Ciputra melihat pasar ini telah mengada di Jakarta.
Perbaikan ekonomi pada awal Orde Baru memunculkan kelas menengah baru.
Baca: Biar Tak Bosan saat Physical Distancing, Nonton 5 Film Animasi Studio Ghibli Ini Bisa Jadi Pilihan
Baca: Bingung Nonton Film di Rumah saat Social Distancing? Ini 17 Situs Gratis Download dan Streaming Film
Mereka cukup mampu membeli mobil pribadi.
Jalanan Jakarta pun semarak oleh kehadiran mobil.
Melihat kondisi pasar seperti itu, Ciputra tak ragu menghadirkan teater kendara pertama di Indonesia.
Luasnya lima hektar dan mampu menampung 800 mobil.
“Bioskop terbuka itu merupakan drive-in cinema terbesar di Asia Tenggara,” catat Kompas, 2 Mei 1970.
Semua jenis mobil boleh masuk, kecuali pick-up dan truk.
Ciputra berupaya mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk membangun teater kendara.
Dia melibatkan 340 pekerja yang terdiri dari orang-orang Batalion Zeni Konstruksi Angkatan Darat, PT Technik Indonesia, dan PT Jaya Steel (anak perusahaan Pembangunan Jaya).
Para pekerja giat siang-malam untuk memasang layar raksasa dengan ukuran sebagai berikut: panjang 40 meter, lebar 19 meter, dan tinggi 27 meter.
Ukuran demikian mampu dilihat orang hingga jarak 200 meter.
Aspal dibuat bergelombang agar mobil dapat mengarah ke layar.
Jarak parkir antar mobil diperhitungkan secara teliti supaya pengendara dapat keluar-masuk tanpa kesulitan.
Teater kendara terbesar di Asia Tenggara itu menghabiskan 20 ribu meter kubik pasir, 10 ribu meter kubik batu, 2 ribu drum aspal, 200 meter kubik beton, dan 85 ton besi konstruksi.
Alat-alat pemutar filmnya dibeli dari perusahaan Toshiba, Jepang.
Untuk semua pembangunan itu, Pembangunan Jaya mengeluarkan Rp260 juta, atau setara dengan Rp10,4 miliar nilai uang saat ini.
(Tribunnewswiki.com/Ron)