Program Organisasi Penggerak (POP) Ditinggalkan NU dan Muhammadiyah, Begini Respons Kemendikbud

Dua organisasi Islam besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah memutuskan mundur dari Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendokbud RI.


zoom-inlihat foto
nadiem-makarim-usai-serah-terima-jabatan-sertijab.jpg
Warta Kota/Ricky Martin Wijaya
Nadiem Anwar Makarim (kanan) memberikan keterangan saat berkeliling Kantor Kemendikbud usai serah terima jabatan (sertijab), di Jakarta Pusat, Rabu (23/10/2019).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gejolak di tubuh kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali terjadi beberapa hari terakhir.

Salah satu yang ramai diperbincangkan terkait dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kementerian yang dipimpin oleh Nadiem Makarim itu mengundang atensi publik setelah dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menarik diri dari salah tau program Kemendikbud.

NU dan Muhammadiyah angkat kaki sebagai partisipan atau peserta di program Program Organisasi Penggerak (POP).

Terkait mundurnya Muhammadiyah dan LPMaarif NU, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud, Evi Mulyani mengatakan pihaknya menghormati setiap keputusan peserta Program Organisasi Penggerak.

Tak terkecuali keputusan dari NU dan Muhamamdiyah tersebut.

Baca: NU-Muhammadiyah Putuskan Keluar Dari Organisasi Penggerak yang Digagas Kemendikbud, Ini Alasannya

Baca: Hari Ini Empat Sekolah di Kota Bekasi Mulai KBM di Sekolah, Kemendikbud: Itu Langgar SKB 4 Menteri

“Kemendikbud terus menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dengan seluruh pihak sesuai komitmen bersama bahwa Program Organisasi Penggerak bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia,” terang Evi pada Kamis (23/7/2020), dikutip dari Kompas.com.

Evi menjelaskan, Program Organisasi Penggerak (POP) adalah sebuah program untuk memberdayakan komunitas pendidikan Indonesia dari mana saja.

Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 04 Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, belajar di lantai (lesehan) karena kekurangan bangku sekolah, Selasa (30/7/2019).
Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 04 Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, belajar di lantai (lesehan) karena kekurangan bangku sekolah, Selasa (30/7/2019). (Warta Kota/Alex Suban)

Tujuannya meningkatkan kualitas belajar anak-anak Indonesia yang fokus pada keterampilan fondasi terpenting untuk masa depan SDM Indonesia yaitu literasi, numerasi, dan karakter.

Program Organisasi Penggerak, lanjutnya, merupakan kolaborasi pemerintah dengan komunitas-komunitas pendidikan yang telah berjuang di berbagai pelosok Indonesia.











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved