.

Selanjutnya ia menjadi tawanan pemerintah Belanda. Pada tanggal 3 Mei 1830 dengan kapal Pollux Diponegoro dibawa ke tempat pembuangannya di Manado. Lalu pada 1834 ia dipindahkan ke benteng Rotterdam di Ujung Pandang, Makassar. (4)

Di Makassar lah sang Pangeran wafat pada 8 Januari 1855 dan dikebumukan di Kampung Melayu, Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan.

Meski ribuan rakyat gugur dalam perang dibawah komando Pangeran Diponegoro, peristiwa yang terjadi selama lima tahun (1825-1830) ini adalah salah satu yang monumental bagi sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda di Indonesia.

Karena kegigihan Pangeran Diponegoro, perlawanan terhadap Belanda yang semula hanya terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya, mampu meluas hingga ke berbagai area di pulau Jawa.

Sementara di pihak Belnda, mereka mengalami kerugian hingga tidak kurang dari 15.000 tentara tewas dan menelan biaya perang sebesar 20 juta gulden.

  • Pahlawan Nasional #


Atas perjuangan, jasa dan ruh semangat melawan penjajahan yang diwujudkan oleh Pangeran Diponegoro, maka Pemerintah Republik Indonesia memberi gelar beliau sebagai pahlawan nasional.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973 tanggal 7 November 1973, nama besar Pangeran Diponegoro resmi dikukuhkan sebagai pahlawan nasional.

Sosok Pangeran Diponegoro pernah diabadikan di mata uang resmi Republik Indonesia pecahan Rp. 1000 pada tahun 1975.

Selain itu, nama Pangeran Diponegoro juga banyak diabadikan di berbagai ruang publik di Indonesia seperti nama jalan, nama taman, film sejarah, nama gedung, hingga nama universitas negeri.

Pada masa pengasingannya di Manado, Pangeran Diponegoro membuat naskah atau catatan klasik seputar kehidupannya yang kemudian dikenal sebagai Babad Diponegoro. (5)

Pada21 Juni 2013, Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

 (TribunnewsWiki/Haris)



Nama Lengkap Bendara Raden Mas Antowirya
Nama Gelar Pangeran Diponegoro
Lahir Yogyakarta, 11 November 1785
Wafat Kampung Melayu, Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855
Orang tua Hamengkubuwana III dan R.A.Mangkarawati
Pergerakan Perang Diponegoro


Sumber :


1. www.biografipedia.com
2. jagad.id
3. sejarahlengkap.com
4. pahlawancenter.com
5. historia.id


Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Malam 3 Yasinan

    Malam 3 Yasinan adalah sebuah film horor Indonesia
  • Film - Pokun Roxy (2013)

    Pokun Roxy adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved