Ketika masa menyusui ini berakhir pun, perubahan mikroskopis pada sistem pengiriman susu melindungi payudara terhadap sel pra-kanker.
Efek tersebut lebih sering dirasakan pada ibu yang sudah menyusui lebih banyak anak maupun dalam waktu yang lama ketimbang lainnya.
Ternyata, semakin tua seorang wanita ketika dia melahirkan pertama kali, semakin besar risiko kanker payudara dihadapi.
Di sisi lain Borges mengingatkan, hal tersebut tidak sesederhana itu.
"Saya tidak pernah ingin seorang wanita memutuskan tidak memiliki anak karena hal-hal yang berkaitan dengan kanker payudara," kata dia.
Menyusui mungkin cukup menjadi pengimbang dalam peningkatan risiko kanker payudara yang berhubungan dengan kehamilan.
Baca: Sempat Viral, Ibu yang Hamil 1 Jam Lalu Melahirkan Mengaku Stress karena Didatangi Banyak Tamu
Baca: Cerita Viral Wanita Hamil 1 Jam Lalu Melahirkan Bayi Laki-Laki, sang Ayah Ungkap Kronologinya
Apakah Perempuan Harus Menyusui Untuk Mencegah Kanker Payudara?
"Tentu saja," kata Borges.
Akan tetapi tidak semua ibu maupun si bayi belum tentu bisa melewati masa aktivitas menyusi ini.
Hal tersebut dipengaruhi dengan adanya budaya, gaya hidup, dan berbagai faktor lainnya.
Apabila seorang ibu tak bisa menyusui anaknya atau memilih tidak menyusuinya, pilihan gaya hidup pun dapat membantu mencegah penyakit kanker payudara ini.
Perilaku yang dimaksud di atas adalah tidak meminum minuman beralkohol.
Serta juga rajin berolahraga sangat berkaitan dengan perlindungan kanker payudara pra-menopause.
Borges mengatakan tak ada alasan untuk berpikir para wanita yang tidak menyusui tidak bisa melindungi diri dari kanker payudara.
Sebagai informasi tambahan, penelitian lain yang diterbitkan oleh The Lancet menyebutkan manfaat yang di jelaskan tersebut bisa dirasakan secara maksimal apabila si ibu menyusui selama lebih dari satu tahun.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka, Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Benarkah Menyusui dapat Melindungi Wanita dari Kanker Payudara?"