Peserta lain yang juga seorang dokter dan penyelenggara kelompk advokasi kesehatan, bernama Aslam Dasoo, 58 tahun, mengatakan dirinya tidak khawatir karena jeda adalah prosedur.
Bukan kelinci percobaan
Seorang ibu bernama Nkuna di Johannesburg mengatakan dirinya sadar atas resiko uji coba.
Namun, dia berharap keikutannya dalam program uji coba ini bisa mengarahkan pada penemuan vaksin yang bisa menyelamatkan banyak orang.
Keluarga dan temannya juga keberatan dengan keikutannya karena takut Nkuna bisa terinfeksi virus corona.
"Saya berkata saya bersedia mencobanya," kata dia.
"Saya ingin menjadi bagian dari penyelesaian masalah, saya ingin menyelamatkan dunia karena (Covid-19) membunuh orang-orang."
"Ada banyak sekali orang yang sudah meninggal. Covid-19 ini merenggut nyawa orang-orang."
Pengetesan obat di Afrika seringkali menimbulkan kontroversi.
Setelah diumumkan adanya uji coba di Afrika, aktivis antivaksin memprotesnya dan penduduk Afrika dijadikan subyek uji coba.
Afrika selatan juga sedang dalam pembicaraan untuk melakukan uji coba vaksin eksperimental lainnya dengan Johnson & Johnson dan Novavax Inc.
Menurut Dasoo, anggapan bahwa orang miskin Afrika dijadikan kelinci percobaan harus dihilangkan.
Para analis mengatakan uji klinis saat ini bisa membantu negara tersebut mengamankan aksesnya terhadap vaksin.
"Orang-orang memiliki pandangan dan pendapatnya sendiri, tetapu vaksin adalah hal yang baik," kata Nkuna.
"Kita bisa menyelamatkan dunia."
(Tribunnewswiki/Tyo/Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman/Kompas/Pythag)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Relawan yang Disuntik Vaksin Terinfeksi Covid-19, Sempat Bepergian ke Semarang", dan di Tribunjabar.id dengan judul Satu Relawan Vaksin Covid-19 di Bandung Positif Corona, Harus Disuntik Vaksin Lagi