Hari Ini dalam Sejarah 2 Desember 1908: Puyi, Kaisar China Terakhir, Naik Tahta

Dianggap sebagai penjahat perang, Puyi dipenjara selama sepuluh tahun setelah Republik Rakyat Tiongkok berdiri.


zoom-inlihat foto
puyi-pada-1934.jpg
Wikimedia Commons
Puyi tahun 1934. Puyi adalah Kaisar China terakhir.

Dianggap sebagai penjahat perang, Puyi dipenjara selama sepuluh tahun setelah Republik Rakyat Tiongkok berdiri.




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Puyi, kaisar terakhir China, naik tahta tanggal 2 Desember 1908 atau tepat 112 tahun yang lalu.

Berasal dari klan Manchu Aisin Gioro, Puyi menjadi kaisar terakhir karena China kemudian berubah menjadi republik.

Puyi sempat diturunkan tahun 1912 dan berkuasa kembali tahun 1917 dalam periode yang sangat singkat.

Pada tahun 1934-1945 Puyi pernah menjadi negara boneka Manchukuo.

Dianggap sebagai penjahat perang, Puyi dipenjara selama sepuluh tahun setelah Republik Rakyat Tiongkok berdiri tahun 1949.[1]

Puyi, kaisar terakhir Tiongkok, menggunakan seragam Manchukuo
Puyi, kaisar terakhir Tiongkok, menggunakan seragam Manchukuo (Wikimedia Commons)

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 1 Desember: Revolusi Desembris, Manuel Dorrego Dikudeta Juan Lavalle 

  • Kehidupan dan karier awal


Puyi lahir di Beijing tanggal 7 Februari 1906 sebagai putra Pangeran Chun Zaifeng dan istrinya yang bernama Guwalgiya Youlan.

Kakek buyutnya adalah Kaisar Xianfeng yang berkuasa tahun 1850-1861, sedangkan paman Puyi adalah Kaisar Guangxu.

Kaisar Guangxu meninggal tanggal 14 November 1908 dan Permaisuri Cixi kemudian memutuskan Puyi menjadi penggantinya.

Puyi kemudian diangkat menjadi raja tanggal 2 Desember 1908 ketika masih berumur dua tahun.

Dia bergelar Kaisar Xuantong, ditemani  dan ayahnya dijadikan Wali Pangeran karena Puyi masih kecil.[2]

Puyi sudah menjadi kaisar ketika masih kecil
Puyi sudah menjadi kaisar ketika masih kecil (Wikimedia Commons)

Tumbuh sebagai seorang kaisar membuatnya berbeda dengan anak-anak lain karena banyak orang akan berlutut ketika melewati atau berpapasan dengan Puyi.

Ketika berumur tujuh tahun, Puyi dikenal sebagai kaisar yang sadis karena suka mencambuk kasim yang tidak bersalah dan menembakkan senapan udara ke siapa saja yang dia inginkan.

Dia menerima pendidikan Konfusian dan harus melaporkan kemajuannya pada “ibu-bunya”, yakni lima bekas gundik Istana yang dipimpin oleh janda permaisuri Longyu.

Puyi tidak menyukai para gundik tersebut karena menghalanginya bertemu ibu biologisnya hingga dia berumur 13 tahun.[3]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 1 Desember: Kasus Rosa Parks Memicu Aksi Boikot Bus di Amerika Serikat

  • Diturunkan


Pada 10 Oktober 1911 terjadi Revolusi Xinhai di Tiongkok yang disertai beberapa pemberontakan.

Banyak orang Tiongkok menganggap bahwa penguasa mereka telah kehilangan Mandat Langit dan Puyi dipaksa turun tahta.

Janda permaisuri Longyu kemudian dekrit istana mengenai penuruan Puyi tanggal 12 Februari 1912.

Pasal-pasal tentang perlakuan khusus terhadap Puyi akhirnya ditandatangani Republik Tiongkok tahun 1914.

Puyi diizinkan tetap memakai gelarnya dan tetap di Kota Terlarang untuk sementara dan kemudian pindah ke Istana Musim Panas.

Dia akan menerima subsidi tahunan sebesar 4 juta tael perak dari Republik Tiongkok.

Pada kenyataannya subisidi ini tidak pernah dibayar penuh dan tidak dilanjutkan setelah beberapa tahun.[4]

Puyi bersama Wanrong, istrinya
Puyi bersama Wanrong, istrinya (Wikimedia Commons)

Pada tahun 1917 Jenderal Zhang Xun yang loyal pada Qing, mengembalikan tahta Puyi selama 12 hari sejak 1-12 Juli.

Selama 12 hari tersebut, sebuah bom dijatuhkan oleh pesawat republikan dari atas Kota Terlarang.

Pengembalian tahta Puyi secara permanen gagal karena banyaknya penentangan di seluruh Tiongkok dan campur tangan Jenderal Duan Qirui.

Puyi menikahi Gobulo Wanrong tahun 1922. Dua tahun kemudian, Puyi diusir dari Kota Terlarang oleh Jenderal Feng Yuxiang dan secara rahasia meninggalkan Peking dan tinggal di konsesi Jepang yang ada di Tientsin.[5]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 30 November 1967: Yaman Selatan Merdeka dari Inggris

  • Penguasa negara boneka Manchukuo


Pada 1 Maret 1932 Puyi dijadikan penguasa negara boneka Manchukuo oleh Jepang.

Dua tahun kemudian dia secara resmi dimahkotai sebagai Kaisar Manchukuo dan bergelar Kaisar Kangde.

Puyi terus berselisih dengan Jepang karena dirinya ingin menjadi Kaisar Qing sepenuhnya, bukan hanya penguasa Manchukuo.

Dia tinggal di Istana Wei Huang Gong dan terus diawasi oleh Jepang. Selama menjadi kaisar Manchukuo, Puyi mulai tertarik dengan Buddha.

Namun, Jepang memaksanya untuk menjadikan Shinto sebagai agama nasional di Manchukuo.

Pada pendukung Puyi kemudian disingkirkan dan para menteri pro-Jepang menggantikannya.[6]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 30 November 1967: Yaman Selatan Merdeka dari Inggris

  • Kehidupan setelahnya dan kematian


Puyi ditangkap Tentara Merah setelah Perang Dunia II berakhir.

Pada pengadilan penjahat perang di Tokyo tahun 1946 Puyi bersaksi tentang perlakuan Jepang yang tidak baik pada dirinya.

Puyi juga menyatakan bahwa dirinya sebenarnya adalah alat yang tidak diinginkan Jepang.

Ketika Mao Zedong berkuasa tahun 1949 Puyi menulis surat ke Joseph Stalin, meminta agar tidak dikembalikan ke Tiongkok.

Namun, karena ingin meningkatkan hubungan baik dengan Mao, Stalin mengembalikan Puyi ke Tiongkok tahun 1950.

Puyi kemudian menghabiskan sepuluh tahun di penjara Fushun sampai dia dinyatakan menjadi “lebih baik”.

Dia pindah ke Beijing bersama saudara perempuannya tahun 1959 dengan izin spesial dari Mao Zedong.

Pada 30 April 1962 dia menikahi seorang perawat bernama Li Shuxian.

Puyi selanjutnya bekerja pada departemen literasi di Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok.

Dia kemudian menjadi anggota konferensi tersebut tahun 1964. [7]

Ketika Mao mulai menjalankan Revolusi Kebudayaan tahun 1966 Puyi menjadi target milisi pemuda pemuda bernama Pengawal Merah karena dianggap sebagai simbol Kerajaan Tiongkok.

Biro keamanan setempat melindunginya, namun Puyi tidak mendapat ransum makannya, gaji, dan berbagai kemewahan termasuk sofa dan mejanya. Hal ini memengaruhi fisik dan emosionalnya.

Puyi meninggal di Beijing tahun 17 October 1976 karena kanker ginjal dan penyakit jantung.

Karena menuruti hukum Republik Rakyat Tiongkok, jenazahnya dikremasi, beda dengan leluhurnya yang dikubur.[8]

(Tribunnewswiki/Tyo)



Peristiwa Puyi naik tahta sebagai Kaisar China terakhir
Tanggal 2 Desember 1908
   


Sumber :


1. wikivisually.com
2. peoplepill.com
3. www.thefamouspeople.com
4. www.newworldencyclopedia.org


Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: Melia Istighfaroh






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved