2 Pekan Garap Pesanan 800 APD, Penjahit Disabilitas di Sleman Tetap Jaga Jarak dan Diawasi Dokter

Koperasi Simpan Pinjam Bank Difabel Kabupaten Sleman mendapatkan pesanan 800 APD dari RS PKU Muhammadiyah. Pengerjaan diawasi langsung oleh pihak RS.


zoom-inlihat foto
disabilitas-difabel-abk-yogyakarta-apd-corona.jpg
KOMPAS/ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Iswanto (43) penjahit difabel menyelesaikan pembuatan pakaian hazmat di Desa Tonggalan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (26/3/2020). Pembuatan pakaian hazmat atau perlengkapan dari Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis pesanan salah satu rumah sakit di Yogyakarta tersebut sudah sesuai dengan standart keamanan Gugus Tugas Penanggulangan COVID-19.


Menurut Ismanto,  karena pakaian khusus ini merupakan alat pelindung diri, maka pembuatannya harus sesuai standar rumah sakit.

Termasuk pemilihan bahan, Ismanto juga mendapatkan pengarahan agar sesuai dengan standar dari rumah sakit.

Tak hanya itu pihak rumah sakit juga telah memberikan contoh APD sebagai acuan Ismanto dan rekan disabilitas lainnya mengerjakan pesanan.

Selain itu, proses pengerjaannya juga diawasi oleh dokter dari RS PKU Muhammadiyah.

"Kita dipantau dalam proses pembuatannya. Jadi ini sudah sesuai dengan standar mereka," jelas Ismanto.

Baca: Saran Dewan Guru Besar FKUI untuk Pemerintah, Lakukan Local Lockdown Daerah Terjangkit Covid-19

Selama proses pengerjaan, lanjutnya, penjahit atau pemotong bahan juga harus menggunakan masker.

Selain itu, posisi duduk masing-masing penjahit harus ada jarak.

"Kalau kesulitan tidak ada, hanya harus sangat hati-hati karena bahannya tipis. Ini pakaian khusus yang untuk sekali pakai," urai Ismanto.

Dijelaskannya, sebanyak 800 pakaian khusus APD ini ditargetkan selesai dalam waktu dua minggu.

Rata-rata satu orang dalam sehari bisa mengerjakan enam sampai tujuh pakaian khusus.

Tim medis menggunakan APD lengkap saat menunjukan ruang isolasi pasien corona di RSU dr Slamet Garut, beberap waktu lalu
Tim medis menggunakan APD lengkap saat menunjukan ruang isolasi pasien corona di RSU dr Slamet Garut, beberap waktu lalu (KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANG)

"Selesai langsung kita kirim, selesai kirim agar bisa langsung digunakan. Karena kondisinya kan mendesak seperti ini dan APD ini sangat dibutuhkan," ujar Ismanto.

Saat ini, lanjutnya, pihaknya masih fokus untuk menyelesaikan pesanan 800 pakaian khusus APD ini.

Sehingga belum memiliki keinginan akan memproduksi APD sendiri untuk diperjualbelikan oleh koperasi.

"Sudah ada yang pesan sebenarnya, tapi kami fokus ini dulu. Kalau sudah selesai baru kita bisa menerima pesanan lagi, atau memproduksi lebih banyak," kata Ismanto lagi.

Virus corona sebagai pandemi global

Sebelumnya, virus corona telah resmi dinyatakan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Status tersebut berarti virus corona telah menjadi masalah global, termasuk Indonesia.

Saat ini China telah berhasil mengendalikan wabah di negara tersebut.

Namun beberapa negara seperti Italia dan Amerika Serikat justru menjadi pusat pandemi.





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved