17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Pembantaian Raymond Westerling di Sulawesi Selatan

Pembantaian yang mengatasnamakan operasi militer terjadi di Sulawesi Selatan oleh pasukan DST belanda dipimpin Raymond Westerling. Pembantaian


17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Pembantaian Raymond Westerling di Sulawesi Selatan
https://nimh-beeldbank.defensie.nl
Sosok Raymond Westerling, pimpinan operasi militer pembantaian di Sulawesi Selatan pada Desember 1949 

Pembantaian yang mengatasnamakan operasi militer terjadi di Sulawesi Selatan oleh pasukan DST belanda dipimpin Raymond Westerling. Pembantaian




  • Latar Belakang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perlawanan di Sulawesi Selatan kepada Belanda terjadi ketika Perundingan Linggarjati berlangsung pada 11-13 November 1946 di Linggarjati, Cirebon, Jawa Barat.

Baca: 17 AGUSTUS - Perundingan Linggarjati (11-13 November 1946)

Perlawanan terjadi hampir setiap malam meskipun para tokoh pemimpin perlawanan telah banyak yang ditangkap, dibuang, disiksa bahkan dibunuh oleh Belanda.

Untuk mengatasi perlawanan tersebut, Jenderal Simon Spoor mengirimkan pasukan khusus yang dipimpin Raymond Pierre Paul Westerling atau Raymond Westerling.

Raymond Westerling diberi kekuasaan penuh dalam pelaksanaan tugas dan pengambilan keputusan.

Termasuk diperbolehkan melanggar Pedoman Peaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional atau Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger (VPTL).

Raymond Westerling  tiba di Makasar pada 5 Desember 1946, bersama 120 Depot Pasukan Khusus atau Depot Speciale Troepen (DST).

Raymond Westerling kemudian mendirikan markas di Mattoangin dan menyusun strategi Counter Insurgency yaitu penumpasan atau pembantaian rakyat yang dianggap sebagai pemberontak dan mengancam eksistensi Belanda di Sulawesi Selatan.

Dalam pelaksanaan strategi tersebut, Raymond Westerling dibantu oleh Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) atau badan intelejensi Belanda di Makassar. (1)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional : Malang Bumi Hangus (31 Juli 1947)

Potret pengumpulan rakyat yang dianggap sebagai pemberontak untuk kemudian dibantai oleh pasukan DST pimpinan Raymond Westerling
Potret pengumpulan rakyat yang dianggap sebagai pemberontak untuk kemudian dibantai oleh pasukan DST pimpinan Raymond Westerling (tribunnews.com)

  • Operasi Militer Pembantaian


Operasi militer Counter Insurgency pembantaian yang dipimpin oleh Raymond Westerling dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

Tahap Pertama

Terjadi pada 11 Desember 1946 dengan wilayah target operasi adalah Desa Batua dan beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar.

Sejumlah 58 pasukan DST pertama dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu Borong, sedangkan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff menyerbu Desa Batua dan Patunorang.

Pasukan tersebut ditugaskan untuk menggiring rakyat menuju Desa Batua di mana Raymond Westerling dan Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard telah menunggu kedatangan rakyat.

  • Fase Pertama

Pada pukul 4 pagi wilayah operasi telah dikepung oleh prajurit DST.

Setelah sinyal lampu dinyalakan pukul 5.45, pasukan DST melakukan penggeledahan di rumah-rumah penduduk kemudian seluruh rakyat digiring menuju Desa Batua.

Pada fase tersebut, sembilan orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati.

Sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat sejumlah 3.000-4.000 orang dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di Desa Batua.

Kemudian rakyat dikelompokkan kembali menjadi dua yaitu pria serta ibu dan anak.

  • Fase Kedua

Pada fase kedua, rakyat yang dianggap sebagai kaum pemberontak berdasarkan data NEFIS yang disusun oleh Vermeulen mulai dilakukan identifikasi.

Pelaksanaan identifikasi tersebut terpaksa dibantu oleh kepala adat atau kepala desa agar tidak terjadi kesalahan.

Penduduk yang dianggap sebagai pemberontak berjumlah 35 orang, terdiri atas 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.

Penduduk berjumlah 35 orang tersebut kemudian dijatuhi hukuman Standrecht atau eksekusi mati di tempat.

  • Fase Ketiga

Pada fase ketiga, Raymond Westerling mengganti kepala desa dan membentuk polisi desa untuk melindungi rakyat dari pemberontak, teroris dan perampok.

Setelah proses tersebut selesai pukul 12.30, rakyat diperintahkan pulang ke desa masing-masing.

Raymond Westerling terus melakukan operasi pembantaian dengan pola yang sama di Desa Tanjung Bunga pada 12 Desember 1946 malam.

Operasi tersebut menewaskan 61 orang dan kampung kecil di dekat Desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga jumlah korban tewas berjumlah 81 orang.

Pada 14 Desember malam, Raymond Westerling kembali melakukan operasi dengan pola yang sama di Kalukuang, pinggiran Kota Makassar.

Operasi tersebut menewaskan 23 orang.

Pada 16 Desember malam Desa Jongaya juga menjadi sasaran operasi dan 33 orang tewas dieksekusi oleh tim Raymond Westerling.

Tahap Kedua

Operasi tahap kedua berlangsung mulai 19 Desember 1946, ketika daerah sekitar Makassar telah 'dibersihkan'.

Sasaran pembantaian tahap kedua adalah Polobangkeng, yaitu daerah yang dilaporkan oleh NEFIS sebagai tempat bermukim sekitar 150 orang pasukan TNI dan sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata.

Pasukan DST dipimpin oleh Letkol KNIL, Veenendaal menyerbu Polobangkeng bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII.

Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu Desa Renaja dan Ko'mara.

Menggunakan pola yang sama seperti tahap pertama, operasi tahap kedua ini menewaskan 330 orang.

Tahap Ketiga

Pembantaian tahap ketiga dilaksanakan di Gowa, dan terdapat tiga fase yaitu pada 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947.

Menggunakan pola yang sama dengan tahap sebelumnya, 257 orang rakyat tewas dibantai oleh tim Raymond Westerling.

Keadaan Darurat

Pada 6 januari 1947, Jenderal Simon Spoor memberlakukan noodtoestand atau keadaan darurat untuk wilayah Sulawesi Selatan.

Pembantaian dengan pola yang sama terus dilakukan.

Raymond Westerling bahkan tidak hanya memimpin pasukan tetapi juga melakukan pembantaian dengan tangannya sendiri.

Pada pertengahan Januari 1947, pasar di daerah Pareparedan menjadi sasaran operasi kemudian dilanjutkan di Madello, Abbokongeng, Padakkalawa, Enrekang, Talabangi, Soppeng, Barru, Malimpung, dan Suppa.

Daerah di pesisir Tanete, Taraweang, Bornong-Bornong, Mandar, Kulo, Amparita dan Maroangin juga menjadi target sasaran operasi.

Selebihnya, operasi pembantaian semakin brutal.

Jika sebelumnya target pembantaian adalah orang-orang yang dianggap pemberontak, sasaran berikutnya adalah narapidana atau mantan narapidana dengan berbagai jenis kasus dikumpulkan kemudian dibunuh.

Selain di Sulawesi Selatan, pembantaian Raymond Westerling juga terjadi di Galung Lombok, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada 2 Februari 1947. (2)

Anggota pasukan DST pimpinan Raymond Westerling yang melakukan aksi pembantaian di Sulawesi Selatan
Anggota pasukan DST pimpinan Raymond Westerling yang melakukan aksi pembantaian di Sulawesi Selatan (Maarten Hidskes/thuisgelooftniemandmij.nl)

  • Kejahatan Perang


Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah teratasi, sehingga pada 21 Februari 1947 VPTL kembali diberlakukan dan pasukan DST ditarik ke Jawa.

Meski Raymond Westerling dan tim dianggap Belanda telah sukses melaksanakan operasi militer 'menumpas pemberontakan' di Sulawesi Selatan, pembantaian tersebut diputuskan sebagai kejahatan perang karena pelanggaran hak asasi manusia. (3)

Pada 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan (DK) Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) jumlah korban pembantaian Raymond Westerling sejak Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.

Jumlah tersebut dibantah oleh Belanda pada 1969 yang memperkirakan jumlah korban pembantaian Raymod Westerling sekitar 3.000.

Sedangkan Raymond Westerling menyatakan bahwa korban pembantaian hanya 600 orang. (4)

Perbuatan Raymond Westerling beserta pasukan DST lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena aksi tersebut mendapatkan izin dari Jenderal Simon Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr Hubertus Johannes van Mook.

Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda melalui duta besarnya di Jakarta, Tjeerd de Zwaan menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh korban pembantaian.

Pemerintah Belanda memberi kompensasi kepada 10 janda yang suaminya menjadi korban pembantaian Raymond Westerling 1946-1947.

Pada 20 Desember 2011, pengacara HAM Liesbeth Zegveld mengatakan para janda korban mencari keadilan atas kematian suami mereka.

Gugatan perdata dilayangkan sebab tak mungkin untuk mengajukan tuntutan pidana pada kasus yang terjadi jauh di masa lalu. (5)

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)



   


Sumber :


1. www.dictio.id
2. www.suharto.web.id
3. indonesiaindonesia.com
4. sejarahbudayanusantara.weebly.com
5. www.liputan6.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved