Komando Pasukan Khusus (Kopassus)

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dibentuk pada 16 April 1952.


zoom-inlihat foto
komando-pasukan-khusus-kopassus-1.jpg
KOMPAS.com/Kristian Erdianto
Satuan Kopassus saat parade pasukan dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) pada gladi bersih upacara Hari Ulang Tahun ke-72 TNI di Dermaga PT Indah Kiat, Cilegon, Banten, Selasa (3/10/2017).(KOMPAS.com/Kristian Erdianto)

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dibentuk pada 16 April 1952.




  • Informasi awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dibentuk pada 16 April 1952.

Setelah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia memahami kebutuhan akan militer untuk mempertahankan kedaulatan.

Indonesia memiliki pasukan Pembela Tanah Air yang dibentuk Jepang dan melebur menjadi Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah nama menjadi TKR, hingga TNI.

Tak hanya itu, Indonesia juga membentuk satuan khusus untuk mengatasi sejumlah tantangan, satu di antaranya adalah separatisme.

Pada 16 April 1952, akhirnya dibentuk Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang kini dikenal dengan baret merah.

Baca: HUT TNI (Tentara Nasional Indonesia)

beret merah kopassus
Baret merah dan pisau yang identik dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) (kopassus.mil.id)

  • Sejarah Kopassus #


Sejarah kelahiran Komando Pasukan Khusus sebagai satuan tidak terlepas dari rangkaian bersejarah kehidupan bangsa Indonesia.

Pada Juli 1950, timbul pemberontakan di Maluku oleh kelompok yang menamakan dirinya RMS (Republik Maluku Selatan).

Pimpinan Angkatan Perang RI saat itu segera mengerahkan pasukan untuk menumpas gerombolan tersebut.

Operasi ini dipimpin langsung oleh Panglima Tentara Teritorium III Kolonel A.E. Kawilarang, sedangkan sebagai Komandan Operasi ditunjuk Letkol Slamet Riyadi.

Operasi ini berhasil menumpas gerakan pemberontakan, namun dengan korban yang tidak sedikit dipihak TNI.

Setelah dikaji, ternyata dalam beberapa pertempuran, musuh dengan kekuatan yang  relatif lebih kecil sering kali mampu menggagalkan serangan TNI yang kekuatannya jauh lebih besar.

Hal ini ternyata bukan hanya disebabkan semangat anggota pasukan musuh yang lebih tinggi atau perlengkapan yang lebih lengkap.

Namun juga taktik dan pengalaman tempur yang baik didukung kemampuan tembak tepat dan gerakan perorangan.

Peristiwa inilah yang akhirnya mendorong Letkol Slamet Riyadi untuk memelopori pembentukan suatu satuan pemukul yang dapat digerakan secara cepat dan tepat untuk menghadapi berbagai sasaran di medan yang bagaimanapun beratnya.

Namun keinginan Letkol Slamet Riyadi tidak dapat diwujudkan karena gugur pada salah satu pertempuran. (1)

Gagasan itu baru dapat diwujudkan dua tahun kemudian oleh Kawilarang yang saat itu menjabat Panglima Tentara dan Teritorium (TT) III/ Siliwangi.

Dikutip dari Harian Kompas yang terbit pada 16 April 1992, Kawilarang dibantu Mayor RB Visser alias Mochamad Idjon Djanbi.

Idjon Djanbi merupakan mantan anggota Korps Speciale Troepen (KST), pasukan khusus tentara Kerajaan Belanda dan tercatat pernah bertempur dalam Perang Dunia II.

Akhirnya, pada 16 April 1952, Tentara dan Teritorium III/Siliwangi ditetapkan menjadi Kesatuan Komando Tentara dan Teritorium (Kesko TT) III/ Siliwangi.

Djanbi dipercaya menjadi komandan pertama.

Pendidikan komando angkatan pertama dibuka pada 1 Juli 1952 di Batujajar, diikuti 400 siswa.

Lulusan dari pendidikan ini merupakan militer dengan kualifikasi komando yang mempunyai keahlian khusus. (2)

  • Perubahan Nama
    • KKAD
    #


Pada 9 Februari 1953, Kesko TT dialihkan dari Siliwangi dan langsung berada di bawah Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

  • KSAD

Lalu pada 18 Maret 1953 Mabes ABRI mengambil alih dari komando Siliwangi dan kemudian mengubah namanya menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD).

  • RPKAD

Pada 25 Juli 1955 organisasi KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan S=Darat (RPKAD) yang tetap dipimpin oleh Mochamad Idjon Djanbi.

Tahun 1959 unsur-unsur tempur dipindahkan ke Cijantung di timur Jakarta.

Saat itu organisasi militer itu telah dipimpin oleh Mayor Kaharuddin Nasution.

Pada saat operasi penumpasan DI/TII, komandan pertama adalah Mayor Idjon Djanbi terluka yang akhirnya digantikan oleh Mayor RE Djailani.

  • Puspassus AD

Pada 12 Desember 1966, RPKAD berubah pula menjadi Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD).

Nama Puspassus AD ini hanya bertahan selama lima tahun.

Sebenarnya hingga tahun 1963, RPKAD terdiri dari dua batalyon, yaitu batalyon 1 dan batalyon 2 yang semuanya bermarkas di Jakarta.

Batalyon 1 dikerahkan ke Lumbis dan Long Bawan saat konfrontasi dengan Malaysia, sedangkan batalyon 2 juga mengalami penderitaan di Kuching, Malaysia.

Personel nyata RPKAD saat itu tak lebih dari 1 Batalyon, hal ini membuat komandan RPKAD saat itu, Letnan Kolonel Sarwo Edhie meminta penambahan personel dari 2 batalyon Banteng di Jawa Tengah pada Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Saat menumpas DI/TII di Jawa Tengah, Ahmad Yani membentuk operasi 'Gerakan Banteng Negara' (GBN) yang sering disebut Batalyon Banteng Raiders.

Ahmad Yani menyanggupi dan memberikan Batalyon 441 'Banteng Raider III' Jatingaleh, Semarang dan Batalyon Lintas Udara 436 'Banteng Raider I' Magelang.

Melalui rekrutmen dan seleksi latihan Raider di Bruno Purworejo dan latihan Komando di Batujajar, Batalyon 441 'Banteng Raider III' ditahbiskan sebagai Batalyon 3 RPKAD (Tri Budhi Maha Sakti) di akhir tahun 1963.

Menyusul kemudian Batalyon Lintas Udara 436 'Banteng Raider I' Magelang menjadi Batalyon 2 menggantikan 2 Batalyon lama yang kekurangan tenaga di pertengahan 1965.

Perbedaan yang mencolok adalah prajurit RPKAD pada Batalyon 1 dan 2 awal di Cijantung diambil dari seleksi anak-anak muda (sipil) sementara pada Batalyon 2 dan 3 seleksi prajurit RPKAD diambil dari prajurit yang sudah mempunyai jam terbang serta pengalaman operasi militer.

Sedangkan Batalyon 454 'Banteng Raider II' tetap menjadi batalyon di bawah naungan Kodam Diponegoro.

Batalyon ini kelak berpetualang di Jakarta dan terlibat tembak menembak dengan Batalyon 1 RPKAD di Hek.

  • Kopassandha

Pada 17 Februari 1971, resimen tersebut diberi nama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha).

Dalam operasi Timor Timur pasukan ini memainkan peran sejak awal.

Mereka melakukan operasi khusus guna mendorong integrasi Timtim dengan Indonesia.

Pada 7 Desember 1975, pasukan ini merupakan angkatan utama yang pertama ke Dili.

Pasukan ini ditugaskan untuk mengamankan lapangan udara sementara Angkatan Laut dan Angkatan Udara mengamankan kota.

Semenjak saat itu, peran pasukan ini terus berlanjut dan membentuk sebagian dari kekuatan udara yang bergerak (mobile) untuk memburu tokoh Fretilin, Nicolau dos Reis Lobato pada Desember 1978.

Prestasi yang melambungkan nama Kopassandha adalah saat melakukan operasi pembebasan sandera yaitu para awak dan penumpang pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesian Airways yang dibajak oleh lima orang yang mengaku berasal dari kelompok ekstremis Islam 'Komando Jihad dipimpin Imran bin Muhammad Zein, 28 Maret 1981.

Pesawat dengan rute Palembang-Medan itu sempat didaratkan di Penang, Malaysia dan akhirnya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok.

Di bawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan, pasukan Kopassandha mampu membebaskan seluruh sandera dan menembak mati semua pelaku pembajakan.

Korban yang jatuh dari operasi ini adalah Capa (anumerta) Achmad Kirang serta pilot Kapten Herman Ranter yang ditembak oleh pembajak.

Imran bin Muhammad Zein ditangkap dalam peristiwa tersebut dan dijatuhi hukuman mati.

Pada tahun 1992, Kopassandha menangkap penerus Lobato, Xanana Gusmao yang bersembunyi di Dili bersama pendukungnya.

  • Kopassus

Adanya reorganisasi di tubuh ABRI sejak tanggal 26 Desember 1986, nama Kopassandha berubah menjadi Komando Pasukan Khusus yang lebih terkenal dengan nama Kopassus hingga kini.

Pasukan yang khas dengan baret merah ini memiliki moto Tribuana Chandraca Satya Dharma yang memiliki arti 'Berani, Benar, Berhasil'. (3)

  • Lambang dan Moto Kopassus #


Lambang atau gambar yang terdapat pada Pataka Kopassus sama dengan emblem yang dikenakan setiap anggota di baretnya.

Pada mulanya, emblem dirancang oleh Letda Inf Dodo Sukanto tahun 1955 selaku perwira Biro Pengajaran yang dibantu oleh Sersan Hasan selaku juru gambar.

Lambang memadukan unsur Komando (gambar pisau komando), unsur laut atau air (digambarkan dalam bentuk jangkar) dan udara (digambarkan sepasang sayap) yang dibingkai oleh tali komando.

Pada 1964, lambang tersebut dirampingkan dengan menempatkan gambar pisau komando di bagian depan, tetapi gambar dan tanda pada prinsipnya tidak berubah.

Lambang itulah yang digunakan hingga sekarang seperti terlihat di emblem baret maupun di Pataka Kopassus.

lambang kopassus
Lambang Komando Pasukan Khusus (Kopassus)

Arti dari sesanti Tribuana Chandraca Satya Dharma:

a. TRIBUANA atau Tiga Jagad sebagai prajurit harus mampu berkiprah di tiga matra yaitu darat, laut dan udara.

b. CHANDRACA: Senjata ampuh yang berbentuk kecil menggambarkan bahwa Pasukan Khusus meletakkan kemampuan di atas jumlah dan digunakan untuk tugas-tugas yang bernilai strategis.

c. SATYA DHARMA: Kesetiaan dan dedikasi sebagai sifat yang tidak terpisahkan dari sifat luhur prajurit yang dijiwai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. (1)

  • Organisasi
    • Tugas Pokok
    #


Kopassus bertugas pokok membantu KSAD dalam membina fungsi dan kesiapan operasional pasukan khusus serta menyelenggarakan Operasi Komando, Operasi Sandi Yudha dan Operasi Penanggulangan Teror sesuai perintah Panglima TNI dalam rangka mendukung Tugas Pokok TNI.

  • VISI & MISI

VISI : “Menjadikan Prajurit Kopassus yang Disiplin dan Professional. Dilandasi Akhlak, Moralitas dan Integritas“

MISI :

b. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan khusus.

c.  Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan dari satuan atas dalam pencapaian tugas pokok satuan. (1)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Saradita Oktaviani)



Nama Lembaga Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Tanggal dibentuk 16 April 1952
   


Sumber :


1. kopassus.mil.id
2. nasional.kompas.com
3. makassar.tribunnews.com


Ikuti kami di

ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved