Bos Twitter Sedih Blokir Akun Donald Trump: Keputusan Tepat Tapi Sebuah Kegagalan

Twitter tetap merasa bersalah karena tak bisa membantu mendorong percakapan yang sehat di platformnya


zoom-inlihat foto
lagi-trump-001.jpg
Erin Schaff - Pool / Getty Images / AFP
ILUSTRASI - Bos Twitter angat bicara soal penutupan akun Trump --- Presiden Donald Trump berbicara di Ruang Diplomatik Gedung Putih pada Thanksgiving pada 26 November 2020 di Washington, DC. Trump mengakui sulit mengaku kalah dalam Pilpres AS namun ia akan meninggalkan Gedung Putih bila waktunya tiba.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Bos Twitter Jack Dorsey mengatakan penghapusan akun Presiden AS Donald Trump adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Akan tetapi, dia juga menyimpan kesedihan terkait kebijakan yang diambil tersebut.

Menurutnya, larangan itu sebagian merupakan kegagalan Twitter, seperti diberitakan BBC, Kamis (14/1/2021).

Dia merasa tidak cukup membantu mendorong "percakapan yang sehat" di seluruh platformnya.

Memang langkah yang diambil Twitter ini memicu pro dan kontra.

Pemimpin Jerman Angela Merkel dan Presiden Meksiko Andres Manuel López Obrador, bukan sekutu presiden, menentang langkah raksasa teknologi itu.

Baca: Rawan Blunder, Donald Trump Bungkam dan Sembunyi dari Media Sejak Kerusuhan di Gedung Capitol

Pihak Twitter sebut penutupan akun Trump bukan soal mudah
Pihak Twitter sebut penutupan akun Trump bukan soal mudah (Al Drago / Getty Images / AFP)

Pada hari Senin, juru bicara kanselir Jerman mengatakan dia menemukan larangan media sosial "bermasalah".

Sementara Presiden Meksiko berkata: "Saya tidak suka ada yang disensor."

Berbeda, Presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan dia ingin perusahaan seperti Facebook dan Twitter berbuat lebih banyak untuk menghapus perkataan yang mendorong kebencian dan berita palsu.

Dia sebelumnya mengatakan ingin mencabut Pasal 230, undang-undang yang melindungi perusahaan media sosial dari tuntutan atas hal-hal yang diposting orang.

Tidak jelas bagaimana Biden bermaksud untuk mengatur Big Tech, meskipun itu mungkin menjadi fokus legislatifnya.

Pembekuan Permanen

Twitter resmi menutup akun Presiden Amerika Serikat Donald Trump (@realDonaldTrump) secara permanen pada Jumat (8/01/2021).

Melansir Reuters, hal ini dilakukan untuk menghindari risiko penghasutan lebih yang mungkin dilakukan Trump setelah ratusan pendukungnya menyerbu Gedung Capitol AS.

"Setelah meninjau secara cermat Tweet baru-baru ini dari akun @realDonaldTrump dan konteks di sekitarnya, kami telah secara permanen menangguhkan akun tersebut karena risiko hasutan kekerasan lebih lanjut," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Dikutip dari Aljazeera, platform media sosial tersebut mendapatkan tekanan lebih besar untuk mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Trump setelah kerusuhan yang terjadi pada Rabu kemarin.

Twitter awalnya menangguhkan akun Trump selama 12 jam pada hari Rabu setelah presiden memposting tweet selama kerusuhan di mana ia mengulangi klaim tidak berdasar tentang penipuan dalam pemilihan presiden 2020.

Baca: Twitter Hentikan Permanen Akun Donald Trump, Karena Risiko Hasutan & Menyulut Kekerasan

Baca: Diancam Dipecat atau Dipaksa Mundur, Trump Keder Juga: Akhirnya Kecam Aksi Rusuh Pendukungnya

Trump diminta untuk menghapus tiga tweet yang melanggar aturan sebelum akunnya dibuka blokirnya.

“Dalam konteks peristiwa mengerikan minggu ini, kami menjelaskan pada hari Rabu bahwa pelanggaran tambahan terhadap Peraturan Twitter berpotensi mengakibatkan tindakan ini. Kerangka kerja kepentingan publik kami ada untuk memungkinkan publik mendengar dari pejabat terpilih dan pemimpin dunia secara langsung. Itu dibangun di atas prinsip bahwa rakyat memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban di tempat terbuka. "

Trump kembali ke Twitter pada hari Kamis dengan video yang mengakui bahwa Presiden terpilih Joe Biden akan menjadi presiden AS berikutnya dan mengatakan fokusnya adalah pada transisi kekuasaan yang mulus ke pemerintahan berikutnya.

Demonstran melakukan protes di dekat Trump Tower pada 7 Januari 2021 di Chicago, Illinois. Mereka menyerukan pencopotan Presiden Donald Trump dari jabatannya setelah massa pro-Trump menyerbu gedung Capitol di Washington, DC, ketika anggota parlemen bertemu untuk menghitung suara Electoral College dalam pemilihan presiden.
Demonstran melakukan protes di dekat Trump Tower pada 7 Januari 2021 di Chicago, Illinois. Mereka menyerukan pencopotan Presiden Donald Trump dari jabatannya setelah massa pro-Trump menyerbu gedung Capitol di Washington, DC, ketika anggota parlemen bertemu untuk menghitung suara Electoral College dalam pemilihan presiden. (Scott Olson / Getty Images / AFP)




Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved