Korps Speciale Troepen (KST)

KST adalah kesatuan pasukan khusus Belanda yang terlibat di balik layar ketika masa-masa Revolusi Nasional Indonesia.


zoom-inlihat foto
Korps-Speciale-Troepen-KST.jpg
Wikimedia via Wikipedia
KST adalah kesatuan pasukan khusus Belanda yang terlibat di balik layar ketika masa-masa Revolusi Nasional Indonesia.

KST adalah kesatuan pasukan khusus Belanda yang terlibat di balik layar ketika masa-masa Revolusi Nasional Indonesia.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Korps Speciale Troepen (KST) adalah kesatuan pasukan khusus Belanda yang terlibat di balik layar ketika masa-masa Revolusi Nasional Indonesia.

Dua kompi KST berperang bersama dengan pasukan separatis RMS (Republik Maluku Selatan) yang pro-Belanda saat masa-masa awal terbentuknya Indonesia.

Sebelum terbentuk, KST merupakan gabungan dari kesatuan Depot Speciale Troepen (DST) dan Regiment Speciale Troepen (RST).

Salah satu tokoh DST yang terkenal karena kebrutalannya yaitu Kapten Raymond Westerling.

Ia adalah komandan DST yang merupakan dalang dari peristiwa Pembantaian Westerling dan Kudeta APRA yang menewaskan ribuan penduduk Indonesia saat itu.

Melihat kemampuan dan keterampilan pasukan KST, terutama penembak runduk mereka, Tentara Nasional Indonesia terinspirasi, sehingga para jenderal Indonesia yang terlibat kemudian meniru dan membentuk sebuah kesatuan pasukan khusus untuk Indonesia, yang kemudian hari dikenal sebagai Kopassus.

Komandan pertama dari unit yang baru ialah Mayor Rokus Bernardus Visser, yang sudah membelot dari pengabdian pada Belanda menjelang kesudahan perang.

Raymond Westerling pemimpin APRA (wawasansejarah.com)
Raymond Westerling pemimpin APRA (wawasansejarah.com) (wawasansejarah.com)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Pembantaian Raymond Westerling di Sulawesi Selatan

Baca: Komando Pasukan Khusus (Kopassus)

Dia menetap di Indonesia kemudian menikah dengan seorang wanita Indonesia dan dikenal dengan cara lokal sebagai Mochamad Idjon Djanbi.

Akhirnya dia dihubungi dan direkrut oleh Tentara Nasional Indonesia, yang di kesatuan tersebut dia membuat unit baru yang akhirnya dinamakan sebagai Kopassus, dengan baret merah yang sama seperti dengan KST.

  • Operasi


Pada akhir tahun 1946, DST di bawah Kapten Raymond Westerling dikerahkan ke Sulawesi Selatan untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di daerah tersebut.

Kaum nasionalis Indonesia setempat, dengan menggunakan taktik teror, berusaha mencegah kembalinya kekuasaan Belanda.

Westerling memimpin kampanye kontra-teror kontroversial yang kemudian dikenal sebagai ""South Celebes Affair," di mana ribuan tersangka nasionalis tewas.

DST/KST kemudian fokus pada upaya kontra-pemberontakan.

Tradisi KNIL yang kaya di bidang ini, dikombinasikan dengan keterampilan komando modern, ternyata menjadi strategi untuk sukses.

Ketika nasionalis Indonesia beralih ke perang gerilya, pasukan khusus semakin dipanggil dan kaum revolusioner belajar untuk menghindari konfrontasi dengan unit KST sebanyak mungkin.

Hal ini bukan hanya soal bertahan hidup dikarenakan para pejuang Indonesia bukan tandingan pasukan komando KST yang kawakan, tetapi juga soal taktik.

Ketika pasukan KST meninggalkan daerah untuk operasi di tempat lain, kaum nasionalis hanya kembali untuk melanjutkan aksi gerilya mereka melawan tentara tetap Belanda.

Pasukan terjun payung KST melakukan sejumlah operasi udara.

Pada awal Operasi Kraai pada akhir 1948, mereka merebut bendera ibukota Republik Yogyakarta sebagai awal dari penaklukan Belanda atas kota tersebut dan pemenjaraan pimpinan Indonesia, termasuk Presiden Sukarno.

Contoh keunggulan kualitatif KST/RST atas para pejuang Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah operasi terakhir RST sebelum Konferensi Meja Bundar Belanda-Indonesia pada Agustus 1949.

TNI membuat upaya terakhir sebelum gencatan senjata untuk menyusup ke Surakarta di Jawa Tengah.

Sebanyak 325 orang dari RST buru-buru diterbangkan untuk mengusir TNI dari kota.

Pengepungan Surakarta diselesaikan dalam beberapa hari dengan TNI kehilangan sekitar 400 orang, sedangkan RST hanya menderita tiga luka.

Tak menutup kemungkinan sejumlah korban sipil termasuk dalam kerugian TNI.

Setelah penyerahan kedaulatan dan berakhirnya permusuhan secara resmi, pasukan komando RST beraksi untuk terakhir kalinya, meskipun tanpa persetujuan dari atasan mereka.

Beberapa dari mereka terlibat dalam percobaan kudeta terhadap rezim Soekarno pada Januari 1950, sebagai bagian dari Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh mantan Kapten Raymond Westerling.

Baca: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Pembantaian Rawagede

  • Komandan


• Kapten W.J. Scheepens, 1946 (lumpuh)

• Kapten R.P.P. Westerling, 1946–1948 (dibebaskan)

• Letnan kolonel W.C.A. van Beek, 1948–1949

• Letnan kolonel J.J.F. Borghouts, 1949-1950

Baca: APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)

Baca: KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger)

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Korps Speciale Troepen (KST)
Pasukan Depot Speciale Troepen (DST) dan Regiment Speciale Troepen (RST)
Dipimpin Kapten Raymond Westerling
   


Sumber :


1. www.andrafarm.co.id
2. en.wikipedia.org








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Pihak Mansyardin Malik Datangi MUI,

    Polemik Mansyardin Malik dengan Marlina Octoria makin memanas.
  • Samsung Galaxy M32 5G

    Samsung Galaxy M32 5G adalah ponsel pintar buatan
Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved