TRIBUNNEWSWIKI.COM - Belum lama ini beredar kabar bahwa sinar matahari bisa membunuh virus corona.
Menanggapi hal tersebut, Tribunnewswiki telah merangkum jawaban dari ahli untuk menjawab kabar tersebut.
Sinar matahari (ultraviolet) sudah digunakan untuk membunuh virus sejak lama.
Tapi apakah sinar matahari juga sama efektifnya untuk membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19?
Jawaban singkatnya adalah ya.
Perlu diperhatikan, butuh jenis dan dosis sinar matahari yang benar supaya efektif membunuh virus corona.
Baca: Pakar Virus China Bongkar Kebobrokan WHO Saat Tangani Corona Hingga Menjadi Pandemi Global
Baca: Berbagai Upaya Afrika Selatan Atasi Covid-19, Skenario Terburuk: 1,5 Juta Kuburan Sudah Siap
Sebagai informasi, radiasi ultraviolet dibagi menjadi tiga jenis menurut panjang gelombangnya, yakni UVA, UVB, dan UVC.
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) via Kompas.com, menyatakan hampir semua jenis sinar matahari yang ada di Bumi termasuk dalam UVA, karena mayoritas UVB dan UVC sudah diserap oleh lapisan ozon terlebih dahulu.
UVC mempunyai panjang gelombang paling pendek dan energi paling besar, yang dapat digunakan sebagai disinfektan.
UVC dengan panjang gelombang spesifik 254 nanometer (UVC-254) terbukti ampuh membunuh virus flu H1N1 dan beberapa jenis virus corona seperti SARS-CoV dan MERS-CoV.
UVC-254 ampuh sebagai disinfektan karena membuat ‘luka’ pada DNA dan RNA. Hal itu membuat virus tidak bisa bereplika, sekaligus membuat virus tersebut ‘cacat’ dan mati.
Baca: MUI Keluarkan Fatwa Terkait Shalat Idul Adha & Penyembelihan Kurban saat Pandemi Virus Corona
Baca: 5 Catatan Penting tentang Penularan Virus Corona Lewat Udara: Jaga Jarak Dua Meter Belum Cukup Aman
Mengutip dari Live Science, Senin (13/7), ahli fisika di Henry Ford Hospital, Detroit, Indermeet Kohli, UVC telah lama digunakan.
“UVC telah digunakan selama bertahun-tahun, ini bukan hal baru,” tutur Kohli.
Yang perlub digarisbawahi, kita tidak sembarangan boleh menggunakan UVC untuk membunuh virus SARS-CoV-2.
Sangat penting untuk menggunakan UVC secara akurat.
UVC pun sangat berbahaya apabila terdapat kontak pada kulit dan mata manusia.
Baca: Virus Baru yang Mematikan Kembali Muncul di China, 5 Warga Tewas, Virus Menyebar Lewat Gigitan Kutu
Baca: Virus Corona Bisa Bertahan 8 Jam di Udara, Masyarakat Diimbau Tak Berbicara Terlalu Keras
Kohlie mengatakan teknologi disinfektan menggunakan UVC harus dilakukan oleh fasilitas medis dengan alasan kesehatan.
Akurasi pemakaian seperti ini yang tidak memungkinkan dilakukan sendiri di rumah.
Kohli dan beberapa ilmuwan lain sedang bekerja untuk membuat disinfektan untuk Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker wajah dan respirator N95.
Kohlie menyarankan rumah sakit dan fasilitas kesehatan supaya menggunakan peralatan UVC untuk disinfeksi APD untuk sementara ini.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka)