Presiden Jokowi Ingin Lacak Pergerakan Pasien Covid-19 dengan GPS, Amankah Privasi Data Pasien?

Presiden Jokowi mengungkapkan keinginannya agar pelacakan pasien Covid-19 menggunakan teknologi Global Positionong System atau GPS.


zoom-inlihat foto
presiden-joko-widodo-memberikan-keterangan-pers-seusai-meninjau-salah-satu-pusat-perbelanjaan.jpg
TRIBUNNEWS/REPUBLIKA/Edwin Dwi Putranto/Pool
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers seusai meninjau salah satu pusat perbelanjaan, di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2020). Presiden Jokowi meninjau persiapan prosedur pengoperasian mal yang berada di wilayah zona hijau wabah COVID-19. TRIBUNNEWS/REPUBLIKA/Edwin Dwi Putranto/Pool


Dengan aplikasi ini pengguna bisa melihat sekilas melalui peta, di mana pasien menjalani karantina.

Ada juga informasi tanggal kasus terkonfirmasi dan rumah sakit mana saja yang dikunjungi pasien positif.

Selandia Baru membuat terobosan agak berbeda dengan Korea Selatan.

Alih-alih membuat aplikasi pelacak Covid-19 saat kasus memuncak, negara ini malah baru membuat aplikasi berbasis GPS saat kasus melandai.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menyebut aplikasi pelacak tersebut sebagai "digital diary".

Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung memindahkan seorang tersangka pasien virus korona (C) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam di mana total 16 infeksi sekarang telah diidentifikasi dengan virus corona COVID-19, di daerah Cheongdo dekat kota tenggara Daegu pada 21 Februari 2020 Kasus coronavirus Korea Selatan hampir dua kali lipat pada 21 Februari, naik di atas 200 dan menjadikannya negara yang paling parah terkena dampak di luar China ketika jumlah infeksi yang terkait dengan sekte keagamaan meningkat.
YONHAP / AFP
Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung memindahkan seorang tersangka pasien virus korona (C) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam di mana total 16 infeksi sekarang telah diidentifikasi dengan virus corona COVID-19, di daerah Cheongdo dekat kota tenggara Daegu pada 21 Februari 2020 Kasus coronavirus Korea Selatan hampir dua kali lipat pada 21 Februari, naik di atas 200 dan menjadikannya negara yang paling parah terkena dampak di luar China ketika jumlah infeksi yang terkait dengan sekte keagamaan meningkat. YONHAP / AFP (YONHAP / AFP)

Aplikasi itu mencatat perjalanan pribadi penggunanya sambil memastikan data yang tersimpan aman.

"Sambil berjaga-jaga jika pada kemudian hari Anda terjangkit Covid-19, Anda punya referensi untuk menceritakan ke mana saja Anda pergi dalam periode tertentu," kata Ardern, seperti dikutip Antara dari dari Reuters (18/5/2020).

Melansir Newsroom, aplikasi ini akan membantu pengguna ketika mereka keluar dari tempat keramaian, seperti restoran atau kafe, sambil menyimpan data pergerakan mereka.

Ardern mengatakan data pengguna tidak akan dibagikan ke pihak manapun.

"Itu untuk Anda, itu perangkat Anda, dan itu data serta informasi Anda," kata Ardern.

Berbeda dengan Indonesia atau Korea Selatan, Selandia Baru sempat menerapkan lockdown atau karantina wilayah selama hampir lima pekan.

Namun saat ini, Selandia Baru telah melonggarkan pembatasan sosial sejak tidak ada kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi.

"PeduliLindungi" dari Indonesia

Akan tetapi, GPS bukan satu-satunya teknologi yang digunakan untuk melacak pergerakan warga demi membendung penularan Covid-19.

Sebagian negara lebih memilih menggunakan aplikasi berbasis bluetooth.

Salah satunya Indonesia yang sudah memiliki aplikasi bernama PeduliLindungi.

Aplikasi ini kurang lebih sama dengan yang dikembangkan pemerintah Singapura, bernama TraceTogether.

Aplikasi PeduliLindungi yang dirilis oleh pemerintah sebagai terobosan untuk ketahui penyebaran Covid-19 di Indonesia kini sudah bisa di-download di Google Play Store dan App Store.
Aplikasi PeduliLindungi yang dirilis oleh pemerintah sebagai terobosan untuk ketahui penyebaran Covid-19 di Indonesia kini sudah bisa di-download di Google Play Store dan App Store. (Istimewa)

PeduliLindungi akan mengumpulkan data yang diperlukan dari ponsel pengguna sambil mengaktifkan koneksi bluetooth.

Ketika ada ponsel lain dalam jangkauan bluetooth yang juga terdaftar dalam aplikasi PeduliLindungi, akan ada pertukaran informasi yang direkam oleh masing-masing perangkat.

Lalu, aplikasi akan mengidentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat, dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19 atau berstatus PDP dan ODP.

Baca: Syarat Naik Pesawat di Tengah Pandemi Corona: Domestik Cukup Rapid Test, dari Luar Negeri Wajib PCR

Baca: Dua Penelitian tentang Virus Corona Ditarik Kembali setelah Muncul Banyak Pertanyaan terkait Data

Baca: Menuju Kenormalan Baru, Berikut Saran dari Pakar agar Tidak Terpapar Virus Corona Penyebab Covid-19





Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved