Kemudian juga ada Situs Batu Jaya, ini merupakankompleks megalitik yang besar sekali, ukurannya sampai 220 x 180 x 75 cm dengan besar hampir 3 meter. Ukuran umpaknya juga besar, sekitar 85x75 centimeter.
Umpak-umpak ini juga membuktikan bahwa kemungkinan situs ini digunakan sebagai tempat tiang yang menunjukkan ada suatu tiang-tiang pemukiman.
Terdapat juga situs yang menggambarkan satu tatanan yang banyak dari Dolmen dan sebaran-sebaran Menhir yang ada di sana.
Baca: Pantai Watu Parunu
Letak peninggalan megalitik yang berada di Gunung dan Bukit ini berkaitan dengan latar belakang religi yang mereka masyarakat saat itu anut.
Daerah gunung ini adalah daerah yang suci. Apabila ada orang yang mati, masyarakat percaya bahwa roh akan pergi bersemayam ke puncak-puncak bukit itu, yang oleh masyarakat tempat tersebut dijadikan sebagai penghormatan terhadap leluhur.
Dengan mereka bertempat tinggal di situ, itu menunjukkan bahwa mereka memilih tempat yang suci untuk tinggal.
Dimungkinkan pada awalnya, penduduk yang mendiami bukit ini membuat sistem pemilihan seorang kepala suku. Mereka memilih yang terbaik dari masyarakat di situ. Siapa yang paling kuatlah dia yang dipercaya bisa memimpin masyarakat.
Jika pemimpin ini meninggal, maka juga akan dibuatkan Menhir lagi di situ.
Tata cara penghormatan masyarakat berkaitan langsung dengan leluhurnya. Kebudayaan itu terus berkembang hingga penerusnya.
Nah, pembuatan Dolmen untuk leluhur ini juga dimungkinkan sebagai meja saji.
Di dalam penelitian dari arkeolog Belanda tersebut dijelaskan bahwa lokasi situs megalitik ini ternyata juga dikelilingi oleh parit yang dalam.
Bahkan penggalian parit ini memotong dari bentangan lahan yang ada di sekitar.
Jadi terbukti bahwa situs megalitik tadi itu adalah tempat yang dilindungi oleh masyarakat pada zamannya.
Apabila situs tersebut dulunya merupakan tempat tinggal suatu komunitas masyarakat tertentu, maka penempatan situs tersebut dilakukan secara berjajar dan diatur sedemikian rupa di mana ada batas-batasnya, termasuk parit tersebut.
Itulah cara mereka membatasi diri dengan yang lainnya (kelompok lain). Mungkin juga untuk perlindungan dari binatang buas.
Belum ada tanggal yang pasti secara absolut perihal kapan pastinya terbentuk situs megalitik tersebut.
Tetapi, dalam kerangka prasejarah, bangunan megalitikum berada di antara abad 2500 sampai 500 sebelum masehi.
Menurut penelitian dari Belanda, gelombang masuknya kebudayaan megalitikum di Nusantara ini dibawa oleh orang-orang Austronesia.
Salah satu tanda ada kebudayaan megalitikum di Indonesia adalah adanya bangunan besar yang ada di Lampung Barat ini, yaitu Menhir dan Dolmen.
Gelombang kebudayaan berikutnya ditandai dengan adanya pembuatan bangunan bilik-bilik batu dan peti batu.