Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika merupakan tokoh pejuang wanita sekaligus sebagai pahlawan nasional yang dikukuhkan pemerintah Indonesia pada 1 Desember 1966.


zoom-inlihat foto
Raden-Dewi-Sartika.jpg
kemdikbud.go.id via Kompas.com
Raden Dewi Sartika merupakan tokoh pejuang wanita sekaligus sebagai Pahlawan Nasional yang dikukuhkan Pemerintah Indonesia pada 1 Desember 1966.

Raden Dewi Sartika merupakan tokoh pejuang wanita sekaligus sebagai pahlawan nasional yang dikukuhkan pemerintah Indonesia pada 1 Desember 1966.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Raden Dewi Sartika merupakan tokoh pejuang wanita sekaligus sebagai pahlawan nasional yang dikukuhkan Pemerintah Indonesia pada 1 Desember 1966.

Dewi Sartika dilahirkan di Cicalengka, Bandung, pada 4 Desember 1884, dari keluarga Sunda ternama, yaitu Raden Rangga Somanegara dan R.A. Rajapermas.

Raden Rangga Somanegara merupakan seorang priyayi yang sudah maju pada masa itu.

Dewi Sartika dikenal sebagai tokoh Jawa Barat yang menjadi perintis pendidikan bagi kaum perempuan.

Ia mendirikan sekolah untuk kaum perempuan yang diberi nama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung.

Pada ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Isteri, ia dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau sebagai penghargaan atas jasanya dalam memperjuangkan pendidikan.

Raden Dewi Sartika meninggal di Cineam, Tasikmalaya, pada 11 September 1947, ketika usianya 62 tahun. (1) (2)

Dewi Sartika
Dewi Sartika (Pahlawancenter.com)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Raden Ajeng Kartini

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Dien

  • Masa Muda


Ayah Dewi Sartika, Raden Somanegara, diasingkan ke Ternate oleh pemerintah kolonial atas tuduhan keterlibatan dalam sabotase acara pacuan kuda di Tegallega untuk mencelakai Bupati Bandung yang baru, R.A.A Martanegara.

Sejak saat itu, Dewi tinggal bersama pamannya, Raden Demang Suria Kartahadiningrat, yang menjadi Patih Cicalengka.

Dewi Sartika mendapat pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat dengan bersekolah di Eerste Klasse School untuk penduduk non-Eropa hingga kelas dua.

Dewi disambut dengan dingin dan diperlakukan berbeda dalam keluarga pamannya karena hukuman buang yang diterima ayahnya dianggap sebagai aib bagi golongannya. (1) (2)

  • Gagasan


Kala itu, kedudukan perempuan dalam masyarakat Sunda mengalami kemunduran akibat berbagai faktor.

Faktor pertama, ketika zaman Kerajaan Mataram, berkembang feodalisme yang menempatkan istri sebagai lambang status seorang pria.

Faktor kedua, kedatangan agama Islam membuat masyarakat banyak yang salah memahami konsep perempuan dalam Islam, yang menganggap merempuan lebih lemah dari laki-laki.

Faktor ketiga, sering terjadinya kawin paksa atau kawin gantung (pernikahan anak-anak) terus berlanjut hingga timbul tradisi yang mengekang kaum perempuan.

Ketiga faktor itu lah yang melatarbelakangi terciptanya sebuah tekad kuat dari Dewi Sartika untuk melakukan emansipasi wanita.

Emansipasi ini lebih berfokus pada peningkatan kerjasama dengan memberikan pemahaman dan kesadaran perihal hak serta kewajiban masing-masing. (2)

Sekolah Dewi Sartika (www.disparbud.jabarprov.go.id)
Sekolah Dewi Sartika (www.disparbud.jabarprov.go.id) ((www.disparbud.jabarprov.go.id))

  • Mendirikan Sekolah


Pada tahun 1899, Dewi Sartika kembali ke Bandung dan menetap di sana.

Ia masih melihat kehidupan kolot di Cicalengka yang dinilai tidak akan memberi kemajuan apa-apa.

Ia pun kemudian memberanikan diri untuk bertemu dengan Bupati Bandung Martanegara untuk meminta izin mendirikan sekolah bagi gadis remaja.

Setelah mendapat persetujuan, ia pun mendirikan sekolah untuk wanita yang diberi nama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung, pada 16 Januari 1904.

Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910.

Dewi Sartika mengajari para wanita membaca, menulis, berhitung, pendidikan agama, hingga berbagai ketrampilan.

Pada tahun 1912, terdapat sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, yang kemudian berkembang menjadi satu sekolah di tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920.

Sekolah tersebut kemudian berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi pada September 1929.

Sekolah Raden Dewi berkembang dengan pesat, sebelum akhirnya mengalami krisis keuangan dan peralatan ketika masa pendudukan Jepang. (1) (2)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Meutia

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Maria Walanda Maramis

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Raden Dewi Sartika
Lahir Cicalengka, Bandung, 4 Desember 1884
Wafat Cineam, Tasikmalaya, 11 September 1947
Orangtua Raden Rangga Somanegara, R.A. Rajapermas
Suami Raden Kanduruhan Agah Suriawinata


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved