Sementara pakar dari luar menyebut operasi pengendalian kelahiran adalah bagian dari strategi China membersihkan warga Uighur dari keyakinan yang dianutnya.
Pemerintah China juga dinilai memaksa warga Uighur untuk mengikuti proses asimilasi. Mereka diharuskan mengikuti pendidikan politik dan agama di kamp-kamp dan pabrik-pabrik.
Sementara anak-anak mereka di-indoktrinasi di panti penampungan.
Orang-orang Uighur, yang tidak selalu Muslim ini, juga dilacak oleh aparat dengan pengawasan ketat menggunakan teknologi.
"Niatnya mungkin bukan sepenuhnya menghilangkan populasi Uighur, tetapi itu akan secara tajam mengurangi vitalitas mereka," kata Darren Byler, ahli yang membidangi etnis Uighur dari Universitas Colorado, Amerika Serikat.
"Ini akan membuat mereka lebih mudah berasimilasi dengan populasi mayoritas di China," tambahnya.
Sementara beberapa ahli lebih jauh mengatakan langkah yang diambil China telah melampaui unsur kemanusiaan.
"Ini genosida, (ada) penghentian penuh. Tak secara langsung, mengejutkan, pembunuhan massal yang masuk kategori genosida, pelan tapi menyakitkan," kata Joanne Smith Finley, ahli di Newcastle University, Inggris.
"Ini secara langsung mengurangi populasi masyarakat Uighur," tambahnya.
Berat Sebelah
Senada dengan investigasi AP, analisa Foreign Policy menyebut China mengadopsi sikap pro-natalis hanya untuk orang-orang China Han.
Meski telah melonggarkan kebijakan satu anak dan mengklaim 'adil untuk semua etnis', China telah memulai gelombang penindasan terhadap minoritas.
Banyak daerah urban dengan sangat sedikit minoritas (seperti Beijing, Shanghai, Shandong, dan Fujian) mengalami sedikit peningkatan angka kelahiran.
Sementara daerah dengan minoritas lebih banyak (seperti Tibet, Xinjiang, Qinghai, dan Yunnan) mengalami penurunan tajam di angka kelahiran. (Hong Kong, tidak ditampilkan dalam data ini).
Jika dulu kebijakan China adalah membatasi angka kelahiran untuk etnis Han atas nama pembangunan ekonomi, dan memberikan fleksibilitas bagi etnis minoritas, sekarang sikap kebijakan China adalah “Pro-natalisme untukku, tetapi tidak untukmu”, yang berarti dukungan pro-natalis hanya diberikan untuk orang-orang Han, tetapi tidak bagi kelompok minoritas.
Tujuh Tahun Penjara Akibat Punya Tujuh Anak
Abdushukur Umar, seorang pria warga Uighur menceritakan kisahnya mendapat hukuman otoritas China akibat memiliki banyak anak.
Mantan supir traktor ini dihukum tujuh tahun penjara lantaran memiliki tujuh anak.
Pria yang pernah menjadi penjual buah-buahan ini menganggap ketujuh anaknya sebagai rezeki dari Tuhan.
Alasan ini tak bisa diterima di bawah payung hukum China.