Pradita menerangkan, tipe virus corona yang ada di Indonesia tidak mempunyai mutasi asam amino tersebut dan berbeda dengan tipe S, V, dan G.
Baca: Isu Obat Herbal Diklaim Bisa Sembuhkan Corona, Badan POM Beri Klarifikasi
"Yang (jenis virus corona) di Indonesia ini, tidak memiliki mutasi penanda seperti pada kelompok S, V, G," ujarnya.
Hal tersebut dapat dikatakan jenis virus corona yang ada di Indonesia mempunyai "penanda" berbeda dengan 3 tipe virus corona yang umum ada di banyak negara lain.
"(Tipe virus corona) di Indonesia memiliki penanda lain. Atau mungkin bahkan lebih dekat dengan jenis virus corona yang ada di Indonesia," jelas Pradipta.
Pradipta juga mengimbuhkan, walau virus corona yang awalnya dari China sudah berpindah atau melakukan transmisi dari satu tempat ke tempat lain, penanda unik dalam asam aminonya sangat mungkin tak selalu sama.
"Meskipun virus sudah berpindah (transmisi) dari satu tempat ke tempat lain, dalam tanda kutip bervolusi dari satu tempat ke tempat lain, itu (jenis virus) masih bisa berbeda dengan kelompok S, V, dan G tadi," imbuh dia.
Dia kembali menerangkan, pengelompokan asam amino ini dilakukan untuk memudahkan peneliti melihat bagaimana virus corona berkembang dan melakukan mutasi.
Tipe virus berbeda, apa jenis vaksin juga berbeda?
Muncul pertanyaan baru setelah adanya jenis atau tipe virus corona yang beragam di dunia
Apakah kelak vaksin virus corona ini juga akan berbeda?
Tergantung. Begitu jawaban Pradipta.
Pradipta kembali memebrikan jawaban, jika prinsip vaksin dilihat dari protein yang berada di permukaan virus, yang dapat dikenali oleh antibodi manusia.
" Asam amino itu berlipat-lipat atau terdiri dari lipatan-lipatan sehingga menjadi satu protein. Asam amino itu ada yang berada di luar, dalam artian terekspos ke luar lingkungan. Ada yang terlipat berada di dalam, tidak terkespos lingkungan," jelasnya.
"Jadi yang berada di dalam, tidak akan bisa dikenali antibodi. Sedangkan yang berada di luar, yang terekspos di luar, itu yang bisa dikenali antibodi," jawab Pradipta mengimbuhi.
"Nah, apabila variasi berada di luar permukaan, maka akan susah. Namun jika variasi (protein) berada di dalam, mungkin masih aman dan bisa menjadi target vaksin," ujarnya.
Oleh karena itu, untuk melihat vaksin biasanya dilihat dari asam amino yang seragam di semua kelompok dan dilihat dari konfigurasi protein, apakah dia berada di dalam atau di luar.
"Jadi yang menjadi target vaksin biasanya yang berada di luar tapi seragam di semua region (kelompok jenis virus). Itu yang menjadi target vaksin," tandasnya
Perkara inilah yang masih diteliti lebih jauh oleh para peneliti, tentang bagaimana sebenarnya karakteristik Covid-19 yang ada di seluruh dunia.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka)