"Kamu membutuhkan darah ibu, darah bayi yang baru lahir, darah dari plasenta, cairan ketuban, dan sangat sulit mendapatkan semua sampel itu kala pandemi dengan keadaan darurat," kata dia menjelaskan.
Menurut De Luca, telah ada beberapa kasus suspek, tetapi tetap suspek karena tidak ada yang berkesempatan mengetes semua itu.
Baca: Bisa Lindungi Lansia dari Covid-19, Uji Coba Perawatan Antibodi Akan Dilakukan Agustus Mendatang
Baca: Beredar Kabar Sinar Matahari Bisa Bunuh Virus Corona, Ahli Beri Penjelasan Begini
Virus ditemukan terbanyak di plasenta, yang memiliki banyak reseptor seperti yang ditemukan di paru-paru dan digunakan virus untuk menyerang sel manusia.
Bayi itu awalnya tampak sehat, tetapi pada hari ketiga dia menjadi mudah marah dan mulai menyusu dengan buruk.
Dia mengalami kejang otot yang menyebabkan kepala, leher, dan punggungnya melengkung ke belakang.
Itu merupakan gejala neurologis yang tampak pada beberapa kasus meningitis.
Pemindaian MRI menunjukkan tanda-tanda gliosis, efek samping dari dari cedera nerurologis.
Saat itu, tidak ada pedoman klinis mengenai cara merawat bayi yang terinfeksi virus corona.
Awalnya, dokter mempertimbangkan penggunaan remdesivir, tetapi karena bayi itu pulih sendiri secara bertahap, tidak ada pengobatan yang diberikan.
Pasien Sembuh dari Covid-19 Bisa Kehilangan Kekebalannya dalam Beberapa Bulan
Hasil penelitian para ilmuwan Kings's College di Inggris menunjukkan pasien yang sembuh dari Covid-19 bisa kehilangan kekebalan dari virus corona hanya dalam waktu beberapa bulan.
Dengan demikian, pasien yang pulih dapat terinfeksi kembali oleh virus corona setelah kekebalannya hilang, mirip flu biasa atau common flu.
Dilansir dari The Guardian (13/7/2020), dalam studi longitudinal pertama tentang kekebalan tersebut, ilmuwan menganalisis respons kekebalan pada lebih dari 90 pasien dan nakes di layanan kesehatan masyarakat (NHS) Guy’s and St. Thomas’, Inggris.
Mereka menemukan kadar antibodi yang bisa menghancurkan virus corona memuncak sekitar tiga pekan setelah ada gejala infeksi.
Kadar antibodi tersebut kemudian menurun dengan cepat.
Baca: Ujicoba Vaksin Covid-19 di Maryland, AS Bereaksi Positif setelah Disuntikkan ke Seorang Pria
Baca: Calon Vaksin Covid-19 Buatan CanSino dari China Direncanakan Diuji Coba Fase Ketiga di Luar Negeri
Tes darah menunjukkan bahwa meskipun 60% dari mereka menciptakan respons antibodi kuat pada "pertempuran puncak" dengan virus itu, hanya 17% yang mempertahankan potensi yang sama dalam tiga bulan setelahnya.
Kadar antibodi menurun hingga 23 kali lipat dalam periode itu dan dalam beberapa kasus antibodinya menjadi tidak terdeteksi.
"Orang-orang menghasilkan respons antibodi yang lumayan terhadap virus [corona], tetapi menurun dalam periode singkat dan tergantung pada seberapa tinggi antibodi itu, yang menentukan berapa lama antibodi bertahan," kata Doores, penulis utama studi itu di King's College London.
Studi itu memiliki implikasi pada pengembangan vaksin, dan pencarian herd immunity atau kekebalan komunitas seiring berjalannya waktu.
Sistem kekebalan mempunyai beberapa cara untuk melawan virus corona.