Gunung Merapi Meletus Pada Sabtu Malam, Ahli: Akan Sering Terjadi Letusan, Namun Tidak Berbahaya

Gunung Merapi yang sebelumnya erupsi pada Jumat (27/3/2020), meletus kembali pada Sabtu malam dengan mengeluarkan asap panas setinggi 3.000 meter.


zoom-inlihat foto
gunung-merapi-erupsi.jpg
Twitter/BPPTKG
Ilustrasu Gunung Merapi erupsi selama 7 menit pada Jumat (27/3/2020)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gunung Merapi dikabarkan meletus kembali pada Sabtu (28/3/2020) pukul 19.25 WIB dengan ketinggian kolom abu mencapai 3.000 meter.

Para ahli pun menanggapi letupan awan panas yang keluar dari gunung api tersebut dengan mengatakan kalau kemungkinan besar letusan Gunung Merapi akan sering terjadi.

Berdasarkan rilis yang disampaikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencaan Geologi, letusan Gunung Merapi berlangsung selama 4 menit 3 detik.

Ketinggian kolom abu erupsi Gunung Merapi diketahui mencapai 3.000 meter diatas puncak atau sekitar 5.968 meter di atas permukaan laut.

Baca: BREAKING NEWS: Gunung Merapi Erupsi, Asap Tebal Kembali Muncul Siang Ini

Ahli Vulkanologi Surono mengatakan sejak erupsi terakhir tahun 2010 berakhir, karakter Gunung Merapi akan berubah.

Biasanya, letusan yang dikeluarkan oleh gunung tersebut akan diakhiri dengan pembentukan kubah lava yang nantinya akan terjadi guguran kubah.

Selanjutnya, pasti akan diikuti oleh awan panas guguran dan ini namanya letusan tipe Merapi.

"Sebab, di mana pun gunung merapi berada, kalau ada sumbatan lava, lalu sumbatan itu gugur dan terjadi awan panas guguran, maka itu disebut dengan Erupsi Tipe Merapi," terang pakar bernama Mbah Rono saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/2020).

Ia pun menjelaskan kalau erupsi pada 2010, terjadi eksplosit besar-besaran pada Gunung Merapi.

Dengan letusan tipe Merapi yang terjadi pada saat itu, isi kantong magma gunung tersebut telah berkurang akibat letusan besar yang terjadi pada 2010.

Baca: Jika Covid-19 Masih Mewabah hingga Lebaran, Muhammadiyah Akan Tiadakan Tarawih dan Salat Idul Fitri

"Maka Gunung Merapi memerlukan waktu untuk pengisian ulang (energi), dan di akhir letusan pada 2020, tidak terjadi penyumbatan lava, sehingga sistem letusan dari Merapi ini relatif terbuka," sambungnya.

Hal itu mengidentifikasikan bahwa sistem letusan yang relatif terbuka saat ini membuat pembentukan kubah lava relatif rapuh, sehingga Gunung Merapi tidak mampun menghimpun energi yang besar.

"Paling (letusan) seperti yang terjadi pada 28 Maret kemarin, dengan kolom abu setinggi 5.000 meter di atas permukaan laut, kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil," ungkap Surono.

Surono kemudian menjelaskan kalau karakter yang berubah dari Gunung Merapi tidak hanya letusannya saja, tetapi juga tanda-tanda aktivitas vulkaniknya.

"Saya berharap, selama sistem (letusan) ini tidak berubah, maka letusan-letusan seperti (yang terjadi 28 Maret) ini akan sering terjadi," papar mantan Kepala PVMBG ini

Gunung Merapi Berada pada Level II

Saat ini, status Gunung Merapi dinyatakan berada di Level II atau waspada.

"Status ini bukan untuk meramalkan seberapa besar letusan dari gunung api tersebut. Tetapi agar masyarakat tahu bahwa aktivitas gunung api seperti itu dan menjelaskan resikonya," jelas Mbah Rono.

Walaupun begitu, ia juga menegaskan kalau sejauh ini karakter Gunung Merapi belum banyak berubah.

Kubah lava gunung tersebut masih rapuh, sehingga kata dia, tidak seperti Gunung Merapi jelang erupsi 2010, maupun di tahun-tahun sebelumnya.











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved