TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Lebanon menyatakan bahwa penyelidikan internal terhadap ledakan di Beirut akan mendudukkan perkara dari segala kemungkinan.
Investigasi atas ledakan yang menewaskan 154 orang ini memeriksa dugaan baik itu disebabkan oleh bom ataupun adanya 'keterlibatan eksternal'.
Sampai hari ini, Sabtu (8/8), regu penyelamat masih berjibaku di antara puing-puing reruntuhan berharap dapat menemukan jiwa yang selamat.
Para warga juga terlihat berusaha membangun kembali rumahnya yang hancur.
Sebagai informasi, ledakan terjadi di Pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8/2020), mengirimkan gelombang kejut seismik di sekitar wilayah tersebut.
"Penyebabnya belum disimpulkan. Ada kemungkiinan gangguan eksternal melalui roket atau bom ataupun hal-hal lain," kata Presiden Michel Aoun kepada media lokal, dilansir Reuters, Sabtu (8/8/2020).
Baca: 3 Pesawat Bantuan AS Bakal Mendarat di Lebanon, Dana Rp 220 Miliar Lebih Siap Dikucurkan
Siapa di balik ledakan?
Aoun sebelumnya menyebut bahwa ada bahan peledak yang disimpan sembarangan di pelabuhan selama bertahun-tahun.
Menyusul penyataan itu, Aoun mengatakan penyelidikan akan mempertimbangkan apakah ledakan itu terjadi berkat kelalaian ataukah murni kecelakaan.
Sejauh ini, dua puluh orang telah diamankan, tambahnya.
Sebagai informasi, pada awal penyelidikan, sebuah sumber menyebut ada 'kelalaian' petugas pelabuhan.
Amerika Serikat sempat membuka kemungkinan ada serangan di balik ledakan ini.
Baca: PBB Gotong Royong Bantu Lebanon, Kucurkan Dana Rp 132 M
Israel, yang berperang beberapa kali dengan Lebanon, membantah ada perannya di balik ledakan ini.
Presiden Turki, Tayyip Erdogan menyebut penyebab ledakan ini tidak jelas.
Namun, ia membandingkan ledakan pelabuhan Beirut dengan pemboman tahun 2005 yang menewaskan mantan Perdana Menteri, Rafik al-Hariri.
Sementara itu, Sayyed Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok Syiah Lebanon, Hizbullah, membantah apa tudingan yang menyebut kelompok mereka menyimpang senjata di lokasi ledakan.
Menurut pengakuan Hassan, kelompok Hizbullah tidak memiliki gudang senjata, rudal, senapan, bom, hingga amonium nitrat.
Bahkan Hassan menyampaikan, di antara korban tewas dan terluka, terdapat anggota kelompoknya.
Baca: Presiden Prancis Tiba di Beirut, Emmanuel Macron: Lebanon Tidak Sendiri
Hassan menyerukan agar penyelidikan dilakukan secara adil dan akuntabilitas bagi siapa saja tanpa perlindungan politik.
"Kalaupun (misal) ada pesawat menabrak, atau memang ada kesengajaan, di mana nitrat sudah bertahun-tahun disimpan di pelabuhan, artinya sebagian kasus ini mutlak kelalaian dan korupsi," ujarnya.