TRIBUNNEWSWIKI.COM - Jenderal Senior Myanmar Min Aung Hlaing mengungkapkan alasan mengapa mereka melakukan kudeta pada 1 Februari lalu.
Dilansir Kompas.com, pernyataan itu disampaikannya melalui pidato di televisi.
Pidato tersebut sontak menyulut kemarahan publik. Hal ini direspon dengan membunyikan panci dan wajan.
Kekuasaan diambil alih oleh Tatmadaw, nama resmi militer Myanmar, dengan menangkap sejumlah pemimpin sipil pada 1 Februari.
Pemimpin sipil tersebut diantaranya, Kanselir Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan pimpinan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).
Kudeta itu merupakan buntut kemenangan telak NLD yang mereka bukukan dalam pemilihan umum pada November 2020.
Hal itu dianggap curang oleh oposisi.
Baca: Penguasa Militer Tak Sangka Jutaan Rakyat Myanmar Berani Turun ke Jalan Protes Aksi Kudeta
Baca: Demokrat Minta Moeldoko Tak Bawa Nama Luhut dalam Isu Kudeta: Masih seperti Ngopi-ngopi Biasa
Jenderal Min mengklaim, pihaknya dibenarkan berkudeta dengan patokan pada tuduhan "penipuan suara".
Dilansir BBC, ia mengklaim komisi pemilu gagal menginvestigasi adanya kecurangan dan tak mengizinkan kampanye secara adil, Senin (8/2/2021).
Menurut Min, perebutan kekuasaan yang dilakukan Tatmadaw sejalan dengan konstitusi.
Perwira tinggi berusia 64 tahun itu pun memberikan janji kekuasaan mereka akan berbeda dari junta militer sebelumnya yakni yang berkuasa selama 49 tahun hingga 2011.
Dilansir AFP, usai masa darurat berakhir, pemilu yang bebas dan adil akan diadakan menurut konstitusi.
Min berjanji partai yang menang akan mendapatkan transfer kekuasaan dari Tatmadaw.
Dia meminta kepada warga Myanmar untuk mengikuti 'fakta yang disediakan', tidak megikuti 'perasaan mereka'.
Baca: Terjadi Kudeta di Myanmar, Muslim Rohingya Khawatir Militer Akan Lakukan Pembantaian Lagi
Baca: China Rugi Besar Gara-gara Militer Myanmar Kudeta Pemerintahan Aung San Suu Kyi
Selain itu, Min mengumumkan pencabutan larangan virus corona, pembukaan sekolah dan pagoda bagi pemeluk Buddha.
Ia juga menjanjikan etnis Rohingya yang mengungsi dalam operasi militer 2017, bakal dipulangkan ke Negara Bagian Rakhine.
Militer menerapkan jam malam di kota besar seperti Yangon dan Mandalay, saat mengumumkan janji tersebut.
Jam malam diterapkan mulai pukul 20.00 hingga 04.00.
Min Aung Hlaing hanya berpesan, tidak ada orang yang ada di atas hukum, terkait dengan demonstrasi yang menentang dirinya.
Meski demikian, televisi setempat menyiarkan, jika unjuk rasa sudah menyalahi aturan, Tatmadaw akan mengambil tindakan.