Namun, jika antibodi adalah lini utama pertahanan, temuan ini menunjukkan orang dapat terinfeksi kembali dalam gelombang musiman.
Dengan demikian, vaksin mungkin tidak dapat melindungi mereka dalam jangka panjang.
Bagaimana kekebalan menurun setelah infeksi corona?
"Infeksi cenderung memberimu skenario terbaik untuk respons antibodi, jadi jika infeksimu memberimu kadar antibodi yang menurun dalam dua atau tiga bulan, vaksin akan punya potensi yang sama," kata Doores
"Orang-orang mungkin perlu meningkatkan dan sekali suntikan mungkin tidak cukup," kata dia menambahkan.
Sementara itu hasil studi dari University of Oxford menunjukkan vaksin yang dikembangkannya menghasilkan antibodi lebih rendah pada monyet ekor panjang (macaque), dibanding yang terlihat pada manusia yang terinfeksi.
Jadi, meski vaksin terlihat melindungi hewan dari infeksi serius, hewan itu masih dapat terinfeksi.
Baca: Calon Vaksin Virus Corona Buatan Moderna Asal AS Memasuki Fase Uji Coba Ketiga pada Juli Ini
Baca: Virus Corona Disebut Makin Melemah Bisa Mati Tanpa Vaksin, Profesor Matteo: Dulu Harimau Kini Kucing
Prof. Robin Shattock dari Imperial Collge London menyatakan vaksin yang dikembangkan kelompoknya bisa tersedia pada semester pertama tahun depan jika uji klinis berjalan baik.
Namun, dia memperingatkan tidak ada kepastian bahwa vaksin apa pun yang sedang dikembangkan akan manjur nantinya.
Selain itu, dia juga mengatakan jenis respons kekebalan yang dibutuhkan untuk mencegah infeksi masih belum jelas.
Studi dari King's College di atas merupakan studi pertama yang memantau kadar antibodi pada pasien dan nakes dalam tiga bulan setelah gejala muncul.
Hasli studi itu sudah diterbitkan di jurnal, tetapi belum dilakukan peer-review, dan memperlihatkan bahwa kadar antibodi naik menjadi lebih tinggi dan bertahan lebih lama pada pasien mengalami infeksi parah.
Ini mungkin karena pasien tersebut memiliki lebih banyak virus dan membutuhkan lebih banyak antibodi untuk melawan infeksi.
(TribunnewsWiki/Tyo)