TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gunung merapi meletus pada Rabu siang (27/1/2021) sekitar pukul 13.45 WIB.
Dari kawasan Cangkringan, Sleman, kolom abu vulkanik membumbung dari puncak gunung.
Letusan besar setelah rentetan erupsi sejak Selasa lalu itu membuat warga was-was.
Apa lagi sebagian besar tubuh gunung tertutupi awan tebal, seperti diberitakan Tribunnews.com.
Hal itu menyulitkan pengamatan secara seksama, terkait apakah ada runtuhan besar atau guguran besar material.
Tak lama setelah letusan, video amatir beredar di media sosial.
Tampak letusan Gunung Merapi begitu dekat dengan pemukiman warga.
Baca: Merapi Keluarkan Awan Panas Guguran, Jarak Luncur 1.000 Meter, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada
Baca: Gunung Merapi Erupsi, Muntahkan Tiga Kali Awan Panas dan 47 Kali Guguran Lava Pijar
Guguran Awan Panas Terjadi Sejak Pagi Hari
Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi pagi ini pukul 06.53 WIB.
Awan panas guguran tersebut tercatat di seismogram dengan amplitudo 39 mm dan durasi 125 detik, tinggi kolom tersapu angin ke lereng arah timur.
"Estimasi jarak luncur 1.200 meter ke arah barat daya, hulu Kali Krasak dan Boyong," imbuh Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Rabu (27/1/2021).
Menurut Hanik, berdasarkan keterangan dari relawan dan masyarakat, tadi malam sempat terjadi hujan abu intensitas tipis di Dukuh Rogobelah, Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
Sedangkan, pagi ini dilaporkan hujan abu intensitas tipis di beberapa dukuh di Kecamatan Tamansari dan Musuk.
"Berdasarkan keterangan dari relawan dan masyarakat, tadi malam sempat terjadi hujan abu intensitas tipis di Dukuh Rogobelah, Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.
Hujan Abu
Baca: Kepala BPPTKG Sebut Aktivitas Gunung Merapi Menunjukkan ke Arah Terjadinya Erupsi
Baca: Viral Pendaki Capai Puncak Gunung Merapi, Kepala TNGM: Dia Terkenal, Sudah Menguasai Medan
Sedangkan pagi ini dilaporkan hujan abu intensitas tipis di beberapa dukuh di Kecamatan Tamansari dan Musuk," bebernya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada Selasa (26/1/2021) pukul 18.00-24.00 WIB teramati awan panas guguran Gunung Merapi sebanyak 11 kali.
Hanik melanjutkan, pada periode pengamatan Rabu (27/1/2021) pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Merapi tampak jelas, kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III.
Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 20 m di atas puncak kawah.
Secara meteorologi, cuaca berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah, sedang, hingga kencang ke arah timur, tenggara, dan selatan. Suhu udara 13-20 °C, kelembaban udara 74-96 persen, dan tekanan udara 567-685 mmHg.
Adapun aktivitas kegempaan yang terjadi dalam periode tersebut di antaranya 49 kali gempa guguran dengan amplitudo 6-30 mm dan durasi 12-125 detik serta 1 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 12 mm, S-P 1 detik, dan durasi 62 detik.
Status Gunung Merapi saat ini masih belum berubah, yakni siaga (level III). Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.
Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Hanik mengungkapkan, penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
Selain itu, pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.
"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi. Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali," tuturnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul BPPTKG: Terjadi Awan Panas Guguran Gunung Merapi Sejauh 1,2 Km, Dilaporkan Hujan Abu Tipis
(TribunnewsWiki.com/Ahmad Nur Rosikin) (TribunJogja/Maruti Asmaul Husna)