Dulu pernah diduga terjadi pada vaksin demam berdarah.
Saya enggak tahu bagaimana perkembangannya lagi. Silakan dicek,” kata dia.
Zubairi Djoerban juga menyinggung soal pengaruh jarum suntik saat vaksinasi terhadap tubuh.
“Ya kalau obesitas berlebihan tentu jaringan lemaknya banyak.
Jadi untuk masuk ke otot jadi lebih sulit. Dokter yang nantinya bisa menilai ukuran jarum suntik itu ketika akan divaksin,” pungkasnya.
Sebelumnya dalam pesan berantai tersebut tertulis dr. Taufiq Muhibbuddin Waly Sp.PD.
Ia menyatakan injeksi vaksin Sinovac seharusnya intramuskular (menembus otot) sehingga penyuntikannya harus dilakukan dengan tegak lurus (90 derajat).
Dalam pesan juga disampaikan bahwa, vaksin yang diterima Presiden Joko Widodo tidak menembus otot sehingga tidak masuk ke dalam darah.
“Suntikan vaksin yang dilakukan pada Anda hanyalah sampai di kulit (intrakutan) atau di bawah kulit (subkutan). Itu berarti vaksin tidak masuk ke darah,” tulis Taufiq dalam pesan tersebut.
Tulisan itu juga menyinggung risiko terjadinya Antibody Dependent Enhancement (ADE), kondisi di mana virus mati yang ada di dalam vaksin masuk ke jaringan tubuh lain dan menyebabkan masalah kesehatan.
Baca: Epidemiolog Kritisi Menko Airlangga Hartarto Tak Umumkan Diri Positif Covid-19: Harusnya Jadi Contoh
Baca: Cegah Hasil Tes Palsu, Persyaratan Surat Covid-19 Penumpang Pesawat Diperketat Mulai Februari
(Tribunnewswiki.com/SO)