Pemprov Jatim Siapkan Sistem Ganjil Genap untuk Antisipasi Kluster Covid-19 dari Pasar Tradisional

Pemerintah Provinsi Jawa Timur tekan kluster penyebaran Covid-19 dari pasar tradisional dengan terapkan sistem ganjil genap untuk pedagangnya.


zoom-inlihat foto
ilustrasi-pasar-pemerintah-berencana-membuka.jpg
Tribun Jabar
Ilustrasi pasar. Pemerintah berencana membuka kembali pasar pada Juni mendatang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebagai langkah menekan klaster penyebaran Covid-19, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah menyiapkan penataan pasar trasidional dengan sistem ganjil genap.

Hal tersebut dilakukan karena banyaknya kasus positif yang datang dari pasar tradisional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Drajat Irawan mengatakan jika pola ganjil genap ini dimaksudkan bukan untuk semua pedagang di pasar tradisional tersebut.

Bukan juga dengan semua pedagang di pasar tersebut diberi nomor ganjil dan genap.

Namun, ganjil genap yang akan dilakukan yakni mengelompokkan komoditas pedagang yang sama.

"Di suatu pasar misalkan ada penjual ayam. Penjual ayam itu lalu diberi nomor pastinya ada yang ganjil dan genap, lalu pedagang sayur, pedagang beras dan seterusnya," kata Drajat, saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2020).

Konsep pasar ganjil genap menurutnya mereplikasi pola pengoperasian pasar di Kota Malang.

Dalam penerapannya, pedagang tidak setiap hari membuka dagangannya di pasar. 

Baca: Doakan Perawat Mati Terjangkit Virus Corona, Seorang Warganet Probolinggo Dilaporkan Polisi

Baca: Tak Sabar Tunggu Hasil Swab, Keluarga Asal Lombok Bawa Pulang Jenazah, Ternyata Positif Covid-19

Baca: Pemkot Bekasi Perbolehkan Salat Idulfitri di Masjid, Epidemiolog: Siap-siap Kluster Baru Covid-19

"Kalau hari ini tanggal ganjil yang buka nomor ganjil, kalau besok tanggal genap, besok yang buka nomor genap," ujar dia.

Pemprov berharap dengan dilakukannya sistem ganjil genap di pasar tradisional ini bisa mengurangi kerumunan di pasar.

Tidak hanya itu, pemprov juga tetap menekan pedagang mengikuti protokol kesehatan Covid-19 seperti memakai masker dan membasuh tangan dengan sabun saat masuk keluar pasar.

Menurut Drajat, pasar tradisional disebut rentan menjadi pusat klater penularan Covid-19.

Pasalnya, di Jawa Timur ditemukan kluster besar penyebaran virus corona berada di sejumlah pasar tradisional.

Sebagai contohnya yakni pasar tradisional di Kabupaten Bojonegoro, pasar yang berada di pusat kota tersebut sempat ditutup selama 7 hari dikarenakan seorang pedagang positif Covid-19.

Setelah itu dilakukanlah rapid test dan hasilnya 85 pedagang lainnya reaktif.

Baca: Mudik di Tengah Pandemi Covid-19, Jumlah Kendaraan Keluar yang Tinggalkan Jakarta Alami Penurunan

Baca: Pemerintah Khawatir Pemudik Jadi Sumber Penularan Covid-19 setelah Arus Balik Lebaran

Baca: WHO Ungkap Gejala Baru Virus Corona: Kesulitan Bicara dan Bergerak, hingga Halusinasi

Sementara di Surabaya, Pasar Keputran yang disebut pasar induk tradisional juga disebut menjadi pusat penularan Covid-19.

Beberapa penjual dan pembeli dari luar Kota Surabaya dilaporkan positif Covid-19.

Sebelumnya, pasar tradisional Gersik PPI juga ditutup karena ada puluhan pedagang yang berstatus positif Covid-19.

Pedagang positif di Pasar Induk Bojonegoro

Sejumlah pedagang di Pasar Tradisional Bojonegoro yang menunjukkan hasil reaktif dari rapid test kemudian menjalani tes swab.





Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved