Ramadan di Tengah Pandemi Corona, Para Dokter Harus Memilih Berpuasa atau Tidak

Dokter membutuhkan tenaga ekstra untuk menangani dan merawat para pasien covid-19


zoom-inlihat foto
dokter-china-usai-virus-corona-selesai.jpg
China Media Group
Foto seorang dokter di Wuchang yang berbaring dengan pakaian pelindung yang lengkap di kamar penuh dengan kasur kosong yang merupakan bekas rumah sakit pasien virus corona.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ibadah Ramadan kali ini dilaksanakan di tengah pandemi corona dan para dokter harus membuat pilihan.

Para dokter dan tenaga medis saat ini sedang bekerja keras menangani dan merawat pasien covid-19.

Mereka membutuhkan tenaga ekstra untuk melaksanakan tugasnya dan dihadapkan pada pilihan tetap berpuasa atau menggantinya di lain hari.

Sebagai contoh, dilansir dari Kompas yang mengutip Aljazeera, Kamis (23/4/2020), seorang dokter bernama Ahmed Hozain yang menangani pasien Covid-19 di RS Brooklyn memilih untuk tetap berpuasa.

Peneliti bedah residen dan transplantasi paru itu berencana untuk tidak makan, minum, mengunyah permen karet, dan minum obat selama puasa tahun ini.

Dia telah berpuasa sejak berusia 10 tahun dan pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, Hozain dapat melewatinya dengan baik.

Baca: Ramadan Kala Pandemi Corona, Ini Kebijakan Ibadah Berbagai Negara dari Turki hingga Pakistan

Baca: Ramadan dan Corona, Tips Sahur yang Benar, Perbanyak Sayur Buah untuk Tangkal Covid-19

Para tenaga kesehatan membawa PDP ke Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo, Sabtu (21/3/2020).
Para tenaga kesehatan membawa PDP ke Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo, Sabtu (21/3/2020). (RSUD Sawerigading via TribunPalopo)

Meskipun kadang dia diminta merawat pasien di ruang gawat darurat dan harus memperpanjang puasanya satu atau dua jam tambahan, puasa tetap dijalankannya.

Namun di tengah kelelahan memerangi pandemi, dia bertanya-tanya apakah dia bisa melewatinya tahun ini.

Meski begitu dia mempercayai dokter lain untuk membantunya membuat keputusan.

Setelah lebih dari 20 tahun mengamati Ramadan, ia juga percaya pada dirinya sendiri.

"Kamu tahu dirimu sendiri, kamu tahu seberapa keras kamu bekerja, seberapa tajam dirimu, dan apa keputusan klinis yang harus kamu ambil," ujarnya.

Bekerja menjalankan tugas

Keraguan terjadi pada Dr. Bedirhan Tarhan seorang ahli di bidang neurologi pediatrik di Gainesville, Florida.

Meskipun dia suka puasa, dia tidak yakin apakah dapat menyelesaikan sebulan penuh jika jumlah kasus Covid-19 meningkat di daerahnya.

"Jika saya merasa puasa memengaruhi kesehatan atau kinerja saya melawan virus, saya akan menunda," katanya.

Sementara itu ada juga yang tidak ragu berpuasa, seperti spesialis penyakit menular Dr Mobeen Rathore di daerah Jacksonville.

Dia telah menjalankan puasa selama 29 tahun.

Seorang perawat berusia 27 tahun terlihat kelelahan selama shift malam di unit perawatan intensif khusus untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Ixelles di Brussels, di tengah pandemi COVID-19.
Seorang perawat berusia 27 tahun terlihat kelelahan selama shift malam di unit perawatan intensif khusus untuk pasien COVID-19 di Rumah Sakit Ixelles di Brussels, di tengah pandemi COVID-19. (Aris Oikonomou / AFP)

Baca: Ramadan di Tengah Pandemi Corona, Muslim Inggris Buka Puasa Bersama via Zoom dan Facebook

Menurutnya tidak pernah terjadi pertimbangan untuk tidak berpuasa.

Dilansir Gulf News, Jumat (10/4/2020), menurut Grand Mufti di Departemen Urusan Islam dan Kegiatan Amal Dubai Dr Ali Ahmad Masha'el puasa adalah pilar keempat Islam.

Tidak bisa dimaafkan seseorang yang tidak berpuasa dengan sengaja kecuali orang sakit dan orang dalam perjalanan.





Halaman
12
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved