TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kenaikan kasus positif Covid-19 di Indonesia meraih angka tertinggi sejak diberitakan 2 Maret lalu.
Hingga Kamis, (9/7/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat penambahan kasus Covid-19 sebanyak 2.657.
Sehingga, total jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 70.736 kasus.
"Kami mendapatkan hasil konfirmasi positif sebanyak 2.657 orang, sehingga akumulasinya sekarang menjadi 70.736 orang," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis sore.
Menanggapi hal tersebut, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan jika pandemi tidak akan cepat surut dari Indonesia dalam waktu dekat.
Menurutnya, pandemi ini masih terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
Bahkan, ia memprediksi jika pada Desember nanti, gelombang pertama pandemi Covid-19 belum selesai.
"Pandemi ini masih panjang, (bisa) dua, tiga, empat tahun, atau mungkin sampai lima tahun. Jadi jangan mimpi bahwa pandemi akan selesai tahun ini karena masalahnya susah sekali," ujar Pandu dalam webinar 'Urgensi Penanganan Permukiman Padat Penduduk Menghadapi Pandemi Covid-19', Kamis (9/7/2020).
Pandu melanjutkan, jika dalam penanganan Covid-19 di Indonesia ini, pemerintah seperti tidak serius dalam bekerja.
Banyak pemerintah daerah yang tidak melakukan pemeriksaan Covid-19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) karena tidak ingin daerahnya berstatus zona merah.
Baca: Setelah Mengakui Virus Corona Bisa Menular lewat Udara, WHO Kini Merilis Pedoman Baru
Baca: Rekor 2.657 Kasus Baru Covid-19, Klaster Secapa AD Disebut Jadi Salah Satu Penyebabnya
Baca: RI-GHA, Alat Rapid Test Covid-19 Buatan Indonesia, Akurasinya Tinggi dan Hanya Dibanderol Rp 75.000
"Jadi jangan mimpi untuk bisa mengakhiri pandemi ini selesai dengan cepat karena memang kita tidak serius sama sekali menangani pandemi," kata dia.
Jika ingin mempercepat penanganan Covid-19, Pandu berujar, pemerintah harus benar-benar aktif melacak kasus (tracing), melakukan tes PCR, dan mengisolasi pasien positif Covid-19.
Tempat isolasi pasien pun harus berlokasi agak jauh dari permukiman agar tidak berpotensi menularkan virus kepada orang lain.
Langkah lainnya, pemerintah juga harus memastikan masyarakat disiplin melaksanakan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak.
"Kalau ada perbaikan (penanganan Covid-19), melakukan 3M, isolasi yang benar, lacak yang benar, tes yang benar, bukan dengan rapid test, tapi dengan tes PCR, maka kita akan cepat melandaikan," ucap Pandu.
Baca: Melonjak, Kasus Corona Indonesia Capai Angka 70.736, Jawa Barat Catat Kasus Terbanyak
Baca: Ahli Epidemiologi Tegaskan Zona Hijau Belum Tentu Aman dari Penyebaran Virus Corona
Baca: Tak Punya Lapisan Filter, Ilmuwan Masih Pertanyakan Efektivitas Masker Kain Tangkal Virus Corona
Gencarkan test PCR
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta Suharti menyatakan, Pemprov DKI sudah banyak melakukan tes PCR melalui kegiatan active case finding.
Tes PCR itu utamanya dilakukan di wilayah-wilayah rawan penularan Covid-19.
Pasien-pasien positif Covid-19 yang ditemukan melalui active case finding kemudian langsung diisolasi.
"(Active case finding) ini yang menyebabkan angka (Covid-19) Jakarta tinggi. Bukan berarti buruk sekali, justru kami menemukan mereka (pasien positif Covid-19) yang ada di luar,"