Sementara itu, Presiden Republik Artsakh (Nagorno-Karabakh, yang didukung Armenia), Araik Harutyunyan mengumumkan wilayahnya dalam kondisi darurat pada sesi pertemuan di daerah kantong perlawanan Stepanakert, Minggu (27/9/2020).
“Saya mengumumkan darurat militer dan mobilisasi semua orang yang bertanggung jawab atas dinas militer dan berusia lebih dari 18 tahun,” kata Harutyunyan sebagaimana dilansir dari AFP.
Pengumuman tersebut dilontarkan Harutyunyan setelah pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia pecah.
Sebagai informasi, Armenia mendukung Nagorno-Karabakh lantaran banyak etnis Armenia yang tinggal di sana.
Dukungan Armenia juga diberikan untuk menahan laju okupasi Azerbaijan.
Armenia juga menganggap bahwa Nagorno-Karabakh adalah bagian dari mereka.
Baca: Muncul Dugaan Keterlibatan Kombatan Suriah di Pihak Azerbaijan dalam Konflik di Nagorno-Karabakh
Baca: Republik Azerbaijan Umumkan Kondisi Darurat Militer dalam Bentrokan di Nagorno-Karabakh
Nagorno Karabakh -sebuah wilayah otonom- menjadi rebutan Armenia dan Azerbaijan, dua negara yang merupakan musuh bebuyutan sejak lama.
Pertemuan dengan Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan sempat berkomunikasi melalui panggilan telepon pada Minggu, (27/9/2020).
Keduanya membahas bentrokan di wilayah Nagorno-Karabakh, menurut laporan Kremlin, dikutip dari Reuters, (27/9).
Dalam percakapan, Putin meminta untuk tidak melanjutkan eskalasi konflik.
Putin juga meminta agar semua tindakan militer dihentikan.
Baca: Update Konflik Armenia - Azerbaijan di Nagorno-Karabakh: 23 Tentara Tewas, 100 Lebih Warga Terluka
Baca: Semakin Memanas, 16 Orang Tewas dalam Bentrokan Armenia - Azerbaijan di Nagorno-Karabakh
Azerbaijan Umumkan Darurat Militer
Baca: Update Konflik Armenia - Azerbaijan di Nagorno-Karabakh: 23 Tentara Tewas, 100 Lebih Warga Terluka
Baca: Statistik: Industri China Tumbuh 19,1 %, Laba Rp 1,3 Triliun
Tentang Nagorno-Karabakh
Nagorno-Karabakh, sebuah wilayah otonom yang sebagian besar dihuni oleh etnis Armenia ini pernah mendeklarasikan kemerdekaan negara baru yang diberi nama Republik Artsakh.
Azerbaijan menganggap pemerintahan di Nagorno-Karabakh (di bawah kendali Republik Artsakh) merupakan kelompok separatis/pemberontak.
Sebaliknya, Armenia bersikukuh punya hak melindungi sebagian besar etnisnya yang berada di Nagorno-Karabakh.
Berdasarkan penulusuran TribunnewsWiki, Azerbaijan masih menganggap memiliki hak de jure atas wilayah Nagorno-Karabakh.
Pada 26 November 1991, parlemen Azerbaijan menghapus status otonom Nagorno-Karabakh.
Pada masa itu, pemerintah Azerbaijan turut menghapus administratif pemerintahan dan mengubahnya ke dalam rayon-rayon yakni: Khojavend, Tartar, Goranboy, Shusha, dan Kalbajar.