TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang dokter yang memberikan perawatan kepada pengunjuk rasa yang terluka oleh tentara dan polisi menggambarkan seminggu dalam kekacauan pasca kudeta Myanmar.
Dokter yang tidak disebutkan namanya ini membuat semacam 'diari' selama seminggu tentang kekacauan selama ini di Myanmar.
Ketika kudeta militer terjadi, ia bergabung dengan sekelompok petugas medis yang memberikan perawatan kepada pengunjuk rasa.
Ia, yang bukan dokter bedah, mengaku belajar cara mengobati luka tembak dari Youtube.
"Setiap hari adalah hari yang berisiko bagi kami."
"Saya mungkin ditangkap, saya mungkin ditembak mati. Kami tidak memiliki rompi antipeluru."
"Kami hanya memiliki rompi dan stetoskop."
"Ambulans kami telah ditembak dua kali sebelumnya."
"Kami hanya harus keluar dan lari," katanya dikutip The Guardian, Jumat (26/3/2021).
Baca: Korban Tewas Demo AntiKudeta Militer Myanmar Capai 320 Orang: 25% Tewas Ditembak di Kepala
Ia mengatakan, jika mereka, yang notabene sebagai dokter, tidak memberikan perlindungan medis, tidak akan ada tempat bagi orang untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
Banyak dokter dan perawat menolak bekerja di rumah sakit pemerintah, karena mereka memprotes junta.
Satu-satunya tempat lain untuk yang terluka adalah rumah sakit militer.
Baca: Bocah Perempuan Usia 7 Tahun Ditembak Mati Tentara Myanmar saat Berlari Ketakutan ke Pelukan Ayahnya
"Saya melakukan ini untuk rakyat negara saya, dan karena saya ingin anak-anak saya memiliki masa depan yang cerah," ujarnya.
Berikut diari dokter yang tidak disebutkan namanya ini:
SABTU
Setiap pagi saya berdoa.
Saya menulis golongan darah saya, nomor kontak darurat saya, berat badan saya dan surat kepercayaan lainnya di lengan saya.
Saya memberi tahu istri saya: jika saya tidak kembali, Anda harus hidup sendiri dan menjaga anak-anak.
Istri saya juga sangat aktif melawan kudeta militer.
Dia memberi tahu saya: lakukan apa yang harus Anda lakukan, dan jika Anda mati, saya akan bangga dengan Anda.