TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mia Khalifa ikut angkat bicara terkait ledakan di Beirut, Lebanon.
Lahir di Lebanon, mantan bintang film dewasa ini tentu tak tinggal diam dengan peristiwa tragis yang mengguncang tanah airnya.
Seperti yang telah diketahui, Selasa, (4/8/2020) malam ledakan besar telah terjadi di ibu kota Lebanon, Beirut.
Setidaknya, 78 orang diinfomasikan tewas dan 4 ribu lainnya luka-luka akibat ledakan tersebut.
Pusat ledakan berada di sekitar pelabuhan di Beirut.
Namun bisa membalikkan mobil dan menghancurkan jendela gedung-gedung di sekitanya.
Ledakan juga telah menghancurkan hampir separuh dari seluruh jumlah gedung di Beirut.
Bahkan efek ledakan tersebut dirasakan hingga Cyprus yang berjarak 200 mil dari Beirut.
Baca: Pemerintah Lebanon Dinilai Jadi Kaki Tangan Hizbullah, Diminta Tak Ikut Campur Urusan Israel
Baca: Korban Ledakan di Lebanon 78 Orang Meninggal, 4000 Terluka & Masih Banyak yang Hilang
Mia Khalifa ungkap adanya konspirasi dalam peristiwa ledakan bom di Beirut, Lebanon
Lahir di Lebanon, membuat mantan bintang film dewasa Mia Khalifa turut mengungkapkan tanggapannya.
Bahkan pendapat Mia Khalifa bisa memicu adanya konspirasi atas ledakan bom di pelabuhan Beirut tersebut.
Opini yang disampaikan oleh Mia Khalifa diunggah di akun Instagram pribadi miliknya.
Baik dalam bentuk Instagram Story maupun Instagram Feeds.
Seperti yang diberitakan sputniknews.com, rentetan Instagram Stories Mia Khalifa diunggah sejak Selasa petang.
Mia Khalifa membagikan beberapa video yang direkam oleh saksi mata di lokasi kejadian.
Dari video tersebut tampak adanya ledakan dahsyat yang kemudian diikuti dengan asap oranye membumbung ke udara.
Mia Khalifa juga menuliskan satu dari Instagram Stories dengan kata "fireworks' atau kembang api dengan tanda petik.
Diduga dimaksudkan bahwa Mia Khalifa meragukan bahwa sebab ledakan adalah kembang api, seperti yang ramai diberitakan.
Mia Khalifa juga mengutip pemberitaan yang mengatakan bahwa ledakan terjadi di gudang amunisi diduga milik kelompok militan Hizbullah.
Sebab ledakan masih diselidiki oleh otoritas Lebanon