TRIBUNNEWSWIKI.COM - Duchess of Sussex atau yang lebih dikenal Meghan Markle sempat berpikir untuk bunuh diri.
Dalam wawancaranya bersama Oprah Winfrey, ia mengungkapkan rasisme yang dialami setelah masuk menjadi anggota keluarga kerajaan.
Meghan Markle menjelaskan rasisme dalam rumah tangganya di kerajaan dan media ikut andil dalam perasaan untuk tidak ingin hidup lagi.
Sejumlah wanita kulit hitam terkemuka di Amerika Serikat (AS) mengatakan itu sebagai efek kefanatikan yang menghancurkan.
Bintang tenis Serena Williams yang merupakan teman Meghan mengunggah di instragam-nya "penindasan yang sistemis dan viktimasi menghancurkan, mengisolasi, dan terlalu sering mematikan."
Lainnya juga berpendapat orang Amerika kemungkinan akan terkejut karena Meghan Markle khawatir akan warna kulit bayinya.
Baca: Beres Urusan Gugatan Media, Meghan Markle Diterpa Tudingan Bullying Terhadap Karyawan Istana
Baca: Meghan Markle Menangkan Gugatan Senilai Rp 8,9 M Lawan 2 Media Inggris
Keluarga kerajaan belum menanggapi pernyataan yang dibuat oleh Meghan Markle dan Pangeran Harry.
Dilansir oleh BBC, Meghan menjelaskan bahwa di dalam keluarga kerajaan ada kekhawatiran dan percakapan terkait seberapa gelap kulitnya saat dia lahir.
Erin Vanderhoof, jurnalis majalah Vanity Fair mengatakan kepada BBC bahwa "benar-benar tabu" menanyakan pertanyaan mengenai warna kulit bayi di Amerika, ia menyebut itu "melewati batas."
Di samping itu, dalam wawancara tersebut Meghan Markle dan Pangeran Harry mengungkapkan mereka menantikan bayi perempuan di musim panas.
"Tabu terhadap perkawinan beda ras dan itu masih bertahan adalah sesuatu yang kita kenal sebagai rasis," ungkapnya.
Baca: Nama Meghan Markle Dihapus dari Akta Kelahiran Archie Tanpa Sepengetahuannya
Baca: Kaleidoskop 2020: Drama Mundurnya Pangeran Harry dan Meghan Markle dari Kerajaan Inggris
Dia juga mengungkapkan seharusnya sebagian besar orang AS memahami keluarga kerajaan tidak mewakili semua orang Inggris.
Sementara itu, Stephanie Guerilus, sekretaris Asosiasi Jurnalis Hitam New York, mengatakan kepada BBC News;
"Penindasan terhadap Meghan Markle telah menjadi kebiasaan nasional di Inggris."
Ia juga menjelaskan, pertanyaan terkait kulit bayi bisa berasal dari ketidaktahuan, namun mengajukan pertanyaan tersebut berturut-turut menunjukkan mereka termotivasi oleh rasisme.
"Dalam menanyakan pertanyaan itu, Anda mengaitkan bayi yang masih ada dalam kandungan," tuturnya.
Baca: Pemegang Paspor Khusus Inggris Dilarang Memerankan Karakter Pangeran William dalam Film Spencer
Baca: Curi Barang di Istana Kensington, Camila Cabello Tak Bisa Tidur dan Minta Maaf pada Pangeran William
Di sisi lain, kejujuran Meghan dan keberaniannya untuk meninggalkan kerajaan dipuji oleh Amanda Gorman, Penyair Pemuda AS.
Ia menulis di laman pribadi Twitternya "kekuatan Meghan pasti akan mengubah keluarga di mana pun."
Di Inggris juga, beberapa wanita kulit hitam bereaksi terhadap wawancara tersebut.
Dr Shola Mos-Shogbamimu mengatakan kepada BBC News;