17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Aceh.


zoom-inlihat foto
fotojet_21jpgcutnyakdien.jpg
pukultujuh.com
Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Aceh.




  • Informasi #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Cut Nyak Dien merupakan pahlawan nasional yang lahir di Lampadang, Aceh tahun 1848 dari kalangan bangsawan.

Presiden Sukarno menetapkan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 106, pada 2 Mei 1964.

Cut Nyak Dien melakukan perlawanan terhadap Belanda dari hutan selama 25 tahun dan aktif dalam menulis serta menyampaikan pidato tentang keindahan jihad.

Ayah Cut Nyak Dien, Teuku Nanta Setia adalah seorang uleebalang (komandan, atau secara harfiah, perwira militer Sultan) dari VI Mukim Distrik Militer Sagi XXV.

Nenek moyang Nanta Setia adalah Panglima Nanta (Panglima Komando), seorang keturunan dari Sultanah Tajjul Alam, seorang duta besar Aceh (juga seorang wanita) untuk Kesultanan Pagaruyung di Sumatra Barat.

Cut Nyak Dien menikah muda pada tahun 1862 dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra uleebalang dari Lam Nga XIII. (1)

Cut Nyak Din
Cut Nyak Din (assajidin.com)

  • Perjuangan #


Masa perjuangan Cut Nyak Dien dimulai sejak 26 Maret 1873.

Kala itu Belanda telah menyatakan perang kepada Aceh.

Tak tanggung-tanggung, pasukan yang dikerahkan Belanda untuk berperang melawan rakyat Aceh berjumlah sekitar 3.198 prajurit.

Pada 8 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler, mendarat di Pantai Ceureumen dan berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman.

Tak hanya menguasai, Kohler dan pasukan juga membakar masjid tersebut di hadapan rakyat Aceh.

Cut Nyak Dien yang melihat peristiwa itu seketika berang.

Kendati berhasil memenangkan perang pertama dan menewaskan pimpinan pasukan Belanda yakni Kohler, pertempuran belum berakhir.

Di bawah pimpinan berikutnya, yakni Jenderal Han van Swieten, daerah VI Mukim yang notabene tempat tinggal Cut Nyak Dien, berhasil dikuasai Belanda.

Setahun berikutnya, Keraton Sultan pun jatuh.

Hal itu membuat Cut Nyak Dien dan rombongan kaum ibu lainnya mengungsi pada Desember 1875.

Pada 29 Juni 1878, suami Cut Nyak Dien, yakni Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran melawan Belanda ketika tengah berupaya merebut kembali VI Mukim.

Hal itu membuat Cut Nyak Dien semakin geram dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Pada momen ini, tokoh pejuang rakyat Aceh lainnya, Teuku Umar akhirnya melamar Cut Nyak Dien.

Pada awalnya Cut Nyak Dien menolak pinangan tersebut.

Namun, karena Teuku Umar mengizinkan dan mempersilakannya untuk terjun dalam pertempuran melawan Belanda, Cut Nyak Dien akhirnya menerima dan menikah dengannya pada 1880.

Hal tersebut meningkatkan moral semangat perjuangan rakyat Aceh untuk melawan kaphe ulanda (Belanda kafir).

Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien kembali berjuang untuk melawan pasukan Belanda.

Pada 1893, Teuku Umar sempat melakukan siasat dengan berpura-pura menyerahkan diri dan menjalin kerja sama dengan Belanda.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui berbagai strategi perang Belanda.

Siasat itu berhasil dilaksanakan.

Setelah tiga tahun berkamuflase, Teuku Umar kembali berbalik memerangi Belanda.

Tak ayal Belanda harus terus menerus mengganti jenderal perangnya di Aceh kala itu.

Namun nahas, pada Februari 1899, Teuku Umar wafat akibat tertembak oleh pasukan Belanda dan Cut Nyak Dien kembali kehilangan suami.

Kepergian Teuku Umar sangat memukul perasaan Cut Gambang, anak Cut Nyak Dien dari pernikahannya dengan Teuku Umar.

Kendati kembali harus kehilangan suami, hal itu tak membuat Cut Nyak Dien mengerutkan naluri perjuangannya. 

Cut Nyak Dien memimpin pertempuran melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecil.

Namun, kondisi Cut Nyak Dien memang semakin renta. Matanya pun mulai rabun.

Melihat kondisi demikan, sisa pasukan yang dipimpinnya merasa sangat iba dan tak tega padanya.

Karena perasaan iba dan tak tega, salah satu pasukan Cut Nyak Dien yakni Pang Laot Ali, akhirnya memberikan informasi terkait keberadaan markasnya bersama Cut Nyak Dien kepada Belanda. 

Cut Nyak Dien akhirnya berhasil ditangkap Belanda dan dibawa ke Banda Aceh, sebelum akhirnya dibuang ke Sumedang Jawa Barat pada akhir 1906.

Kendati demikian, Cut Gambang berhasil melarikan diri ke tengah hutan ketika ibunya dikepung Belanda.

Hingga dua tahun kemudian, Cut Nyak Dien wafat di pengasingan. (2)

Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien (pukultuju.com)

  • Akuisisi Senjata #


Cut Nyak Dien dan Teuku Umar pergi dengan semua pasukan dan peralatan berat Belanda serta senjata dan amunisi.

Hal ini menimbulkan kemarahan Belanda dan operasi besar diluncurkan untuk menangkap Cut Nyak Dien dan Teuku Umar.

Namun, pasukan gerilya dengan peralatan terbaik yang dicuri dari Belanda mengembalikan identitasnya kepada pasukan gerilya strategis.

Cut Nyak Dien dan Teuku Umar mulai menyerang Belanda dengan keras sementara Jenderal Van Switten digantikan.

Dien dan Umar berulang kali memberikan tekanan pada Banda Aceh (Kutaraja) yang diduduki dan Meulaboh (bekas pangkalan suaminya).

Pasukan gerilya yang perkasa diciptakan, dilatih dan dipimpin oleh pasangan yang tangguh ini.

Akan tetapi, sejarah mengerikan terjadi ketika Jenderal Van Der Heyden diangkat dan tidak pernah dilupakan oleh orang Aceh.

Pembantaian brutal dan berdarah terhadap pria, wanita dan anak-anak yang tidak berdosa terjadi.

Tepatnya ketika Jenderal Van Der Heyden melibatkan satuan 'De Marsose'.

Sebagian besar pasukan 'De Marsose' adalah orang Ambon Kristen.

Mereka menghancurkan segala sesuatu di jalan, termasuk properti dan desa.

Unit-unit ini bahkan menyebabkan tentara Belanda merasa empati kepada orang Aceh, dan Van Der Heyden pada akhirnya membubarkan unit 'De Marsose'. (1)

  • Kehidupan Pribadi #


Ketika Lampadang, tanah kelahirannya diduduki Belanda pada bulan Desember 1875, Cut Nyak Dien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan sang suami, Teuku Ibrahim Lamnga.

Suami Cut Nyak Dien gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum bulan Juni 1878.

Dua tahun setelah kematian suami pertamanya atau tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, kemenakan sang ayah.

Teuku Umar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda.

Teuku Umar telah dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

 Teuku Umar terkenal sebagai seorang pejuang yang banyak taktik.

Pada tahun 1893, pernah berpura-pura melakukan kerja sama dengan Belanda hanya untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang.

Setelah tiga tahun berpura-pura bekerja sama, Teuku Umar malah berbalik menyerang Belanda.

Tapi dalam suatu pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Pebruari 1899, Teuku Umar gugur. (3)

Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien (pahlawancenter)

  • Diasingkan ke Jawa #


Cut Nyak Dien diasingkan oleh Belanda, ditemani oleh tahanan politik Aceh lainnya.

Karena sifat religius mereka yang dalam, terutama Cut Nyak Dien, mereka ditempatkan bersama ulama setempat, bernama Ilyas.

Pengetahuan Islam yang kuat dan kemampuannya untuk membaca Al-Quran dengan indah membuat Cut Nyak Dien mendapatkan undangan untuk mengajar tentang Islam. (1)

  • Makam #


Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang, Jawa Barat.

Makam Cut Nyak Dien baru diketahui secara pasti pada 1960 atau sekitar 50 tahun setelah kematiannya.

Penemuan dilakukan oleh Pemda Aceh yang memang sengaja menelusuri makam Cut Nyak Dien.

Perjuangan Cut Nyak Dien bahkan membuat seorang penulis dan sejarawan Belanda, Ny Szekly Lulof kagum dan menggelarinya Ratu Aceh. (4)

(Tribunnewswiki.com/Wiene)



Info Pribadi
Nama Cut Nyak Dien
Lahir Lampadang, Aceh, 1848
Wafat Sumedang, 6 November 1908
Suami Teuku Ibrahim Lamnga
Teuku Umar
Anak Cut Gambang
Jasa Pahlwan Indonesia


ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved