Pendukung Belum Rela Trump Lengser, FBI Takut Pendemo Bersenjata Serbu DPR saat Pelantikan Biden

Gelombang protes akan terjadi di gedung DPR tiap negara bagian ketika pelantikan Joe Biden, FBI khawatir soal pendemo bersenjata


zoom-inlihat foto
rusuh-trump-004.jpg
ROBERTO SCHMIDT / AFP
ILUSTRASI Pendemo Bersenjata. Polisi anti huru hara mendorong kembali kerumunan pendukung Presiden AS Donald Trump setelah mereka menyerbu gedung Capitol pada 6 Januari 2021 di Washington, DC.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Badan Kemanan Negara Amerika Serikat (AS) memperkirakan gelombang protes akan terjadi di semua negara bagian AS pada hari pelantikan Joe Biden, 20 Januari 2021.

Mereka adalah pendukung yang belum rela Donald Trump lengser dari jabatannya sebagai Presiden AS.

FBI mengingatkan, para pendemo yang akan menyerbu tiap gedung DPR itu dimungkinkan membawa senjata.

Dilansir PressTV, beberapa orang mengatakan Amerika tengah mengalami kekacuan sipil seperti yang mereka ciptakan di negara lain.

Gelombang protes panjang terjadi lantaran ketegangan politik yang melanda negara itu.

Utamanya, adanya masyarakat yang mempercai Pilpres 2020 diwarnai oleh kecurangan.

Menurut jajak pendapat oleh Morning Consult minggu lalu, hanya 22% dari Partai Republik percaya pemilihan itu "bebas dan adil".

Sementara hampir seperempat dari semua pemilih terdaftar tidak menyetujui keputusan Donald Trump mundur.

Padahal hingga hari ini tidak ada bukti yang ditemukan untuk menjustifikais kecurangan.

Seorang demonstran memegang tanda menyerukan Amandemen ke-25 untuk mencopot Presiden AS Donald Trump dari jabatannya selama protes di luar Barclays Center di Brooklyn, New York pada 7 Januari 2021 sehari setelah massa pro-Trump menyerbu dan menghancurkan Capitol. Presiden Donald Trump menghadapi seruan yang terus meningkat pada 7 Januari untuk dicopot dari jabatannya berdasarkan Amandemen ke-25 karena menghasut kekerasan massa yang melanda Capitol AS satu hari sebelumnya.
Seorang demonstran memegang tanda menyerukan Amandemen ke-25 untuk mencopot Presiden AS Donald Trump dari jabatannya selama protes di luar Barclays Center di Brooklyn, New York pada 7 Januari 2021 sehari setelah massa pro-Trump menyerbu dan menghancurkan Capitol. Presiden Donald Trump menghadapi seruan yang terus meningkat pada 7 Januari untuk dicopot dari jabatannya berdasarkan Amandemen ke-25 karena menghasut kekerasan massa yang melanda Capitol AS satu hari sebelumnya. (Kena Betancur / AFP)

Baca: Terkait Kerusuhan Gedung Capitol, Pendukung Donald Trump Disebut Ingin Bunuh Anggota Parlemen AS

Lagi pula Mahkamah Agung menolak untuk mendengarkan secara terbuka keluhan yang tersebar luas, bahwa mengubah cara pemilihan adalah tidak konstitusional.

Sementara petahana Donald Trump sendiri belum menyerah, tetapi menjanjikan "transisi yang tertib" setelah pemilihan Biden oleh Electoral College.

Banyak kaum konservatif juga marah ketika Trump dimakzulkan karena "menghasut pemberontakan."

Pemakzulan itu dituduh meningkatkan ketegangan di negara Paman Sam, yang memang sudah sagat bergejolak.

Untuk mengamankan pelantikan Biden, berbagai wilayah di Washington DC akan ditutup selama hampir seminggu, dengan 25.000 tentara Garda Nasional.

Pada tahun 2020, "A nation on edge" menjadi sesuatu yang klise di Amerika Serikat, tetapi kali ini benar-benar berbeda.

Keluhan tersebar luas, karena ada begitu banyak oposisi, bahkan keabsahan keluhan.

Sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan melihat betapa buruknya hal itu dalam beberapa hari mendatang.

Kerusuhan Gedung Capitol Libatkan Tentara Aktif

Polisi Capitol menahan pengunjuk rasa di luar House Chamber pada hari Rabu.
Polisi Capitol menahan pengunjuk rasa di luar House Chamber pada hari Rabu. (GETTY IMAGES VIA DAILY MAIL)

Kerusuhan di Gedung Capitol, AS, disebut tak hanya melibatkan penduduk sipil pendukung Donald Trump.

The Associated Press menyebut anggota tentara, mantan tentara, dan penegak hukum terlibat kerusuhan tersebut.

Satu di antara bukti yang meyakinkan, adanya barisan pria yang mengenakan helm dan pelindung tubuh.

Mereka tampak menaiki tangga dalam satu baris, di mana masing-masing pria memegang kerah jaket yang di depan.

Formasi tersebut dikenal sebagai "Ranger File", prosedur operasi standar tim tempur untuk menembus gedung, seperti diberitakan Al Jazeera, Jumat (15/1/2021).

Formasi demikian merujuk pada tentara atau Marinir AS yang bertugas di Irak dan Afghanistan.

Baca: Ayahnya Dibunuh Atas Perintah Donald Trump, Putri Qasem Soleimani: Joe Biden Tidak Ada Bedanya

Analisis AP terhadap catatan publik, postingan, dan video media sosial menunjukkan setidaknya 21 anggota, mantan militer AS, atau penegak hukum telah diidentifikasi berada di Capitol atau sekitarnya pada saat kerusuhan.

Lebih dari selusin lainnya sedang diselidiki, tetapi belum disebutkan namanya.

Dalam banyak kasus, mereka yang menyerbu Capitol tampaknya menggunakan taktik, pelindung tubuh, dan teknologi seperti headset radio dua arah yang mirip dengan polisi yang mereka hadapi.

“Orang-orang ini memiliki pelatihan dan kemampuan yang jauh melebihi apa yang dapat dilakukan oleh kelompok teroris asing. Kelompok teroris asing tidak memiliki anggota yang memiliki lencana," kata Michael German, mantan agen FBI dan rekan di Brennan Center for Justice di Universitas New York.

Seorang veteran dari Texas

WASHINGTON, DC - 06 JANUARI: Anggota Garda Nasional dan polisi Washington D.C. menjauhkan sekelompok kecil demonstran dari Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Massa pro-Trump menyerbu Capitol sebelumnya, memecahkan jendela dan bentrok dengan petugas polisi. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota negara untuk memprotes ratifikasi kemenangan Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Donald Trump dalam pemilu 2020. Spencer Platt / Getty Images / AFP
WASHINGTON, DC - 06 JANUARI: Anggota Garda Nasional dan polisi Washington D.C. menjauhkan sekelompok kecil demonstran dari Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Massa pro-Trump menyerbu Capitol sebelumnya, memecahkan jendela dan bentrok dengan petugas polisi. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota negara untuk memprotes ratifikasi kemenangan Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Donald Trump dalam pemilu 2020. Spencer Platt / Getty Images / AFP (PLATT SPENCER / GETTY IMAGES AMERIKA UTARA / Getty Images via AFP)

Baca: Bos Twitter Sedih Blokir Akun Donald Trump: Keputusan Tepat Tapi Sebuah Kegagalan

Di antara yang paling menonjol yang muncul adalah pensiunan letnan kolonel angkatan udara dan veteran tempur dari Texas yang ditangkap setelah dia difoto mengenakan helm dan pelindung tubuh di lantai Senat, memegang sepasang borgol zip-tie.

Pensiunan Letnan Kolonel Larry Rendall Brock Jr dari Texas jadi tahanan rumah pada hari Kamis, setelah seorang jaksa penuntut menuduh mantan pilot pesawat tempur itu berencana untuk menyandera.

Adam Newbold, pensiunan Navy SEAL dari Lisbon Ohio, yang lebih dari 20 tahun karir militernya, termasuk beberapa penghargaan pertempuran untuk keberanian, mengatakan dalam video Facebook 5 Januari: “Kami hanya patriot yang sangat siap, sangat cakap, dan sangat terampil siap untuk sebuah perkelahian."

Dia kemudian memposting video tindak lanjut yang dihapus setelah kerusuhan, mengatakan dia "bangga" atas serangan itu.

Dua petugas polisi dari kota kecil di Virginia, keduanya mantan prajurit infanteri, ditangkap oleh FBI setelah memposting foto selfie diri mereka di dalam Capitol, salah satunya menunjukkan jari tengahnya ke kamera.

Pentagon Bungkam

Massa pro-Trump menerobos Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Kongres mengadakan sesi bersama hari ini untuk meratifikasi kemenangan 306-232 Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Donald Trump. Sekelompok senator Republik mengatakan mereka akan menolak suara Electoral College di beberapa negara bagian kecuali Kongres menunjuk komisi untuk mengaudit hasil pemilihan.
Massa pro-Trump menerobos Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Kongres mengadakan sesi bersama hari ini untuk meratifikasi kemenangan 306-232 Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Donald Trump. Sekelompok senator Republik mengatakan mereka akan menolak suara Electoral College di beberapa negara bagian kecuali Kongres menunjuk komisi untuk mengaudit hasil pemilihan. (Win McNamee / Getty Images / AFP)

Baca: Alasan Demokrat Ngotot Lakukan Pemakzulan, Jika Upaya Berhasil, Donald Trump Tak Bisa Nyapres Lagi

Sementara Pentagon menolak untuk memberikan perkiraan berapa banyak personel militer aktif lainnya yang sedang diselidiki.

Para pemimpin militer cukup prihatin sebelum pelantikan Presiden terpilih Joe Biden, sehingga mereka mengeluarkan peringatan yang sangat tidak biasa kepada semua anggota dinas minggu ini.

Mereka menegaskan hak atas kebebasan berbicara tidak memberikan hak kepada siapa pun untuk melakukan kekerasan.

Kepala Kepolisian Capitol AS terpaksa mengundurkan diri setelah pelanggaran tersebut dan "beberapa" petugas telah ditangguhkan menunggu hasil investigasi atas perilaku mereka, termasuk satu yang berpose selfie dengan perusuh dan yang lain terlihat mengenakan salah atribut topi “Make America Great Again”.

Baca: Rawan Blunder, Donald Trump Bungkam dan Sembunyi dari Media Sejak Kerusuhan di Gedung Capitol

Pemeriksaan yang cermat terhadap kelompok yang berbaris menaiki tangga untuk membantu menembus Capitol menunjukkan bahwa mereka mengenakan tambalan bergaya militer yang bertuliskan "MILITIA" dan "OATHKEEPER."

Pendemo seringkali dipersenjatai dengan karaben semi-otomatis dan senapan taktis.

Stewart Rhodes, seorang veteran tentara, yang mendirikan Oath Keepers pada 2009 sebagai reaksi terhadap kepresidenan Barack Obama, telah mengatakan selama berminggu-minggu sebelum kerusuhan Capitol bahwa kelompoknya sedang mempersiapkan perang saudara.

“Bersenjata, bersiap untuk masuk jika presiden memanggil kami,” katanya.

Puluhan ditangkap

Seorang wanita ditembak di dada pada Rabu (6/1/2021) sore setelah kerusuhan pecah ketika puluhan pendukung Trump melanggar batas keamanan di Capitol. Wanita meninggal dunia di rumah sakit beberapa jam kemudian, kata sumber penegak hukum.
Seorang wanita ditembak di dada pada Rabu (6/1/2021) sore setelah kerusuhan pecah ketika puluhan pendukung Trump melanggar batas keamanan di Capitol. Wanita meninggal dunia di rumah sakit beberapa jam kemudian, kata sumber penegak hukum. (SWNS FOR DAILY MAIL)

Baca: Donald Trump Tak Mau Hadiri Acara Pelantikan, Joe Biden: Itu Hal Baik Dia Tak Muncul

Sejauh ini, lebih dari 110 orang telah ditangkap atas tuduhan terkait kerusuhan Capitol, mulai dari pelanggaran jam malam hingga kejahatan federal yang serius terkait dengan pencurian dan kepemilikan senjata.

FBI memperingatkan potensi pertumpahan darah lebih banyak.

Dalam buletin internal yang dikeluarkan pada hari Minggu, biro tersebut memperingatkan rencana protes bersenjata di semua 50 ibu kota negara bagian dan di Washington, DC dalam beberapa minggu mendatang.

Departemen Polisi di kota-kota penting seperti New York, Los Angeles, Las Vegas, Houston dan Philadelphia mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki apakah anggota agensi mereka berpartisipasi dalam kerusuhan Capitol.

Otoritas transit wilayah Philadelphia juga sedang menyelidiki apakah tujuh petugas polisi yang menghadiri rapat umum Trump di Washington, DC melanggar undang-undang.

(TribunnewsWiki.com/Ahmad Nur Rosikin)





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved