TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berbagai negara dengan para ilmuan dan kecanggihan laboratoriumnya masing-masing sedang berlomba untuk menemukan obat/vaksin virus Corona.
Bahkan salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates pun ikut berlomba dalam penemuan vaksin virus Corona yang barang tentu menjadi sesuatu yang paling dicari di seluruh dunia saat ini.
Terbaru, para ilmuan di Universitas Peking China disebut-sebut sedang mengembangkan obat yang diyakini cukup ampuh dalam menghentikan penyebaran Covid-19.
Melansir AFP, para peneliti tersebut menerangkan, obat ini tidak hanya mampu memangkas waktu pemulihan pasien, namun juga bisa menumbuhkan kekebalan jangka pendek bagi peminum obat.
Direktur pusat Inovasi Genomik Tingkat Lanjut di Beijing, Sunney Xie menjelaskan bahwa obat ini telah berhasil diuji coba pada hewan.
Obat ini menggunakan antibodi penawar, yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh manusia untuk mencegah virus menginfeksi sel-sel tubuh.
Tim Sunney Xie mengisolasi antibodi tersebut, dari 60 pasien yang dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19.
Sebuah studi pada penelitian tim yang diterbitkan pada Minggu (17/5/2020) di jurnal ilmiah Cell menunjukkan, penggunaan antibodi memberikan potensi "penyembuhan" untuk penyakit dan juga mempersingkat waktu pemulihan.
Baca: WHO Sebut Vaksin Didistribusikan 2021, LIPI Rekomendasikan Cara Bertahan di Pandemi Covid-19
Baca: Ada Larangan Mudik di Tengah Pandemi Covid-19, Pos Pantau Arus Mudik di Ciamis Tetap Didirikan
Baca: Bekerja Sebagai Petugas Medis Puskesmas di Tapanuli Utara, 2 Orang Dinyatakan Positif Covid-19
Sunney Xie menyebutkan obat itu harus siap digunakan akhir tahun ini atau pada saat waktunya saat terjadi potensi wabah di musim dingin.
"Perencanaan untuk uji klinis sedang dilakukan," kata Xie sembari menambahkan uji klinis akan dilakukan di Australia dan negara-negara lain dikarenakan kasus-kasus virus corona telah berkurang di China.
"Harapannya antibodi yang dinetralkan ini bisa menjadi obat khusus yang akan menghentikan pandemi," ungkapnya.
China sudah memiliki 5 calon vaksin Covid-19 yang sedang diuji coba ke manusia, kata seorang pejabat kesehatan pekan lalu.
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa pengembangan vaksin bisa saja memakan waktu 12-18 bulan.
Pencegahan dan Penyembuhan
Menggunakan antibodi dalam perawatan obat bukan hal baru, dan telah berhasil dilakukan untuk mengobati beberapa virus lain seperti HIV, Ebola, dan MERS.
Xie mengklaim para penelitinya telah memulai observasi sejak awal ketika wabah virus corona masih di China dan belum menyebar ke negara lain.
Obat Ebola Remdesivir juga telah dipertimbangkan sebagai obat untuk Covid-19.
Baca: 62 Negara Dunia Setuju Dorong Investigasi Terkait Penyebaran Virus Corona, China Merasa Diserang
Baca: Trump Berikan Ultimatum ke WHO dan Mengancam Akan Hentikan Pendanaan secara Permanen
Uji klinis di Amerika Serikat (AS) menunjukkan obat itu memperpendek waktu pemulihan pada sepertiga pasien, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kematian.
Studi menunjukkan bahwa jika antibodi penetralisir disuntikkan sebelum tikus terinfeksi virus, tikus tersebut tetap bebas dari infeksi dan tidak ada virus yang terdeteksi.
Ini dapat menawarkan perlindungan sementara bagi pekerja medis selama beberapa minggu, dan Xie berharap dapat "memperpanjangnya hingga beberapa bulan."