Sejarah Pride Month, Hari Spesial Kelompok LGBTQ yang Diperingati Tiap Bulan Juni

Pride Month adalah perayaan istimewa bagi kelompok LGBTQ di dunia yang dirayakan tiap bulan Juni. Bagaimana sejarah dan fakta soal bulan ini?


zoom-inlihat foto
Pride-Month-LGBT-Pelangi.jpg
AFP/Yuri CORTEZ
Anggota kelompok LGBTQ membawa poster dan bendera pelangi saat melakukan aksi 'I walk against discrimination' agar hak-hak mereka dihargai. Foto diambil pada saat perayaan Gay Pride Month di Caracas, 29 Mei 2021


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tahukah kalian tentang Pride Month, atau dalam bahasa Indonesia memiliki makna bulan kebanggaan?

Pride Month merupakan bulan istimewa bagi kelompok LGBTQ di seluruh dunia.

Sebelumya, perlu diketahui LGBTQ merupakan akronim dari kelompok yang terdiri atas identitas gender Lesbian Gay Biseksual Transgender dan Queer.

Penyebutan LGBT kerap ditemukan dengan berbagai tambahan huruf.

Misalnya dibelakang LGBTQ terdapat tambahan huruf 'A' atau Aseksual, 'Q' mewakili kata Queer, dan 'I' untuk kaum Interseks.

Tak mengherankan jika 'kelompok alphabetik' ini kerap ditemukan dengan istilah LGBTQ+ dengan tanda '+' atau plus mewakili identitas seksual lain termasuk Panseksual.

Lalu bagaimana sejarah dan fakta soal hari spesial kelompok LGBTQ ini?

Baca: Ribuan Transgender di Thailand Senang Kompak Perlihatkan Sertifikat Bebas dari Wajib Dinas Militer

Baca: Tak Hanya LGBT, Thailand Punya 18 Identitas Gender yang Diakui Secara Umum, Berikut Penjelasannya

Sejarah Pride Month

Ilustrasi lambang LGBT
Ilustrasi lambang LGBT (Kompas.com)

Pride Month memiliki kredit khusus pada seoang aktivis bernama Brenda Howard.

Dijabarkan oleh Etonline.com dan Advocate.com, Brenda Howard adalah seorang biseksual yang menginisiasi Pride Parade pertama kali di Amerika Serikat pada 1970.

Oleh karena itulah, kelompok yang bersimbolkan pelangi ini menyebut Brenda Howard sebagai 'Mother of Pride'.

Jauh sebelumnya, kelompok LGBTQ kerap mendapat diskriminasi hingga dilarang untuk untuk minum-minum maupun berdansa di bar.

Bahkan sebagian besar bar tidak mengizinkan kelompok ini masuk.

Mereka takut jika bar akan digerebek oleh polisi dan dikenai denda.

Satu di antaranya yang memperbolehkan kelompok LGBTQ berpesta adalah bar di Stonewall Inn.

Bar tersebut hingga saat ini masih bisa ditemui di sekitar Greenwich Village, New york City.

Pemilik bar, yang saat itu merupakan mafia setempat mengaku tak keberatan dengan hal tersebut.

Baginya, bisnis adalah bisnis dan uang bisa datang dari siapa saja tanpa kecuali.

Mengetahui keterbukaan Stonewall Inn, polisi setempat kerap melakukan razia kemudian menangkap kelompok beridentitas gender istimewa tersebut.

Tak hanya melakukan razia dan memberikan sanksi denda, polisi bahkan kerap melakukan tindakan koersif.

Tak tahan dengan kondisi tersebut, akhirnya pada 28 Juni 1969, kelompok ini bersatu untuk memperjuangkan hak mereka.

Kelompok ini melakukan aksi protes bernama Stonewall Riot atau Pemberontakan Stonewall selama tiga hari.

Peristiwa inilah yang kemudian melatarbelakangi adanya gerakan hak LGBTQ hingga saat ini.

Penggerebekan koersif yang dilakukan oleh polisi setempat di Stonewall Inn pada 1969
Penggerebekan koersif yang dilakukan oleh polisi setempat di Stonewall Inn pada 1969 (Getty Image via etonline.com)

Satu bulan kemudian, muncul pawai atau parade pertama dimana kelompok LGBTQ dengan bangga mengklaim keistimewaan indentitas gender mereka.

Parade tersebut diberi nama The Christopher Street Liberation Day March yang diinisiasi oleh Brenda Howard.

Satu tahun kemudian, untuk mengenang Stonewall Riots, Brenda Howard kembali menginisiasi parade yang sama pada 28 Juni 1970.

Saat itu, parade diikuti oleh ribuan suporter yang berjalan sejauh 15 blok dari 6th Avenue menuju Central Park.

Parade ini kemudian menjadi tonggak adanya Pride Parade dan Pride Month selama satu bulan penuh yang dirayakan setiap Juni.

Kelompok LGBTQ memang menggunakan kata 'pride' atau kebanggan untuk menamai bulan istimewa ini.

Hal tersebut lantaran butuh keberanian untuk mengungkap jati diri mereka yang memiiki identitas gender LGBTQ.

Sehingga kata 'pride' digunakan sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang berani menyuarakan sebagai bagian dari kelompok LGBTQ.

Bendera pelangi sebagai simbol kebanggaan kelompok LGBTQ

Bendera LGBT
Bendera LGBTQ (Kompas.com)

Kelompok LGBTQ memiliki simbol yaitu bendera pelangi.

Bendera pelangi tak menemani kaum LGBTQ di awal adanya Pride Parade.

Bendera berwarna-warni tersebut dipopulerkan sebagai simbol LGBTQ oleh seorang seniman asal San Fransiscom Gilbert Baker pada 1978.

Warna-warni dalam bendera tersebut tak hanya melambangkan keberagaman dalam komunitas LGBTQ.

Masing-masing warna memiliki artinya masing-masing.

Warna pink -yang kini sudah tidak digunakan, melambangkan seksualitas; merah melambangkan hidup; oranye mewakili kesembuhan atas penderitaan; kuning berarti sinar matahari.

Selain itu juga ada warna hijau yang melambangkan alam; turquoise mewakili warna keajaiban dan seni; indigo -yang kini diganti menjadi royal blue menggambarkan ketenangan; dan violet melambangkan semangat.

Tak hanya bendera pelangi yang menjadi simbol uatama, kelompok LGBTQ memiliki bendera masing-masing sebagai tanda identitas gender mereka.

Perayaan Pride Month saat pandemi Covid-19

Biasanya Pride Month dirayakan secara meriah baik oleh anggota kelompok LGBTQ maupun mereka yang mendukung adanya keberagaman identitas gender.

Mereka mengadakan Pride Parade memakai pernak-pernik berwarna pelangi atau simbol bendera masing-masing identitas gender.

Tak hanya itu, mereka juga membawa spanduk yang berisikan tuntutan kesetaraan hak untuk kelompok LGBTQ.

Namun karena pandemi Covid-19, Pride Parade tak diadakan semeriah biasanya.

Karena harus mematuhi protokol kesehatan dan tidak melakukan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang, kelompok LGBTQ melakukan kampanye dengan mengunggah postingan bertema Pride Month di sosial media.

Bahkan, per Senin, 1 Juni 2021, tagar #HappyPrideMonth trending di Twitter.

Diberitakan oleh The Sun, Pride Month juga dirayakan secara virtual.

Misalnya Brooklyn Pride akan mengadakan acara secara virtual selama satu pekan penuh mulai 7 Juni 2021.

The Denver Pride Parade juga akan mengadakan live streaming di halaman Facebook mereka, DenverPride.org.

Tahun lalu, acara yang diadakan oleh The Denver Pride Parade diikuti dan disaksikan oleh 400.000 pemirsa.

Baca: Legalkan LGBTQ, Ibukota India Adakan Festival Sastra Queer untuk Pertama Kalinya Sepanjang Sejarah

Baca: LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender)

Baca: Komisi Uni Eropa: 43% Orang LGBTIQ Mendapat Diskriminasi

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved