Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Brazil Meninggal, Uji Coba Tetap Dilanjutkan

AstraZeneca menolak berkomentar, sedangkan Universitas Oxford mengonfirmasi bahwa uji klinis akan dilanjutkan.


zoom-inlihat foto
astrazeneca.jpg
PAUL ELLIS / AFP
Kantor perusahaan farmasi dan biofarmasi Inggris-Swedia, AstraZeneca, di Macclesfield, Cheshire, Inggris, pada Selasa, 21 Juli 2020.


Hal ini untuk menjaga kekayaan intelektual dan keunggulan mereka dibanding perusahaan lainnya.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, para ilmuwan dan pakar kesehatan mendesak perusahaan obat-obatan untuk lebih terbuka.

Selain itu, jika lebih transparan, mereka bisa meningkatkan kepercayaan terhadap vaksin.

Di Amerika Serikat (AS), pada saat ini, semakin banyak warganya yang khawatir Presiden Donald Trump akan menekan pihak regulator federal untuk menyetujui vaksin sebelum vaksin itu terbukti aman dan efektif.

"Hanya ada sedikit kepercayaan," kata Dr. Harlan Krumholz, seorang ahli jantung dan peneliti kesehatan di Universitas Yale di New York, dikutip dari New York Times.

"Semakin banyak mereka membaginya (data), maka semakin baik kita," kata dia.

Baca: Bamsoet Desak Pemerintah Segera Sosialisasikan Vaksin Covid-19, Pastikan Masyarakat Dapat Semua

Harlan telah bertahun-tahun mendorong perusahaan dan peneliti akademik lainnya untuk membagi data uji coba dengan ilmuwan lainnya.

Pekan lalu, ada sembilan perusahaan vaksin yang berjanji secara ketat memeriksa setiap vaksin Covid-19 dikembangkan.

Namun, mereka tidak berjanji membagi data penting mengenai penelitian mereka yang dilakukan bersama masyarakat dan komunitas keilmuan.

Selain itu, tidak ada satu pun dari tiga perusahaan, yang saat ini melakukan uji klinis lanjutan, yang mempublikasikan protokol dan rencana analisis statistik untuk untuk uji klinis tersebut.

"Kita tak pernah melakukan uji klinis penting pada masa belakangan ini," kata Dr. Eric Topol, guru besar kedokteran molekuler di Scripps Reserach, California, dan pakar uji klinis.

Dia juga mengatakan dalam uji klinis segalanya harus transparan.

Baca: Jubir Kemenlu China Sebut Negaranya Akan Menjual Vaksin Covid-19 dengan Harga Masuk Akal

Sementara itu, perwakilan dari tiga perusahaan vaksin yang melakukan uji coba di AS (Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca) mengatakan mereka telah merilis banyak detail mengenai uji coba tersebut.

Pfizer mengatakan akan menerbitkan protokol lengkap dari uji klinis itu sebagai bagian dari penyerahannya pada jurnal medis.

Detail itu termasuk hasil, kriteria pendaftaran, dan jumlah akhir peserta yang terlibat dalam uji klinis.

Meski garis besar dari rancangan uji klinis vaksin telah tersedia, detail-detail penting masih menjadi misteri.

Beberapa peneliti mengatakan kurangnya transparansi tidak dapat diterima karena pemerintah federal sudah memiliki kesepakatan bernilai miliaran dollar dengan perusahaan vaksin.

Peter Doshi, seorang pakar di Sekolah Farmasi Universitas Maryland dan editor jurnal kedokteran The BMJ mengatakan dirinya baru saja meminta protokol kepada Pfizer, Moderna, dan Astra Zeneca.

Namun, Doshi mengaku tak ada dari mereka dari yang membagi data.

Baca: Uji Klinis Tahap 3 Vaksin Sinovac Berjalan Baik, Tak Ada Efek Berat yang Dirasakan Relawan

Doshi mengatakan apabila diterbitkan, protokol itu dapat membantu para peneliti mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan penting dalam studi tersebut dan memungkinkan untuk mengkritik mereka.

Sebagai contoh, bisakah uji klinis menentukan apakah vaksin dapat mencegah Covid-19 dan komplikasi pada kelompok berisiko tinggi seperti para lansia?

Jika dokumen bisa diakses publik, para pakar mengatakan mereka bisa menjaga perusahaan tetap bertanggung jawab apabila perusahaan itu mengubah cara menganalisis hasilnya.

(Tribunnewswiki/Tyo)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved